The Perfect Man Is My Dad! - 11

1112 Kata
            “Jadi di sini tempat tinggalmu bersama putramu itu?” mata Emma menyapu keseluruhan sudut rumah Bella. Tas hermesnya mengkilap. Kacamatanya ditaruh di atas kepalanya.             Bella menyilangkan tangan di atas perut dengan ekspresi dinginnya. “Darimana Anda tahu alamat saya?” tanyanya dengan nada tajam.             “Saya bisa melacak alamat siapa pun, Bell.” Emma tersenyum elegan sekaligus sinis. “Perlu kamu ketahui kalau saya ke sini bukan disuruh Noah. Saya hanya ingin mengenalmu sebagai mantan kekasih Noah tentunya.”             “Saya tidak ingin berurusan dengan Noah atau siapa pun. Silakan Anda pergi dari sini.” pinta Bella dengan nada angkuh. Dia mengangkat kepalanya sedikit.             “Bella—lihat betapa angkuhnya dirimu. Kau tahu, Noah bisa membelikan apa pun yang Grish inginkan. Tempat tinggal yang nyaman dan mewah, mainan dari seluruh dunia, pendidikan yang bagus—“             “Maksud Anda?” Bella bertanya tidak mengerti.             “Noah menginginkan putranya.” Emma mengatakannya seakan berkata kalau Noah menginginkan seluruh hidupnya. Ya, Grish adalah keseluruhan hidup Bella.             “Dia ingin bertemu putranya, Bell. Tapi kudengar kau tidak akan membolehkan Noah bertemu dengan Grish. Benarkah?”             “Pergi dari rumah saya sekarang juga.” pinta Bella dengan nada dan tatapan mata tajam. “Grish adalah anak saya. Dan saya tidak akan pernah mengijinkan siapa pun mengambilnya.”             “Termasuk ayahnya?” Emma masih dengan ketenangannya. Meskipun tidak bisa dipungkiri kalau dia juga kasihan melihat Grish yang hidup dengan sangat apa adanya. Rumah kecil reot dengan perabotan murahan.             “Bayangkan, Bell, Grish akan sangat bahagia hidup dengan ayahnya. Dia akan punya ibu yang sangat sayang padanya. Dia hidup dalam kemewahan. Kau bisa mengunjunginya kalau merindukan anak itu. Aku hanya tidak tega putra seorang aktor kenamaan harus hidup serba pas-pasan.”             “Saya masih sanggup membiayai Grish. Saya masih bisa memenuhi kebutuhan Grish.”             “Tapi, Bella, Grish akan lebih bahagia—“             “SILAKAN ANDA PERGI DARI SINI!”             “Oke, kalau kau mau begitu, aku akan pergi. Tolong pikirkan penawaranku.” Emma meninggalkan Bella dengan langkahnya yang anggun.             Bella menutup pintu keras. menyandarkan punggungnya di pintu dan menangis.                                                                         ***                     “Aku hamil.” Bella membelai perutnya yang agak sedikit membesar. Dia menatap Noah. Ini bukan hanya memalukan tapi juga membunuh nama keluarganya di Indonesia kalau mereka tahu putrinya hamil di luar nikah dengan seorang pria yang tidak bisa menikahi putrinya.             “Kau harus menikahiku, Noah.” pinta Bella dengan tatapan memohon dan mata berkaca-kaca.             Noah menggeleng. “Aku tidak bisa menikahimu sekarang, Bella. Tapi, aku janji aku akan menikah denganmu setelah karirku mulai naik.”             Kali ini Bella yang menggeleng. Dia menyipitkan mata menatap kekasihnya itu. Buliran-buliran bening itu akhirnya jatuh. “Kau bilang aku akan menjadi ibu dari anak-anakmu dan selepas kuliah kau akan menikahiku kan?” Bella mencoba membuat Noah mengingat perkataannya saat pertama kali mereka menghabiskan malam bersama di flat Bella.             “Iya, tapi... bukan sekarang waktunya. Mengertilah, Bell.”             “Kau yang tidak mengerti aku!” mata Bella berkilauan menyakitkan. “Bagaimana nanti dengan anak ini, Noah? Kapan kau menikahiku? Menunggu anak ini lahir?!”             “Bella,” Noah mencoba menenangkan Bella dengan memeluknya. Sayangnya, Bella langsung menghindar dengan menangkis lengan Noah.             “Oke, kalau itu yang kau mau. Jangan pernah hubungi aku lagi. Anak ini akan aku besarkan seorang diri. Terima kasih karena kau lebih memilih karir sialanmu itu!” Bella meninggalkan Noah dengan air mata yang bercucuran.             “Bella!” Noah hendak mengejar Bella. Dia hanya ingin Bella bersabar. Dia pasti akan menikahi Bella tapi Noah mendadak teringat perkataan Emma untuk tidak menikah selama masa kontrak film.             Dan disinilah Noah meratapi kesalahan dan penyesalannya. Dia duduk di sofa menatap hampa dinding. Jadi yang memberatinya selama ini adalah kesalahan masa lalu. Kesalahan yang menyakiti Bella dan anaknya.             Noah masih mengenakan piyamanya saat Lizzy datang.                     “Kau sedang apa? Hari ini kita harus fitting gaun dan jas pengantin, Noah. Aku sudah menghubungi desainer ternama London untuk merancang gaunku. Ayo, mandi sekarang!” Lizzy menyilangkan kedua tangannya di atas perut.             Noah bangkit dan menatap tunangannya itu dengan tatapan seolah Lizzy adalah seorang pengganggu. “Aku sudah bilang pernikahan kita harus diundur.”             Mata Lizzy membelalak. “Kau sinting kalau pernikahan kita diundur.”             “Ya, aku memang sinting, Lizzy.” sahut Noah yang menuai amarah Lizzy.             “Kau tidak bisa seenaknya seperti itu? Karirmu ada di tanganku, Noah, ingat itu!”             “Lizzy sampai kapan kau berpura-pura tidak sadar? Aku tak pernah menginginkan hubungan ini, pernikahan ini atau apa pun. Yang mulai untuk berkomitmen siapa? Kau! Aku tak pernah meminta apa pun, kau sendiri yang memberikan semuanya padaku. Dan soal karir, terserah kau. Aku tidak membutuhkan karir lagi. Aku bisa hidup baik-baik saja tanpa menyandang statusku sebagai seorang aktor.” Noah masuk ke kamarnya dan membanting pintu dengan teramat keras. ***             “Apa yang kaulakukan di sini, Shawn?” esok paginya saat Bella datang ke kantor, dia melihat Shawn dengan kemeja dan jas hitam formalnya berada di toko bridalnya. Di ruangan Carry dengan ditemani secangkir kopi panas.             “Menemuimu.” jawab Shawn ringan.             Tatapan Bella beralih dari Shawn ke Carry untuk meminta jawaban atas kedatangan  Shawn yang tiba-tiba di kantornya, namun Carry hanya mengangkat bahu.             “Untuk apa?” tanya Bella lagi.             “Aku hanya ingin bertemu denganmu apa salah?” Shawn menjawab dengan riang.             “Mantanmu ini memang benar-benar sinting.” komentar Carry.             “Tidak akan lebih sinting dari ini kalau Bella tidak menemuiku.” Shawn menatap Carry.             Ponsel Shawn berdering, tertera nama di layar. My Sweetest Woman.             “Istriku,” gumam Shawn mengangkat teleponnya.             “Halo, ya, oke!” lalu Shawn mematikan ponsel. “Dia memintaku untuk ke sekolah anak-anak. Salah satu anakku membuat keributan di sekolah. Aku akan sering mampir ke sini ya.”             Tidak ada yang menanggapi. Carry dan Bella hanya menatap Shawn.             “Apa tidak boleh?” tanya Shawn tidak mengerti.             “Shawn, istri dan anak-anakmu lebih membutuhkanmu.” kata Bella bijak.             “Betul.” sahut Carry menyetujui.             “Aku di sini hanya ingin memastikan kalau putra Bella juga mendapat haknya untuk memiliki seorang ayah.”             “Hah?” mata Carry membelalak terkejut. “Jadi maksudmu, kau mau menjadi ayah Grish?”             “Darimana kau tahu tentang putraku?!” amarah Bella membuncah. Dia paling tidak suka orang asing tahu dan mengomentari apa pun soal Grish.             “Aku tahu semuanya, Bell.” jawab Shawn serius.             Bella menggelengkan kepala dan meninggalkan ruangan Carry.             “Hei, jadi kau mau menjadi ayah Grish?”             “Ya, kalau Grish membutuhkan aku.” Shawn masih sama seperti yang dulu menjawab dengan ceplas-ceplos tanpa memikirkan akibatnya. Ya, kalau Shawn single tidak akan ada masalah tapi kan status pria itu jelas bukan single lagi. Dan lagi, Luna adalah tipikal wanita yang tidak akan mema’afkan kesalahan yang menyangkut pengkhianatan.             “Heiii, bagaimana dengan istrimu?” Carry terbelalak tak percaya atas keinginan Shawn menjadi ayah Grish.             “Aku hanya menjadi ayah Grish bukan suami Bella. Istriku tidak akan keberatan soal itu. Tapi kalau harus menikahi Bella, itu pasti akan jadi masalah.” Shawn tersenyum lebar.             “Oke, mau taruhan padaku kalau istrimu tahu Bella adalah mantan kekasihmu dia akan murka, Shawn.” Ekspresi wajah Carry kini mirip Nenek Sihir.                                                                         ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN