“Aku akan pergi ke Hongkong suatu saat nanti, Sis..” ucapku tegas. Kami sedang berbincang tentang betapa enaknya nasi kuning buatan Emak yang baru saja kami makan saat makan pagi tadi. Wasis sedang duduk di kamar tidur, sedangkan aku sedang berdiri di dekat jendela untuk menikmati angin sore. “Memang disana Mbak Mirah kerja apa?” tanya Wasis. Sebenarnya aku tak ingin menjawab pertanyaan ini karena aku juga tak tahu apa yang akan kulakukan disana. Bekerja apa, tinggal dimana dan dengan siapa.. “Kerja apa saja.. yang penting pulang dapat uang yang banyak.” ucapku berusaha memastikan Wasis tak bertanya hal ini lagi. Ia memang suka mengahncurkan suasana hatiku. Heran! “Kenapa tidak bergabung dengan Bapak dan Emak saja di pabrik?” tanya Wasis. Aku menoleh ke Wasis untuk memastikan perkataan

