Hari ini, entah bagaimana, aku merasa tenang duduk berdua bersama Bapak. “Andai saja Bapak tahu kalau Sumirah lebih menginginkan kebahagiaan untuk Bapak dan Emak.” bisikku pada diriku sendiri. Tapi ternyata, Bapak mendengarnya. Bapak terkesiap dan memandangku lekat. Sejurus kemudian, Bapak tersenyum. “Nak, suatu saat nanti kau akan menjadi perempuan dewasa. Perempuan cantik yang mandiri, baik hati, dan memiliki pekerjaan yang baik.. Kemudian beberapa saat setelahnya kau akan menemukan laki-laki kesayanganmu dan hidup bahagia di rumah impianmu, Mirah. Dan masing-masing dari kalian akan hidup rukun dan sejahtera, seperti yang selama ini Bapak dan Emak harapkan selama ini.” Suara sendu Bapak membuat suasana sore ini menjadi lebih berat. “Nggak. Mirah nggak mau. Mirah ingin terus bersama

