Hari ini Bella akan bertemu salah satu klien yang bekerja sebagai seorang agen perumahan kecil. Wanita itu bertubuh kecil dengan jumpsuit motif polkadot dan heels belasan senti. Rambutnya yang pirang sebahu digerai. Usianya masih 27 tahun. Wanita itu ramah dan Bella cukup menyukainya. Dia juga tampak tidak neko-neko dan merespons baik rekomendasi gaun dari Bella.
“Bagus sekali rancanganmu, gaun pengiring yang berwarna ungu itu juga lucu. Aku suka.” komentar wanita itu ramah.
“Terima kasih.” balas Bella seraya tersenyum manis.
“Oke, siapkan saja gaunku dan gaun para pengiring itu ya. Dan aku suka konsep pernikahan yang kamu tawarkan. Sangat indah dan menawan juga elegan. Tapi, sayangnya aku harus segera pergi ada orang yang mau membeli rumah. Aku akan ke toko bridalmu lusa ya.”
“Oke, tidak masalah. Terima kasih.”
“Ya,” wanita itu lenyap dari pintu keluar kafe.
Bella menyesap caffelattenya. Selama menjadi perencana pernikahan kebanyakan klien yang Bella layani selalu banyak maunya. Terkadang konsep pernikahan, gaun pengantin dan gaun pengiring pengantin sudah jadi tapi dengan tiba-tiba si klien meminta ganti dengan alasan sepele apalagi kalau waktu pernikahan sudah sangat dekat. Di saat itulah semua orang di toko bridal sederhana itu stres berat. Mereka bekerja dengan deadline hingga lembur tengah malam.
Bella selalu berurusan dengan gaun pengantin tapi dia belum pernah mencoba gaun pengantin manapun. Dia menyukai gaun-gaun hasil rancangannya tapi tak pernah terpikirkan olehnya akan mengenakan salah satu gaun rancangannya. Yang dipikirannya hanyalah Grish dan bekerja keras untuk anak itu. Demi masa depan putranya. Grish adalah semangat Bella untuk bangkit. Bahkan Bella tak pernah memikirkan untuk kembali menjalin hubungan dengan seorang pria. Dia hanya fokus pada Grish. Apa yang Noah lakukan padanya sangat membekas. Luka itu masih menganga. Masih basah.
Bella teringat akan perkataan Carry.
“Tapi aku melihat kau menyimpan sesuatu, Bella. Kau hanya mementingkan keegoisanmu. Kau membenci Noah dan kau ingin Grish tidak mengenali ayahnya sama sekali. Sebagai balasan atas apa yang Noah lakukan, benar?”
“Itu hanya retorikamu saja, Carry.”
Bella menggeleng.
Dia teringat saat Emma datang dan mengiming-ngimingi masa depan yang indah untuk Grish. Kenapa tidak Noah sendiri yang datang ke rumah Bella? Mungkinkah manajer itu datang memang karena keinginannya sendiri agar Noah terselamatkan dari skandal tentang dirinya dan Grish seperti yang dikatakan Emma kalau dia datang karena keinginannya sendiri.
“Bella,” sebuah suara hangat menyapanya.
Bella tidak langsung mendongak untuk melihat suara pria yang dikenalnya itu. Suara yang masih tetap saja hangat sekaligus berat dan seksi. Suara yang hanya dimiliki seorang pria yang pernah hidup di masa lalunya. Pria yang saat ini membuat jantung Bella kembali mencelus dengan kemunculannya yang secara tiba-tiba.
Bella menelna salivanya. Dia membersihkan berkas-berkas di atas meja memasukkan ke tas dan dengan tergesa bangkit dan pergi tanpa mau menoleh pada pemilik suara itu. Tapi, pria itu menahan Bella dengan mencengkeram pergelangan tangan Bella.
Hening yang menegangkan untuk beberapa saat.
“Aku ingin berbicara denganmu.” kata pria itu dengan suara tenang namun siapa pun bisa meraba sesuatu di dalam nada suaranya semacam sebuah kerinduan.
Bella masih terdiam. Dia enggan menoleh dna enggan mengatakan satu patah kata pun. Agaknya apa yang dilakukan Noah padanya dan Grish memang tidak layak untuk dima’afkan.
“Lihat aku, Bell.” pinta Noah.
Mata Bella mulai berkaca-kaca dan dia berkali-kali mendongak agar air matanya tidak segera merembes di pipinya.
“Bella,” suara itu kembali menggumamkan nama Bella tapi Bella masih keukeuh untuk tidak menoleh dan tidak mengatakan apa pun.
“Aku ingin bertemu dengan putraku.” pinta Noah lagi seperti suara seorang ayah yang sudah lama tidak bertemu anaknya.
Bella akhirnya menoleh. Menatap mata biru yang redup itu.
“Aku mohon jangan menghindari dariku, Bell. Aku ingin bertemu putraku.”
Bella melepaskan pergelangan tangannya yang digenggam Noah kemudia dia melangkah cepat meninggalkan Noah. Noah hendak menyusulnya tapi rasa-rasanya percuma. Kalau Bella tidak mengizinkannya bertemu dengan Grish pasti ada cara lain yang bisa mempertemukannya dengan Grish tanpa seizin Bella.
***
Pertemuannya kembali dengan Noah menyisakan luka dan perih. Tapi entah bagaimana Bella masih saja merasakan debaran itu. Debaran yang seakan menyatakan bahwa masih ada perasaan di sana. Perasaan itu tertidur dan tertutupi oleh kebencian. Perasaan yang selama ini membelenggu hidupnya. Perasaan yang membuatnya tak pernah mencari tahu tentang Noah di internet.
Saat ini jelas semua berbeda. Noah adalah calon suami dari Lizzy. Dan Bella tetap bersama kepedihannya. Dia tidak meminta lebih, dia hanya ingin Noah pergi jauh dari hidupnya dan menjalani kehidupan tanpa kegalauan yang teramat menyiksa hatinya bersama Grish.
“Tidak seharusnya kau menghindari Noah.” Carry berkomentar saat Bella menceritakan pertemuannya dengan Noah.
“Rasanya sakit melihatnya.”
Carry memutar bola mata jengah. “Ya, aku paham perasaanmu, Bella. Tapi, Noah ingin bertemu dengan anaknya. Kau mantan kekasihnya dan Grish itu putranya. Dia ingin bertemu Grish karena instingnya sebagai ayah.” Carry diam sejenak. “Kau masih belum mema’afkan Noah?” Carry memiringkan kepala.
Bella menggeleng. “Kau tahu bagaimana perjuanganku kan saat itu. Saat aku tidak punya uang sama sekali. Kuliahku berantakan dan hanya kau yang menolongku.”
“Itu bukan alasan untuk memisahkan Noah dengan Grish, Bell.”
“Aku tidak ingin Grish tahu soal ayahnya—“
“Tapi dia berhak tahu kalau ayahnya seorang aktor hebat. Bayangkan betapa bangganya dia memiliki ayah yang terkenal seantreo London.” sela Carry. Lalu tiba-tiba Carry menyesali perkataannya yang terlalu berapi-api. “Ma’af. Aku hanya ingin Grish mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya.”
Carry mengatakannya dengan tulus. Dia berkata seperti itu karena dia memang menyayangi Grish. Dia ingat ketika Grish masih balita, Carry sering menggendong dan bermain dengan Grish meskipun sekarang dia tampak cuek pada Grish tapi bukan berarti dia tidak menyukai Grish.
“Carry,” Fiona membuka pintu dengan binar cerah. “Aku ijin ada urusan ya. Nanti aku kembali ke kantor.”
Carry tidak langsung mengiayakan. Sebelah alisnya terangkat ke atas. “Kau mau kemana?” tanyanya curiga.
“Emmm— ada urusan sebentar saja. Ya, bye!” Fiona buru-buru menutup pintu tanpa mau mendengar perkataan Carry.
“Mencurigakan,” gumam Carry pada Bella. “Kau tahu, Bell, di kantor ini semua karyawan tidak menghargaiku. Apalagi Fiona itu. Aku belum mengijinkannya tapi dia sudah lenyap begitu saja.”
Bella hanya mengangkat bahu dengan senyum kecilnya.
***