“Tolong, berhentilah. Sakit! Kumohon berhentilah!” teriakku pada Changmi. Ia tetap memukuliku dengan tongkat baseball miliknya. Ia hanya tersenyum. Ia akan menggerakkan tongkat baseball itu lagi padaku. Aku sudah berulang kali berusaha menghindar, tapi lagi-lagi kecepatan tangannya dil luar rata-rata. Aku terpaksa harus merasakan kesakitan di lengan kiriku. “Diam, Mairah! Atau kau akan merasakan sakit lebih banyak lagi!” Mungkin kalau ia bisa memanggil namaku dengan sedikit lebih baik, aku akan sedikit memaafkannya. Sudah berulang kali juga aku mengajarinya cara memanggil namaku, tapi seolah tak mendengar penjelasanku, ia tetap memanggilku dengan nama itu. Aku tak tahu apa yang merasukinya. Namun kalau aku harus merasakan sakit itu lagi, sepertinya kedua lenganku tak akan sanggup. Aku

