Lizzy hanya menatap heran Noah dan pintu secara bergantian. Dia menerka-nerka...
“Noah, kita perlu bicara.” kata Lizzy menarik pergelangan Noah. Dia ingin segera pergi dari toko bridal yang membuatnya waswas. Dia takut kalau perancang gaun itu adalah seseorang yang pernah hadir di hati Noah.
“Aku mengenal Bella dan aku ingin berbicara dengannya.” Noah berkata setegas dan sedingin mungkin pada Lizzy berharap calon istrinya itu ngambek dan pergi meninggalkannya. Tapi, Lizzy masih di situ. Dia masih menatap Noah dengan tatapan seroang wanita egois yang sedang menahan emosi.
Ketika tangan Noah menyampai tangkai pintu, Carry datang dengan keheranan. Fiona dan Samantha berada di belakang Noah dan Lizzy. “Ada apa ini?” tanya Carry menyingkirkan Fiona dan Samantha.
“No-ah?” gumam Carry dengan mata terbelalak. Tas prada asli yang diberikan mantan kekasihnya nyaris jatuh kalau Carry tidak segera menyadarkan diri dari keterkejutannya. Sepagi ini ada mereka.
“Carry?”
“Kalian saling mengenal?” Lizzy menatap Carry dan Noah secara bergantian.
“Ya, tentu saja aku mengenal Noah.” Jawab Carry dengan senyum sinisnya. “Oh, astaga...” Carry teringat mobil Bella dan...
“Apakah Bella ada di dalam?” tanya Carry pada Fiona.
Fiona mengangguk mantap sambil berpikir mungkinkah Bella dan Noah pernah menjalin affair? Tapi dia mencoba menahan pertanyaan yang bisa-bisa membuat keadaan makin tegang dan runyam.
Carry merapikan rambut super pendeknya sambil berbisik pada Samantha.
“Carry aku ingin bertemu dengan Bella.” kata Noah dengan tatapan memohon.
“Emmm—“ Carry tampak kikuk dia menggerak-gerakkan kakinya yang ditangkap mata Fiona yang artinya—Carry sedang bingung.
“Tunggu!” Lizzy tampak emosi. Dia merasa diabaikan Noah. “Darimana kalian saling mengenal? Dan kenapa kau begitu ingin bertemu Bella sedangkan kau melihatnya dia bahkan enggan keluar dari ruangan itu?” Lizzy menatap angker Noah.
***
Bella memeluk Carry setelah Carry masuk ke dalam ruangannya. “Sudah, Bell, mereka sudah pulang. Aku menyuruh mereka pulang dan sepertinya Lizzy sudah tidak berminat lagi dengan gaunmu.”
Bella melepaskan pelukannya. Di saat pria yang pernah sangat dia cintai muncul di hadapannya bersama calon istrinya—melupakan dirinya dan Grish, seakan kembali menghancurkan hidupnya. Salah satu alasan Bella tak main sosial media ataupun menonton infotainment adalah agar dirinya tidak melihat Noah. Bella ingin mematikan Noah di kehidupan nyatanya dan biarlah Grish tetap bersamanya tanpa Noah. Toh, pria itu bahkan tak pernah mencari dirinya.
“Ini membuat aku syok,” Bella memijit batang hidungnya.
Carry mengambil segelas air dan memberikannya pada Bella. “Minum ini.”
“Terima kasih.” Bella menengguk habis segelas air yang disodorkan Carry. “Aku tidak tahu kenapa tapi rasanya aku—“
“Trauma, Bella.” Carry mengangguk. “Noah mengingatkanmu pada masa kesusahanmu saat kamu harus berdiri seorang diri melahirkan dan membesarkan Grish. Intinya, kau belum mema’afkan Noah. Dan mungkin... kau belum melupakan Noah.” kalimat terakhir itu terdengar ngilu di telinga Bella.
“Coba selama tujuh tahun ini, aku belum pernah melihatmu berkencan dengan seorang pria mana pun. Jangan samakan kau dengan Fiona karena jelas para pria takut mendekati Fiona dengan penampilan tak keruannya itu.” Carry menggeleng membayangkan pria-pria yang memilih melajang daripada harus hidup bersama Fiona.
“Aku hanya ingin fokus pada Grish. Aku ingin membahagiakannya.” Bella mendongak menatap Carry.
Carry membungkuk menatap fokus wajah Bella. “Tapi aku melihat kau menyimpan sesuatu, Bella. Kau hanya mementingkan keegoisanmu. Kau membenci Noah dan kau ingin Grish tidak mengenali ayahnya sama sekali. Sebagai balasan atas apa yang Noah lakukan, benar?”
Bella terdiam beberapa saat. Benarkah apa yang dikatakan Carry tentang dirinya. Dendam? Kebencian? Atau cinta yang masih ada di dalam dasar hati Bella?
“Itu hanya retorikamu saja, Carry.” elak Bella. Berdiri dan meninggalkan Carry yang tersenyum sinis.
“Itu fakta.” gumam Carry menikmati kembali secangkir teh hangat yang dibuatkan Samantha saat Bella berjalan menuju pintu.
Ketika membuka pintu Bella dikejutkan oleh sosok Fiona yang selalu memakai celak hitam di bawah matanya. Rambutnya dikuncir acak-acakkan. “Halooo!”
“Kau sedang apa?” tanya Bella sambil menutup pintu.
Fiona tersenyum dengan senyum aneh. “Aku hanya penasaran soal Noah yang tadi mengejarmu itu, lho. Apa Noah ayah Grish?” mata seram Fiona mencilak.
Bella menggeleng dan meninggalkan Fiona yang masih dipenuhi tanda tanya tapi dia meyakini kalau ada yang tidak beres antara Noah dan Bella. Kemiripan Grish dan Noah tidak bisa dianggap kebetulan semata setelah melihat dengan jelas ekspresi Noah saat melihat Bella.
“Bella, bolehkah aku yang menjemput Grish hari ini?” Fiona berlari menyusul Bella.
“Aku bisa menjemputnya sendiri.”
“Oh, ayolah, kau akan bertemu beberapa klien sepanjang siang sampai sore mungkin.” Fiona sempat melihat jadwal Bella.
“Kau tahu darimana?”
“Aku kan mata-mata.”
***
Noah meminta Lizzy untuk pulang. Dia masih terbayang pertemuannya kembali dengan Bella setelah 7 tahun lamanya. Setelah semua terjadi begitu saja, setelah beberapa lama dia melupakan Bella. Ini pertemuan yang seketika merubah hidup Noah. Juga mungkin merubah takdir nasibnya.
“Aku tidak mau pulang!” Lizzy menatap tajam tunangannya.
“Aku ingin sendiri dulu.” Noah masih mengendalikan diri.
“Aku tidak akan pulang sebelum kau menceritakan siapa Bella itu?” tuntut Lizzy sambil melipat kedua tangan di atas perut.
“Kau mau tahu Bella siapa?”
“Ya!” sahut Lizzy dengan mata mencilak tajam.
“Oke, dia mantan kekasihku.” jawab Noah sembari memejamkan mata hingga kalimat itu selesai.
“Mantan kekasihmu?” Lizzy menyipitkan mata seakan meyakinkan diri dengan mengulangi jawaban Noah.
“Lalu kenapa kau—“ sebelum kalimat itu selesai, Noah menutup pintu kamarnya dengan keras hingga Lizzy terloncat ke belakang saking terkejutnya.
Dengan kesal dia menelpon Emma.
Andai saja dia tahu kalau gaun itu dibuat oleh tangan Bella, Lizzy tidak akan mau berusah payah seperti ini hanya untuk sebuah gaun murah. Yang Jelas, Noah sudah mulai berani padanya. Noah sudah mulai secara terang-terangan kalau dia masih mengharapkan Bella dengan bersikap demikian pada Lizzy yang jelas-jelas tunangannya.
***
Shawn baru saja mendapatkan alamat kerja Bella. Di sebuah toko bridal—ruko kecil—di pingiran Kota London. Shawn tersenyum puas karena hasil kerja Kai memang patut diacungi jempol.
“Ayolah, Shawn, untuk apa kau masih ingin tahu kehidupan Bella?” Kai tampak merasa bersalah terutama pada Luna. Bagaimana kalau Luna tahu dan dia jadi penyebab kehancuran awal rumah tangga Luna dan Shawn? Kai tertekan batin.
“Aku hanya ingin menemui dia dan menemui anaknya. Aku ingin tahu siapa ayah dari anak Bella.”
“Shawn, demi Tuhan itu bukan urusanmu. Urusanmu itu Luna dan anak-anak. Biarlah Bella dengan kehidupannya sendiri.” Rasanya Kai ingin mencekik leher Shawn.
“Aku hanya ingin memastikan kalau kehidupan Bella baik-baik saja.” shawn berkata seringan kapas.
Kai masih dengan kekesalannya sendiri. “Aku tidak ingin berurusan lagi dengan Bella. Aku tidak mau kau menyuruhku yang macam-macam lagi. Kalau dulu masih okelah karena kau juga belum berkeluarga tapi sekarang aku tidak ingin Luna—“
“Luna tidak akan mempermasalahkan ini, Kai.”
Kai terdiam sejenak sebelum sebuah tanya meluncur dari kedua daun bibirnya. “Luna tahu soal ini?” tanyanya.
Shawn menggeleng.
“Lalu kenapa kau bilang Luna tidak akan mempemasalahkannya?”
“Selama Luna tidak tahu dia tidak akan mempemasalahkannya kan?” Shawn nyengir.
“Astaga...” Kai menepuk jidatnya keras.
***