The Perfect Man Is My Dad! - 12

1276 Kata
            Beberapa saat setelah kepergian Shawn, Carry mendekati meja Bella. Bella tampak sibuk dengan layar ponselnya.             Bella mendongak ke atas. “Ada apa?”             “Masuk ke ruanganku.” kata Carry dengan gaya angkuh kemudian meninggalkan Bella.             Fiona memandang Carry dan Bella secara bergantian.             “Akhir-akhir ini kalian seperti menyembunyikan sesuatu dariku.” kata Fiona sedih karena lebih banyak tidak tahu daripada tahu.             “Tidak ada yang kami sembunyikan.”             “Bohong. Soal Noah, Cuma Carry yang tahu.”             “Fiona, dengarkan aku. Aku dan Carry itu berteman saat kuliah dulu. Otomatis dia juga tahu banyak hal tentangku.”             “Tapi kan aku ingin tahu tentang Noah dan kau, Bella. Apa Noah mantan kekasihmu?”             Bella menggeleng dengan ekspresi menundukan wajah enggan menjawab.             “Sudahlah, Bell, jangan dengarkan Fiona.” celetuk Hugh di sebelah. ***             Emma mengangkat kacamatanya di atas kepala. Dia menatap Lizzy yang gelisah. Emma tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk menyelamatkan hubungan Noah dan Lizzy. Tapi dia yakin hubungan mereka masih tetap bisa bersama kalau Bella sudah memiliki suami atau kekasih sehingga mematahkan Noah untuk kembali dekat dengan Bella. Emma juga yakin kekeraskepalaan Bella juga akan membuat Noah menyerah.             “Aku ingin bertemu dengan Bella.” kata Lizzy.             “Untuk apa?” tanya Emma agak takut mengingat Lizzy yang terkadang akan melakukan apa pun demi mendapatkan sesuatu.             “Dia membuat Noah berubah, Emma. Aku harus memperingatkannya.”             “Noah berubah dengan sendirinya bukan karena Bella, Lizzy.”             Mata Lizzy menatap tajam Emma. Dia adalah wanita yang tidak ingin dibantah apa pun argumennya meskipun apa yang dikatakannya salah.             “Jelas Bella yang membuat Noah berubah.”             Ekspresi Emma yang tampak lelah menjelaskan bahwa dia tidak ingin berdebat dengan Lizzy. Dia ingin memberitahu Lizzy tentang Grish tapi dia urung. Grish bisa saja dalam bahaya kalau Lizzy tahu tentangnya dan yang jelas, yang merubah Noah bukan Bella tapi sesuatu lain. Dan sesuatu itu adalah Grish—putranya.             “Salah seorang karyawan toko bridal sialan itu bilang Bella memiliki anak yang sangat mirip dengan Noah. Tapi aku tidak yakin kalau dia anak Noah.”             “Bagaimana kau tidak yakin kalau anak itu sangat mirip Noah?” pertanyaan Emma menuai ekspresi tajam Lizzy.             “Kau tahu tentang anak itu?” tanya Lizzy dengan dahi mengernyit tebal.             Emma menggeleng. “Aku hanya bertanya padamu, Lizzy.”             “Lalu apa rencanamu sekarang?” tanya Emma.             “Menemui Bella. Aku akan ke toko bridal sialan itu.” ***             Bella tak pernah menyangka dia akan memiliki seorang anak di luar nikah. Tak pernah ada dalam daftar keinginannya bahkan dalam daftar hampir semua wanita bukan? Tapi dia sudah melakukan kesalahan yang pada akhirnya dia sendiri yang menanggung kesalahan itu.             “Mana Grish?” tanya Nenek Claire yang datang dengan tiba-tiba bersama kucing kesayangannya Justin.             Bella mendongak menatap wanita tua itu dengan tupperware di sebelah tangannya. “Ada di kamarnya.”             Nenek Claire diikuti Justin menuju kamar Grish. Di sana, Nenek melihat Grish sedang menggambar sesuatu.             “Grish,” panggilnya lembut.               Grish mendongak. “Nenek,” Grish langsung menutup buku gambarnya.             “Kau sedang apa, Sayang?” Nenek Claire membelai kepala Grish lembut.             “Menggambar, Nek.” jawab Grish.             “Nenek membawakanmu kue buatan Nenek.” Nenek Claire menyodorkan tupperware pada Grish yang disambut binar cerah wajah anak itu.             “Terima kasih, Nek.”                          “Malam ini Nenek ingin mengajakmu pergi ke luar untuk sekadar jalan-jalan, apa kau mau?”             Grish terdiam sesaat. Jalan-jalan adalah salah satu aktivitas kesukaannya. Tapi, Grish bingung. Ada kemungkinan Bella tidak mengijinkannya.             “Tidak.” jawab Bella saat Nenek Claire meminta ijin padanya.             Justin yang digendong Grish dapat merasakan kekecewaan Grish. Dia mendongak dan menjilati wajah Grish singkat.             “Aku hanya ingin mengajaknya pergi ke luar.” Nenek Claire masih keukeuh.             “Ini sudah malam, Nek.”             “Masih pukul delapan, Bella.” Nenek Claire menatap tajam Bella. Dia tidak ingin kalah dari wanita muda ini. “Lagian aku dan Grish hanya berjalan-jalan tidak jauh dari sini. Kau percaya aku kan?”             Bella tidak bisa menolak saat Nenek Claire dengan santai menarik bahu Grish menuju pintu keluar.             Bella hanya bisa menatap mereka tanpa mau mencegahnya. Dia tahu Nenek Claire sebenarnya orang yang baik. Dia sangat baik pada Grish. Dan jauh di lubuk hati Bella dia selalu percaya pada Nenek Claire. ***             Noah menarik anakan rambut Bella yang mencoba menutupi pandangan mata Noah dari wajah Bella. Mereka duduk di taman kampus berbaur dengan mahasiswa lainnya. Ada yang sibuk dengan laptopnya, ada yang tiduran sambil ngobrol, ada yang berpacaran, ada yang fokus pada layar ponselnya. Noah memperhatikan Bella yang sedang membaca buku. Sebuah buku dari seorang penyair besar Inggris.             “Lihat ke sini dong, Bell.” pinta Noah masih terus menatap wajah Bella.             Bella menoleh dengan polosnya dia berkata, “Apa?”             “Aku hanya ingin kau menyempatkan menatap mataku sebelum kau sibuk dengan duniamu sendiri.” mata biru cerah itu tersenyum nakal.             “Kau yang sibuk dengan duniamu, Noah. Kita baru bertemu lagi setelah dua minggu lebih kau disibukan dengan aktivitas barumu.”             Noah terbahak.                                                                 “Meskipun aku sibuk tapi kau tetap yang aku ingat di mana pun aku berada, Bell.” Perkataan itu meluncur begitu saja dengan dan sangat tulus terdengar di telinga Bella.             Bella menghela napas. Menghirup udara sejuk taman. “Tapi, entah bagaimana aku merasa kau mulai memiliki dunia baru yang berbeda dengan duniaku, Noah. Aku rasa kita seperti—“             Jari telunjuk Noah menempel di tengah bibir Bella. “Jangan berkata begitu. Aku dan kau tetap seperti kita yang apa adanya. Bagaimana pun diriku dan bagaimana pun dirimu, Bell. Aku hanya berusaha untuk mencapi impianku. Lalu setelah aku memiliki semuanya nanti aku akan memperkenalkanmu pada dunia bahwa aku memiliki seorang kekasih yang luar biasa dan menakjubkan.”             Satu hal yang akan sulit dilupakan Bella dan Bella menyadari itu sejak dia mencintai Noah yaitu, perkataan dan perlakuan Noah kepadanya. Noah memujanya seakan Bella adalah satu-satunya wanita yang ada di Bumi. Memperlakukannya seakan Bella adalah seorang Ratu di negeri itu. Dan tentu saja bagi wanita manapun apa yang dilakukan Noah sangat dan teramat sulit untuk dilupakan begitu saja.             “Kau selalu berkata berlebihan padaku, Noah.”             Noah tersenyum. “Aku hanya berkata apa adanya.” Noah menarik tangan Bella ke dadanya. “Selama ada kau di sini, aku tidak akan bisa berpaling pada wanita lainnya.”             Bella terkekeh.             “Ayolah, Bell, aku serius.”             “Kalau aku tidak percaya denganmu, tidak mungkin aku masih bersamamu sampai detik ini.”             Noah menarik Bella ke pelukannya. ***             Esok paginya sepeti biasa setelah mengantar Grish ke sekolah Bella berangkat kerja ke toko bridalnya. Blazzer berwarna hitam dan rambut muncir kudanya serta setelan celana bahan warna hitam membuat Bella tampak sangat elegan.             “Selamat pagi, Bell.” Sapa Fiona dengan wajah berbinar cerah. Hari ini dia tidak mengenakan celak hitam di bawah matanya sehingga tampak aneh di mata Bella.             “Celak hitamnya tidak dipakai, Fi?” tanya Bella memperhatikan mata Fiona.             “Oh, aku sengaja soalnya itu selalu tampak menyeramkan kalau dipakai terlalu tebal.”             “Perubahan yang bagus.”             “Ya, dong!”             “Carry sudah datang?”             “Iya, tumben sepagi ini dia sudah stay di ruangannya.”             “Oke,” Bella berjalan menuju ruangan Carry.             Setelah Bella melesat pergi ke ruangan Carry, Fiona menoleh pada Hugh di mana meja mereka tidak memiliki sekat apa pun.             “Hugh, aku merasa ada yang aneh dengan Bella, Carry dan Noah.” ujarnya muram dan sedih karena tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya antara Bella dan Noah.             “Itu hanya perasaanmu saja.” jawab Hugh menatap fokus layar komputernya.             “Kau belum datang ke kantor saat Noah dan tunangannya datang.”             “Lalu?” Hugh menelengkan kepala ke arah Fiona.             “Ya, kau tidak akan penasaran karena kau tidak tahu apa yang terjadi, Hugh.” Kata Fiona seakan Hugh telah melewati berita penting dalam sejarah kehidupan Bella.             “Apa pun yang terjadi aku tidak akan penasaran pada kehidupan orang lain, Fiona.” Kalimat itu mengandung unsur sindiran. Tapi, bukan Fiona namanya kalau dia peka terhadap sindiran-sindiran Hugh.             Fiona menyilangkan kedua tangan di atas perut. “Aku terluka.”             “Apa?” Hugh refleks menoleh kembali pada Fiona.             “Aku terluka karena Noah seperti penasaran pada Bella dibandingkan aku. Padahal aku kan sangat mengaguminya, Hugh. Tapi, aku tahu cinta tak bisa dipaksa. Toh, Noah juga akan menikah dengan wanita lain kan bukan dengan Bella.”             Hugh hanya menggeleng-gelengkan kepala sebagai responsnya terhadap perkataan Fiona. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN