“Grish itu butuh figur seorang ayah.” Nenek Claire berkata dengan sinisnya pada Bella saat dia menyajikan makanan yang dibawanya dari rumah untuk sarapan Grish dan bekal anak tampan yang menggemaskan itu di sekolah.
Bella yang baru saja bersiap mengantarkan Grish menunduk dengan ketidakmengertiannya akan kebawelan Nenek Claire. Bella tahu Nenek Claire tinggal sendirian dan entah kemana putra-putrinya tapi bukan berarti dia seenaknya mencampuri kehidupan Bella dan Grish. Atau mungkin itulah penyebab Nenek itu ditinggal anak-anaknya. Selalu ikut campur.
“Mom bilang, Dad bekerja untuk Bumi di Mars, Nek. Jadi, Grish tidak butuh figur seorang ayah seperti yang dikatakan Nenek.” Grish tersenyum dengan jenaka.
Nenek Claire menatap Grish penuh kasih sayang. Dia tersenyum dan membelai kepala Grish dengan lembut. “Anak pintar.” pujinya.
“Aku selalu bilang padamu, Bella, aku ada di sini untuk Grish. Kapanpun kalau kau butuh bantuanku untuk mengurus putramu aku siap.” Nenek Claire berjalan menuju pintu keluar namun saat berpapasan dengan Bella dia menatap wanita muda yang mengenakan kaus putih dan rok jeans selutut itu.
“Cepat suruh pulang ayah Grish yang ada di Mars.” katanya sinis. “Kau terlalu kejam mengatakan hal semacam itu pada anak sekecil Grish. Kau tahu bagaimana orang dewasa akan mengelak jawaban Grish saat ditanya tentang ayahnya dan itu pasti akan membuat Grish semakin sedih.” lalu Nenek Claire pergi tanpa memikirkan perasaan Bella yang sangat dan teramat bersalah pada Grish karena kebohongan yang dibuatnya sendiri.
***
Samantha membiarkan remahan biskuit menghiasi sudut-sudut bibirnya saat melihat Lizzy dan aktor yang dikagumi Fiona. “Noooo-ah?” dia menunjuk Noah dengan gemetar.
Lizzy yang tidak suka melihat setiap wanita menatap kekasihnya dengan tatapan kagum seperti itu langsung menurunkan telunjuk Samantha dan menarik tangan Noah begitu saja memasuki toko bridal.
“Dimana Carry?” tanya Lizzy tanpa basa-basi pada Fiona yang masih mengenakan headset sembari memejamkan mata.
Noah memperhatikan kantor sekaligus toko itu. minimalis, modern dan cantik. Itu kesan yang ditangkap Noah kala mata biru cerahnya menyapu keseluruhan tempat itu. Tidak mewah namun terkesan klasik dan sangat menyenangkan dengan ruangan semungil ini yang diinterior dengan sangat rapi.
“Halo!” Lizzy mulai tak terkontrol.
“Huaaa!” Fiona kaget dan melepaskan headsetnya dengan gerakan terguncang. “Kau—eh, Lizzy.”
“Dimana Carry?” tanya Lizzy melipat kedua tangan di atas perut.
Saat mata Fiona bertatapan dengan mata Noah dia membeku. Idolanya ada di tempat kerjanya sepagi ini. Hugh, Carry dan Bella belum datang ke kantor.
“NOOOOOAAAAHHH!” pekiknya girang hingga Lizzy menutup kedua telinganya dengan tangan.
“Astaga... aku melihat... kamu... si... Noah... aku—“ Lizzy langsung membungkan mulut Fiona dengan tangannya.
“Aku tanya dimana Carry?”
Bola mata Fiona bergerak dari kanan ke kiri. Dia bergumam tidak jelas karena mulutnya ditutup Carry.
“Aku ada urusan dengan Bosmu itu.” kata Carry melepaskan tangannya dari mulut Fiona. Lipstik gelap Fiona menempel di telapak tangan Lizzy dan dia meringis jijik.
“Carry belum datang.” jawabnya dengan mata tertuju pada Noah.
“Noah mengangguk dan tersenyum. “Astaga... senyumnya...”
“Kalian bisa menunggu di sana.” Samantha lebih tenang dan lebih cepat kembali ke sikap aslinya yang tenang dan menyendiri dengan berbagai macam biskuit varian rasa.
Lizzy dan Noah diantar Samantha ke ruang tunggu. Ada tiga sofa warna abu-abu yang saling menyambung dengan meja bulat kecil yang di atasnya ada banyak tumpukan majalah.
“Carry biasanya datang paling telat sekitar jam 10an.” kata Samantha yang akan bersiap membuatkan mereka teh. Tanpa disadarinya Fiona mengikutinya di belakang dan matanya selalu tertuju pada Noah.
“Hei,” panggil Noah pada Samantha.
“Aku?” Fiona menunjuk batang hidungnya.
“Bukan, dia,” Noah menunjuk Samantha. “Aku ingin bertanya kalau desainer yang gaun pengantinnya disukai Lizzy bekerja di sini kan? Apa dia semacam freelance?” tanya Noah yang mulai tertarik dengan perancang gaun yang dimaksud Lizzy.
“Bekerja di sini.” jawab Fiona lebih cepat dari Samantha. “Dia bekerja di sini denganku.” Fiona mengatakannya dengan girang.
“Oh, kami ingin berjumpa dengannya apa dia sudah ada di sini?”
“Be—“
“Belum!” Fiona menyela Samantha. “Dia mengantarkan anaknya dulu sebelum ke kantor. Anaknya...” mata Fiona berbinar cerah. “Mirip sekali denganmu, Noah.” Fiona membayangkan wajah Grish.
“Ayo, ayo!” Samantha yang merasa Fiona perlu ditenangkan menarik tangan Fiona menuju pantry.
Mirip sekali denganmu, Noah.
Kalimat itu membuat Noah mengingat anak kecil yang menumpahkan es krim di atas kap mobilnya.
***
Ada rasa penasaran dalam diri Noah tentang desainer itu. Tapi kenapa dia malah sebegitu penasarannya pada orang yang mendesain sebuah gaun murah namun begitu indah, anggun dan klasik. Harus diakui kalau gaun yang baru saja dilihatnya di majalah yang tertumpuk di meja kayu bulat itu tampak indah. Dan Lizzy memilih gaun yang tepat.
“Aku pasti cocok dengan gaun itu.” komentarnya dengan keriangan yang malah tidak disukai Noah.
“Ambilkan gaun yang ini—“ Lizzy menunjuk majalah yang bergambar gaun putih klasik. “Aku ingin mencobanya.” titahnya pada Fiona yang sedari tadi tidak mau pergi beranjak dari tempatnya berdiri di samping Noah.
“Ya, akan aku ambilkan.” ujarnya semangat namun dia kemudian memberengut. “Ah, aku tidak tahu soal gaun ini. yang tahu gaun-gaun ini biasanya Hugh, Carry dan—“
“Aku tahu kok.” seru Samantha yang datang dengan nampan berisi teh dan biskuit pribadinya. Karena tamu yang datang hari ini adalah tamu kesukaannya. Noah.
“Yasudah kau saja yang mengambilkannya. Aku di sini saja.” Fiona kembali memfokuskan diri pada Noah.
“Ya Tuhan, melihatnya secara langsung membuatku meleleh. Dan dia benar-benar mirip seperti Grish. Eh, Grish yang mirip seperti Noah.”
***
“Ingat, Grish, kau tidak boleh nakal. Belajar yang pintar dan jangan banyak tingkah.” Pesan Bella saat mengenakan tas rensel di punggung Grish.
Grish mengangguk semangat kemudian Bella menunduk dan mencium pipi kanan dan pipi kiri Bella. Grish berlari memasuki sekolahnya. Dia tersenyum semringah.
Bella menatap putranya hingga lenyap dari pandangan matanya. Nenek Claire benar. Bagaimana kalau orang dewasa menampik jawaban Grish tentang ayahnya. Mengolok-ngolok jawaban yang tidak logis dan mengatakan Grish tidak memiliki ayah. Bella tidak pernah berpikir sejauh itu. Dia hanya ingin Grish berhenti menanyakan soal ayahnya. Hanya itu. Dan kini Bella didera perasaan bersalah.
Bella tidak pernah pulang ke rumahnya di Indonesia karena merasa malu. Apa kata orang tua, sanak saudara dan tetangga kalau dia pulang membawa Grish tanpa seorang ayah? Selama ini dia dilema. Antara pulang atau tetap di sini. Sejujurnya dia hanya ingin bertemu ibu dan ayahnya. Grish perlu kasih sayang dari nenek dan kakeknya. Selama ini Grish hanya mandapat kasih sayang darinya saja. Dan apakah apa yang dilakukannya adalah kasih sayang seorang ibu untuk putranya? Bella merasa lebih banyak mengabaikan Grish dibandingkan memberikan putranya itu kasih sayang.
“Aku harus ke kantor.” gumamnya. Bella masuk kembali ke dalam mobilnya dan berangkat menuju kantor bridalnya.
***