Lizzy sudah mencoba semua gaun pengantin yang dibawakan Samantha dan ternyata memang dia lebih cocok dengan gaun pertama yang ditunjuknya saat pertama kali datang ke toko bridal ini. Samantha tampak lelah dan ingin sekali menggigit biskuitnya. Noah seperti biasa, dia hanya bilang ‘ya’ atau ‘tidak’ saat ditanyai pendapat oleh Lizzy.
Fiona masih menatap Noah dengan terpukau. Setiap gerakan tubuh pria itu membuatnya semakin ingin mendekat pada Noah. Fiona yang teringat akan permen cokelatnya langsung mengambil permen itu di laci meja kerjanya dan diberikan kepada Noah.
“Ini salah satu permen kesukaan Grish. Anak kecil yang mirip denganmu itu, lho.” Fiona berkata dengan mata berekdip-kedip aneh.
Lizzy yang melihat kecentilan Fiona menatapnya tajam seraya bertanya, “Anak kecil yang mana?”
“Grish.” jawab Fiona matanya berbinar cerah. “Anak kecil yang ibunya desainer di sini itu, lho. Yang gaunnya kamu sukai.”
Dahi Lizy mengernyit. “Dia sudah punya anak?”
Fiona mengangguk cepat, dia kembali berpaling pada wajah tampan Noah. “Ini permennya.”
Noah meraih permen itu. “Terima kasih.”
“Apa desainernya sudah ibu-ibu?” Lizzy kembali memberi pertanyaan yang membuat Noah makin penasaran dengan perancang gaun itu.
Perancang gaun yang disukai Lizzy memiliki anak yang bernama Grish. Dan anak kecil yang ditemui Noah itu sangat mirip dengannya. Grish memiliki mata biru cerah, hidung mancung dan alis yang tebal. Persis seperti Noah. Bahkan bentuk wajah oval anak itu pun sama seperti Noah.
“Oh, tidak. Dia masih muda. Cantik, pintar, menyenangkan dan ya begitulah.” Fiona seakan malas meladeni pertanyaan Lizzy.
“Dia sampai ke sini jam berapa?” kali ini Noah yang bertanya. Dia ingin melihat ibu yang memiliki anak yang begitu mirip dengannya. Mungkinkah dia Bella? Mantan kekasihnya itu?
“Emmm, sekitar lima menit lagi. Soalnya dia mengantarkan anaknya dulu ke sekolah.”
“Aku pernah melihat anak itu.”
“Oh yeah?!” tanya Fiona girang.
Noah mengangguk. “Dia memang sangat mirip denganku.”
Lizzy memandang Noah lamar-lamat. Dia memperhatikan ekspresi kekasihnya itu. Seorang anak begitu mirip dengan Noah?
Bayangan wajah Grish muncul di pelupuk mata Noah. Wajah itu memang mirip dengannya tapi juga mengingatkannya pada Bella. Dalam sekejap kerinduannya akan Bella kembali merekah. Dia teringat wajah cantik Bella yang entah bagaimana selalu berhasil membiusnya. Saat menjalin hubungan dengan Bella, Noah tak pernah bisa melirik wanita lain. Baginya Bella adalah wanita yang terlalu sempurna sehingga tidak ada yang layak menjadi pesaing Bella.
Semua berubah kala dirinya sedang memulai karir. Tawaran-tawaran datang silih berganti dan ada tawaran yang sudah disetujuinya yaitu tidak menikah selama tiga tahun karena dia dikontrak sebagai ambasador sebuah brand fashion ternama. Bella mengatakan dirinya sedang mengandung dan mau bagaimana lagi, Noah belum bisa menikahinya. Lalu Bella menghilang. Noah perlahan melupakan Bella namun setelah dia mereguk kesuksesan karirnya ada sesuatu yang mengganjal. Tentang Bella dan anak yang dikandungnya.
“Semirip apa?” tanya Lizzy dengan nada tegang yang dapat dengan jelas didengar Noah.
“Ya, begitulah.” jawab Fiona tak terlalu fokus pada pertanyaan Lizzy.
“Kau pernah bertemu dengannya, Noah?” Lizzy mengalihkan tatapannya pada Noah.
“Ya, waktu kamu masuk ke dalam toko bridal ini.”
Samantha melihat Bella masuk dengan gerakan ringan. Wanita itu membawa beberapa buku yang diisi desain gaun-gaun yang digambarnya. Samantha belum sempat mencegah Bella saat Fiona dengan suara cemprengnya memanggil Bella.
“Bella.... ada tamu di sini.”
Bella menoleh pada ruang tunggu dan melihat Noah dan kekasihnya.
Noah sangat terkejut dengan pertemuan ini. Matanya menatap satu titik fokus—Bella. Otaknya lumpuh seketika.
Dan Bella merasa jantungnya mencelus. Dia terdiam beberapa saat tanpa berkata apa pun layaknya patung. Wajah Noah menyesakan dadanya kala mengingat masa-masa kebersamaan mereka.
“Bella...” gumam Noah setelah tersadar dari kelumpuhan otaknya.
***
Saat itu salju pertama di London turun.
Noah melihat seorang wanita yang memiliki kulit khas wanita Asia agak kuning cerah. Iris matanya hitam. Rambutnya dikuncir kuda. Dia mengenakan mantel berwarna cokelat. Melangkah memasuki area kantin kampus.
Pertama kalinya Noah melihat wanita itu yang dengan wajahnya mengingatkannya pada kecantikan klasik Audrey Hepburn. Langkahnya anggun meskipun agak terburu. Dia membeli sandwich dan salad. Melahapnya sendirian. Saat itu Noah sedang bersama teman-temannya.
“Hei, kau memperhatikan dia terus nih.” Gerutu salah seorang temannya.
“Dia persis seperti aktris favorit ibuku. Audrey Hepburn.” kata Noah yang sontak membuat teman-temannya tertawa.
“Dia tetangga flatku tahu.” Celetuk seorang teman Noah berambut pirang bernama Ken.
“Benarkah?” tanya Noah dengan wajah berbinar.
Dan dari sanalah semua dimulai. Pria berambut pirang itu mempersilakan Noah menginap di flatnya berhari-hari. Noah dan Bella sering menghabiskan waktu bersama hingga mereka lupa bahwa apa yang mereka lakukan akan berdampak pada masa depan mereka.
***
Pertemuan itu membuat keduanya tak bisa menepis kenangan-kenangan yang berloncatan di sana. Kenangan yang ada di taman Hyde Park saat Noah untuk pertama kalinya melukis wajah Bella di bawah pohon maple yang daunnya berguguran.
Bella yang tidak tahu harus bagaimana hanya berpura-pura tidak mengenal Noah sedang pria itu terus memperhatikannya tanpa sepatah katapun meluncur dari kedua daun bibir tipisnya.
“Oh, ini perancang gaun pengantin itu.” sapa Lizzy menghampiri Bella.
Perancang gaun itu Bella?
Bella menatap kilat Noah yang masih menatapnya.
“Ya, ini dia. Perancang gaun istimewa.” seru Fiona.
“Dia ibu dari anak yang sangat mirip denganmu, Noah.” bisik Fiona.
Grish.
Putraku.
Mata biru itu menatap Fiona yang tersenyum dan mengangkat dua jempolnya. “Dia orang Asia lho. Cantik ya.”
Noah tersenyum kaku karena bibirnya masih sulit digerakkan. Dia kembali fokus pada Bella. Wanita yang menghilang begitu saja setelah mengatakan dirinya mengandung anak Noah dan Noah berkata belum bisa menikahi Bella bukan karena dia tak mencintai Bella tapi karena kontrak sialan itu. Dan kini takdir mempertemukannya lagi dengan wanita yang masih belum bisa dilupakannya meskipun ada seratus wanita yang berusaha mengambil hatinya.
Noah tidak bisa menahan kendalinya saat Bella mengatakan sesuatu pada Lizzy dan memilih masuk ke ruangan Carry. Noah tahu Bella hanya menghindarinya. Dia ingin tahu apakah Grish memang anaknya? Kemiripan dia dan Grish tidak bisa diabaikan begitu saja.
Grish.
Noah melangkah menyusul Bella yang sadar akan langkah Noah dan segera menutup pintu ruangan Carry. Lizzy dan Fiona menatap mereka dengan kebekuan yang sama.
“Lho, kenapa mereka?” tanya Fiona heran sendiri sambil bertolak pinggang.
Lizzy yang masih membeku sesegera mungkin menyusul Noah yang berdiri di depan pintu ruangan Carry. “Ada apa? Kau mengenalnya?” tanya Lizzy dengan getar samar di kedua daun bibirnya.
Noah menarik napas perlahan. Oke, dia tidak peduli akan bagaimana nanti reaksi Lizzy tapi saat ini takdir mempertemukannya kembali dengan Bella yang terlihat jelas mencoba menghindari Noah. Entah karena benci atau apa tapi Noah tetap ingin melihat Bella, berkomunikasi dengannya dan menanyakan soal anak mereka. Anak? Grish?
“Bella...” kata Noah mengetuk pintu ruangan Carry.