Carry menelengkan kepalanya untuk menghindari tatapan mata Noah. “Bella sudah keluar dari sini. Dia resign dari bulan kemarin sebenarnya tapi—“ Carry garuk-garuk rambut super pendeknya dengan posisi tidak nyaman. “masih punya kontrak kerja jadi kemarin itu terakhir dia—kerja.” Carry mengernyit heran sendiri dengan perkataannya.
Mata biru cerah Noah menatap tidak yakin teman kuliah sekaligus atasan Bella ini.
“Jangan berbohong, Carry. Ayolah, aku ingin bertemu Bella dan—“ ada sendu di mata biru Noah. “Anakku.”
Refleks, Carry menoleh pada Noah. Noah membawa-bawa Grish.
Kali ini Carry menggaruk-garuk lehernya sambil memiringkan kepala untuk kembali menghindari tatapan mata Noah. Kenapa berbicara dengan Noah jadi gugup begini padahal dulu dia malah ingin menemui Noah dan meminta tanggung jawabnya pada Bella dan Grish.
“Carry, aku minta alamat rumah Bella.” pinta Noah.
“Haha, yang benar saja. Aku tidak punya alamat rumah Bella. Sungguh!” dustanya untuk kesekian kali.
“Aku mohon, Carry. Setelah kau memberitahu alamat rumah Bella aku akan memperkenalkan toko bridalmu di akun media sosialku. Aku mohon aku ingin bertemu Bella.”
Biasanya Carry akan langsung mengiyakan iklan gartis semacam ini apalagi dari aktor terkenal.
“Nooooahhh!” mata Carry mencilak ngeri. “Bukannya aku tidak mau tapi ini kemauan Bella.” kata Carry dengan nada tinggi bertambah satu oktaf.
Carry menghela napas. Dia tidak bisa berbohong lama-lama. Dalam hati Carry menyumpah serapah dirinya sendiri.
“Kau—“ dia menunjuk Noah tajam. “Seharusnya kau tidak usah menemui Bella lagi. Bella sudah bahagia dengan Grish. Tapi Grish memang butuh ayah—eh,” Carry menutup mulutnya. Kenapa dia jadi suka keceplosan begini?
“Aku minta alamat Bella sekarang, Carry.” Noah tampak jengah dengan Carry.
Carry menggeleng. “Ayolah, kau akan menikah dengan Lizzy, kalau kau menemui Bella dia akan kembali terluka. Tujuh tahun lho dia hidup seorang diri membesarkan Grish. AKU JADI SAKSI BETAPA SENGSARANYA BELLA MELAHIRKAN GRISH SEORANG DIRI!” Carry tidak bisa menahan perasaan emosionalnya.
Perkataan tajam Carry seakan melemparkan bongkahan batu berton-ton di dalam d**a Noah. Dia tidak pernah bermaksud meninggalkan Bella. Bella yang meninggalkannya. Dia hanya belum bisa menikahi Bella saat itu.
“Sekarang pikirkan saja si Lizzy dan karirmu itu. Kau meninggalkan Bella karena karir kan?” tanya Carry sinis.
“Bukan, Carry. Aku tidak meninggalkan Bella tapi Bella yang meninggalkanku.” pembelaan Noah.
“Oh ya? Lalu kenapa kau tidak mencari Bella? Kau tahu kan dia sedang mengandung putramu.”
“Carry, tolong, aku hanya ingin menemui Bella aku ingin minta ma’af padanya.”
“Aku tidak bisa membantu banyak, Noah. Ma’af.” Carry terpaku pada permintaan Bella untuk tidak memberitahu Noah soal apa pun.
“Apa Bella pernah pulang ke Indonesia?” tanya Noah mengingat betapa menyedihkannya Grish yang tidak tahu nenek, kakeknya bahkan termasuk orang tua Noah.
Carry menggeleng. “Bella akan sangat malu kalau dia pulang membawa seorang anak tanpa ayah.”
***
Yang Grish pikirkan sekarang ini adalah bagaimana cara menggambar sosok seorang ayah di kertas gambarnya. Grish memandang gambar milik teman sebangkunya—Jeff. Gambar Jeff lengkap ada semua gambar Jeff di tengah ibu dan ayah. Ada kakek dan nenek juga di sana. Grish memperhatikan gambar Jeff dengan penasaran.
Kakek dan nenek? Dia hanya mengenal Nenek Claire.
“Kenapa kau tidak menggambar Grish?” tanya Jeff, anak kecil teman sebangku Grish yang memiliki rambut merah dan wajah putih pucatnya dipenuhi bintik-bintik merah.
“Di rumah hanya ada aku dan Mom. Ada Nenek Claire yang tinggal di sebelah rumahku.”
“Emmm, jadi kau hanya menggambar dirimu dan Mommymu?”
Grish mengangguk. “Tapi aku ingin menggambar Nenek Claire.”
Jeff menggeleng. “Ibu guru bilang kita hanya boleh menggambar orang-orang yang tinggal di rumah.”
“Aku ingin menggambar Dad, Jeff.” kata Grish sendu. Matanya tampak sayu mengingat dia—bahkan tidak tahu wajah ayahnya sendiri.
“Ya, gambar saja.” ujar Jeff enteng.
“Tapi aku tidak pernah melihat Dad. Mommy bilang Dad bekerja di Mars untuk Bumi. Dad tidak tinggal di rumah.” Grish menunduk menatap gambar dirinya dan Bella dengan ekspresi yang menyedihkan.
“Bayangkan wajah seseorang yang kamu kagumi, Grish. Lalu gambar wajah orang itu. Anggap dia Dad.” Ide Jeff dengan mata berbinar cerah.
Grish membayangkan wajah seroang pria dewasa. Dia hanya mengingat Hugh—rekan kerja ibunya di toko bridal. Lalu kemudian bayangan wajahnya menuju sosok yang berada dalam mobil saat Grish dengan tidak sengaja menumpahkan es krim di atas kap mobilnya.
“Ya, aku tahu siapa orangnya.” Gris menelengkan kepalanya menatap Jeff.
“Bagus, Grish. Ayo kita mulai menggambar lagi.”
Grish dan Jeff kembali menggambar dengan fokus di kertas gambar masing-masing.
Grish memang tidak mengerti apa yang terjadi pada ayahnya sehingga dia memiliki pekerjaan yang hebat. Bekerja di Mars untuk Bumi—terdengar sangat hebat bagi anak usia 7 tahun. Jeff pun menganggumi pekerjaan ayah Grish. Jeff mengira ayah Grish semacam astronot.
“Aku percaya Dad nanti akan pulang, Jeff.” Grish kembali bersemangat dan ceria saat gambarnya selesai.
“Jangan lupa untuk mengundangku ke rumah ya saat ayahmu pulang nanti.” pinta Jeff dengan ekspresi gembira seorang anak kecil yang penasaran dengan dunia luar angkasa dan planet-planet di luar Bumi.
“Pasti!” seru Grish semangat.
Arash tersenyum sinis melihat Grish yang yakin kalau ayahnya pulang. “Hei, Mommyku bilang kau tidak punya ayah, Grish.”
Grish menatap tajam Arash. “Aku punya ayah, Arash.” katanya dengan ekspresi marah khas anak kecil.
“Oh ya? Mana Grish? Mana ayahmu? Mommyku bilang kau lahir tanpa ayah. Ayahmu tidak mengakuimu, Grish.” Arash terbahak.
“AYAHKU BEKERJA DI MARS UNTUK BUMI!” kata Grish dengan nada tinggi yang sukses membungkam seisi kelas dan membuat hening untuk beberapa saat.
Grish tidak pernah semenyeramkan ini. Dia anak manis yang menyenangkan tapi Arash memang keterlaluan.
“Mommyku bilang tidak ada manusia yang bekerja di Mars, Grish.” lalu dia terbahak seolah-olah sedang melihat lelucon terlucu yang pernah dilihatnya.
Napas Grish memburu, Jeff yang melihat Grish mengepalkan tangannya mencoba menenangkan Grish. “Jangan dengarkan Arash, Grish, dia hanya iri padamu. Ayo duduklah.”
“Arash,” seorang gadis kecil manis berambut cokelat dengan poni di bawah alisnya menoleh pada Grish. “Ayah Grish adalah orang hebat. Mommyku bilang,” dia kembali menatap Arash. “ayah Grish adalah seorang pahlawan dengan bersedia bekerja di Mars untuk Bumi.” Angel tersenyum pada Grish sebagai rasa bangga dan pembelaannya untuk Grish.
“Ayahmu hebat, Grish. Aku yakin dia akan pulang dan membawa oleh-oleh dari Mars untukmu.”
Wajah Arash merah padam.
“Aku tahu itu, Angel. Terima kasih. Nanti kalau ayahku pulang aku akan mengajak Jeff dan kau untuk datang ke rumah.”
“Asyik!” seru Angel dan Jeff secara bersamaan.
***