Setelah mendapat telepon dari Lizzy yang memerintahnya mencari tahu soal Bella dan tidak segan-segan untuk segera menyingkirkan Bella karena dianggap akan merusak hubungannya dengan Noah, Emma segera saja mencari tahu Bella. Dan ya, persis seperti yang diduganya kalau Bella adalah mantan kekasih Noah yang hamil itu. Tujuh tahun lalu.
Sebuah pesan yang datang dari Noah membuat kepala Emma pening seketika.
Aku ingin pernikahanku dengan Lizzy diundur.
Tanpa membalas pesan itu, Emma bergegas menemui Noah di flat mewah Noah. Dia harus membicarakan masalah ini. Emma hanya tidak habis pikir bagaimana nanti kalau Lizzy menerima pesan dari Noah. Pernikahan diundur bahkan terancam batal hanya karena masa lalu yang belum tuntas.
Emma duduk dengan perasaan cemas tak keruan. Dia mengangkat kacamatanya di atas kepala menatap Noah dengan tatapan yang seperti seorang ibu yang kebingungan menghadapi sikap nakal putranya.
“Bella mantan kekasihku dan—“ mata Noah berkaca-kaca membayangkan wajah Grish kecil di pelupuk matanya. “Ada anak kecil yang sangat mirip denganku. Namanya Grish. Dia anak Bella dan aku.”
“Apa Bella mengatakannya secara langsung kalau Grish putramu?” Emma mencoba bertanya setenang mungkin. Di saat emosional seperti ini kesalahan dalam penyampaian kalimat akan berbeda dengan apa yang dicerna Noah. Jadi, Emma harus berhati-hati.
“Tidak. Tapi aku tahu anak itu pasti putraku, Emma. Aku melihatnya sekali dan—“ kosa kata Noah lenyap karena kebenaran kalau Noah merasakan sesuatu yang seakan dekat dengan anak itu. Sesuatu yang membuatnya ingin kembali bertemu anak itu. Lagi dan lagi.
“Noah, kalau Bella belum mengatakan bahwa dia putramu, ada kemungkinan kalau dia bukan putramu kan?”
Noah menatap tajam Emma. “Aku yakin dia putraku, Emma.” Katanya dengan nada rendah yang tegas.
Emma mengangguk. “Bagaimana kalau kau membicarakan soal ini pada Bella. Maksudku, beritahu dia kalau kau akan menikah dengan Lizzy dan kau mau bertanggung jawab atas Grish. Membiaya kehidupan Grish.”
Noah menelan salivanya. “Kau mau aku tetap melanjutkan pernikahan dengan Lizzy?”
Emma mengangguk. “Ini bukan hanya soal Lizzy, tapi juga karirmu, Noah.”
“Persetan dengan karirku. Aku ingin menemui putraku dan aku tidak peduli soal Lizzy, karir atau pernikahan. Aku ingin putraku! Aku sudah mendapatkan semua yang aku impikan sewaktu kuliah dan sekarang aku ingin mendapatkan putraku. Dia harus hidup dengan kelayakan yang seharusnya.”
Emma menarik napas perlahan. Rasanya dia butuh obat penenang. “Oke, jadi tujuanmu sekarang mendapatkan Grish kan bukan kembali mendapatkan Bella?”
Noah terdiam.
“Kita harus melakukan tes DNA agar aku yakin kalau Grish adalah putramu.”
“Aku tidak butuh keyakinanmu.” kata Noah tajam.
“Aku hanya ingin yang terbaik untukmu, Noah.”
“Kau hanya ingin yang terbaik untuk dirimu sendiri, Emma. Aku akan datang ke toko bridal itu dan menemui Bella. Aku akan membawa Grish ke rumah orang tuaku dan mengatakan kalau aku sudah memiliki anak.”
“Kau tidak pernah membawa Lizzy ke rumah orang tuamu bahkan saat kalian tunangan kau tidak membawa orang tuamu.”
“Karena aku tidak menginginkan pertunangan dan pernikahan dengan Lizzy. Itu semua keinginan Lizzy yang disetujui olehmu.” Noah bangkit dari sofa dan masuk ke kamarnya.
Emma memutar bola mata lelah. “Kalau memang harus begini, aku harus menyadarkan Lizzy untuk mau menerima kehadiran Grish. Ya, meskipun aku tahu Noah juga masih menginginkan ibu dari anak itu. Bella, bagaimana rupa wajahmu sehingga Noah sulit melupakanmu dan hidup dalam hubungan percintaan yang hanya dibangun Lizzy?”
***
Waktu itu ketiga kalinya Noah memasuki flat Bella. Di luar hujan cukup deras mengguyur Kota London. Bella dan Noah sudah menjalin hubungan tiga bulan lamanya dan sejauh ini mereka hanya melakukan french kiss. Namun berbeda pada malam ini, malam dimana kedinginan tubuh Noah hanya memerlukan sebuah pelukan hangat dari Bella.
Mereka saling menatap satu sama lain untuk sekian lama sebelum tangan Noah menyingkirkan anakan rambut Bella dari wajah Bella. “Kau lebih dari cantik, Bella.” Puji Noah yang menuai senyuman malu-malu dari Bella.
Seumur hidup Noah hanya Bella yang mampu memikatnya dalam pandangan pertama tanpa pakaian terbuka, tanpa polesan make up, tanpa menjadi menonjol di antara lainnya. Pertemuan pertama di kantin itu berhasil membuat Noah jatuh hati dalam waktu singkat. Dan dari temannyalah yang menjadi tetangga flat Bella akhirnya Noah berhasil berkenalan dengan Bella.
“Kemarilah,” Noah menuntun Bella melihat hujan lewat jendela flat.
“Aku ingin memelukmu dari belakang.” Pinta Noah memeluk Bella dari belakang. Semakin erat pelukan itu semakin besar pula hasrat Noah pada Bella.
Bibir Noah berbisik nakal di telinga Bella. “Aku menginginkanmu malam ini.”
Bella ingin menolaknya karena dia masih memegang budaya orang timur. Namun, dia memiliki hasrat sama besarnya seperti hasratnya Noah padanya.
“Aku tidak pernah seyakin ini pada seorang perempuan.” ucap Noah ketika hidungnya menciumi aroma lembut di leher Bella.
“Aku juga tidak pernah seyakin ini pada seorang pria.” balas Bella menggeliat perlahan menikmati sentuhan hidung mancung Noah yang mulai menusuk-nusuk tengkuk wajahnya.
“Kau akan menjadi ibu dari anak-anakku, Bella. Selepas kuliah nanti, aku ingin menikah denganmu.”
“Kau harus memiliki pekerjaan terlebih dahulu sebelum menikahiku, ibuku tidak akan mneyetujui memiliki menantu pengangguran.” canda Bella yang menuai gigitan lembut bibir Noah di dagu Bella.
***
Apa yang mereka lakukan yang tidak diingat Bella?
Tidak ada.
Semua yang mereka lakukan selalu diingat oleh Bella. Bahkan ciuman pertama mereka yang terburu-buru sebelum jam kuliah dimulai masih jelas terekam di otak Bella. Semuanya masih tampak begitu nyata di benak Bella. Dia juga masih ingat tubuh Noah yang gagah dengan bulu-bulu halus yang menghiasi d**a pria itu.
Semua memang sudah usai. Tapi kenangan-kenangan tentang Noah tidak lenyap begitu saja. Apalagi hubungan mereka telah menghadirkan anak kecil tampan yang menggemaskan. Bella teringat akan kejadian kemarin di mana Noah memanggil namanya...
Untuk apa dia mengejar dan menungguku di depan pintu ruangan Carry?
Untuk apa?
Pertanyaan itu masih menggelayuti pikiran Bella. Bukankah semua sudah usai? Tidak ada hubungan apa pun antara Noah dan Grish setelah Noah mengabaikannya begitu saja. Bella sudah memutuskan hubungan antara anak dan ayah itu tanpa menyadari bahwa tidak ada mantan seorang ayah atau mantan seorang anak.
“Mom!” Grish berseru sembari mendekati ibunya sepulang sekolah dan mengganti baju. “Mom tidak ke kantor?” tanya Grish menatap heran ibunya. “Mom sakit?” tanyanya khawatir. “Aku berniat ke rumah Nenek Claire, Mom, tapi kalau Mom sakit aku akan tetap di sini menemani Mommy.”
“Emmm—“ Bella hanya ingin menenangkan diri di rumah dan berpikir bagaimana harus bersikap ketika kembali bertemu Noah. ‘Mom hanya ingin istirahat hari ini, Sayang.” Dia membelai sebelah pipi Grish dengan lembut.
“Bolehkah Grish main ke rumah Nenek Claire?”
“Ya, boleh.”
“Oke!” Grish berlari ke luar rumah.
Sebenarnya Bella berniat mengajak pergi Grish ke museum atau taman Hyde Park tapi berhubung kenangan tentang Noah masih menyusupi dirinya dan merasa sedikit kebingungan Bella memilih tetap diam di rumah.
Tujuh tahun berlalu dan dia belum bisa melupakan Noah?
Ponselnya berdering. Nama yang tertera di layar—Carry.
“Halo,” sahut Bella.
“Bell, ada Noah di kantor. Bagaimana ini?”
Bella merasa jantungnya jatuh begitu saja kala Carry menyebut nama mantan kekasihnya itu ada di tempat kerjanya.
***