Sejak kedatangan Lizzy di kantornya membuat Bella was-was karena Carry mengatakan Lizzy terpesona akan gaun yang dibuat Bella dan menginginkan gaun itu dibuat kembali dalam waktu sebulan. Lizzy akan menghubungi Carry besok uuntuk mendapatkan jawaban dari apa yang Lizzy minta. Gaun baru yang sama persis seperti yang dilihatnya di majalah. Bukan hanya itu, wanita berambut pirang itu juga meminta bertemu dengan desainer gaun cantik yang elegan itu. Carry yang meskipun angkuh, sombong dan selalu menomorsatukan omset tidak memberitahu Lizzy soal desainer gaun di majalah.
“Di majalah juga tidak ada namanya.” ujar Lizzy ketika bertemu Carry.
“Ya, desainernya memang misterius.” dusta Carry untuk menutupi jati diri Bella.
Carry bilang pada Bella kalau Bella tidak ingin membuat gaun itu lagi maka dia bisa saja membatalkan apa yang diinginkan Lizzy. Namun Bella menyanggupinya. Demi membalas kebaikan Carry selama ini padanya. Saat Bella kesusahan hanya Carry yang ada di sampingnya. Membantunya secara finansial maupun tenaga. Meskipun sikapnya pada Grish tidak terlalu baik tapi percayalah saat Grish masih bayi dulu, Carry sering menggendongnya bahkan mengganti popoknya. Bella ingin membantu Carry dan ini adalah kesempatan baginya untuk membuat toko bridal Carry diakui banyak orang.
“Mom,” Grish mengucek matanya.
“Kenapa, Grish?” Bella menutup majalah yang diberikan Carry dari Lizzy. Majalah yang memperlihatkan gaun indah pada tubuh seorang model Brazil. Gaun yang menarik perhatian Lizzy.
Grish berniat menceritakan pertemuannya dengan idola Fiona tapi dia urung karena merasa respons Bella tidak akan sesuai dengan harapannya. Bella jarang sekali memuji Grish, dia bahkan selalu tampak sebagai ibu yang cuek pada Grish.
“Aku mau tidur.”
“Ya,” Bella berkata singkat. Mengecup kening Grish kilat dan mengantarnya ke kamar tidur sempit.
“Jangan lupa berdoa.” kata Bella saat Grish sudah terbaring di atas kasurnya.
“Ya, Mom.”
Bella mematikan lampu dan keluar dari kamar Grish.
***
“Kenapa kau masih mengingatnya, Shawn? Ada Luna yang menjadi istrimu di rumah.” komentar Kai setelah mendengar curhatan Shawn tentang Bella.
“Lupakan Bella. Dia sudah punya kehidupan sendiri.” Imbuh Kai sebelum mengangkat gelas berisi teh dan menyesapnya.
“Bella itu cinta pertamaku, Kai. Bukan cinta monyet atau hanya sekadar suka, naksir atau apalah. Aku mencintainya tapi dulu sih. Sekarang, aku punya Luna. Hanya saja aku merasa kasihan dengan hidupnya. Aku pernah mendengar kalau dia menjalin cinta dengan Noah dan dikabarkan mengandung anak Noah.”
“Aktor itu?” sebelah alis Kai terangkat. “Aktor yang akan menikah dengan seorang super model itu?”
“Aku tidak mengenalnya hanya sebatas tahu.”
“Tapi benar kan, dia aktor yang mau menikah itu? Atau Noah lainnya.”
“Noah sang mega bintang.”
“Benar? Noah itu... Noah yang aku maksud.”
Shawn mengangguk tenang.
“Astaga... Kathleen menyukai aktor itu. Apa yang dikatakannya kalau tahu sang aktor adalah mantan kekasih—mantan kekasih Shawn. Dia pasti akan cerita ke Luna. Kau tahu kan, mulut Kath perlu dilakban.”
Shawn menanggapi perkataan Kai dengan tawa ringan.
“Sepertinya anak itu memang anak Noah.” Kata Shawn lebih kepada dirinya sendiri.
“Anak siapa? Anak Bella?”
Shawn mengangguk. “Dia agak mirip dengan Noah.” Shawn mengingat-ngingat wajah anak Bella.
“Ya mungkin anaknya, tapi Noah tidak pernah bilang pada media soal ini kan?” Kai ingat kalau Kathleen pernah bilang Noah belum punya anak. Dan kekasihnya hanya Lizzy selama Noah berkarir.
“Aku tidak tahu sih, tapi Bella seperti menghindariku. Maksudku, dia seperti tidak ingin aku mengetahui tentang ayah anaknya.”
Kai menarik napas perlahan. “Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Yang penting kan anak itu bukan anakmu. Akan sangat berbahaya kalau anak Bella itu anakmu.”
***
Noah mencukur cambangnya. Menatap gambaran wajah dirinya di cermin. Kemiripannya dengan anak kecil yang ditemuinya di toko bridal itu membuat Noah terus memikirkannya. Bahkan dia berniat kembali ingin menemui anak kecil itu. Anak kecil yang paham akan sopan santun dan dia tampak sebagai anak yang cerdas di mata Noah.
Sedangkan di sana, di meja makan di mana ada Emma dan Lizzy yang sedang menyantap daging panggang. Lizzy mengenakan dress mini dengan motif kotak-kotak dan Emma dengan gaya khasnya mengenakan dress vintage yang panjangnya melebihi kakinya. Dress yang menyapu setiap bagian lantai yang dilaluinya.
“Kenapa kau tertarik pada gaun pengantin yang—“ Emma memutar bola matanya.
“Menurutku gaun itu bagus. Kata pemilik bridalnya, desainer gaun itu misterius.” Lizzy kembali memotong daging panggang di atas piringnya dan mengunyahnya dengan cara yang sangat perlahan. Kunyahannya yang perlahan itu berhasil membuat tubuhnya tetap ramping meskipun makan banyak.
“Aku masih belum bisa percaya kau menginginkan gaun pengantin yang murahan.” Emma tampak sangat tidak menyetujui pilihan Lizzy.
“Kau masih sama saja seperti dulu saat Noah memulai karirnya.” Lizzy menatap sekelilingnya dan berbisik pada Emma. “Aku akan mengaku hamil pada Noah agar dia tidak bisa lepas dariku.” Bisiknya dengan senyum terlicik yang pernah dilihat Emma.
Emma tercenung. Dia memang sangat setuju Noah dan Lizzy menikah tapi di sisi lain dia juga berpihak pada sang aktor muda. Noah terlalu banyak dituntut ini dan itu oleh Lizzy dan karena Lizzylah karir Noah begitu tampak sempurna, Emma tidak bisa apa-apa selain berharap Noah akan bahagia mendengarnya dan semua berjalan sesuai keinginan Lizzy.
“Emma, aku tidak akan pernah melepaskan Noah.” Lizzy mengatakannya dengan nada bicara serius seakan sesuatu hendak mengancamnya dan dia mengantisipasinya. “Siapa pun yang berusaha mengambil Noah dariku, aku akan menghancurkannya.” Dia menatap Emma yang mengangguk dengan senyum dipaksakan.
“Maka dari itu, aku percayakan Noah padamu, Emma. Kalau ada wanita manapun yang berusaha mendekatinya beri tahu aku.”
“Tenang saja Nona Mudaku yang cantik. Aku akan menjaga Noah dan tidak akan memberikan cela ataupun kesempatan untuk membiarkan wanita manapun mengambil hatinya.” Emma berkata seakan-akan di hati Noah ada Lizzy. Padahal cinta Noah pada Lizzy sudah pudar sejak dia merasa kalau Lizzy terlalu terobsesi dengannya. Semacam bukan cinta.
Emma merasa posisinya dalam bahaya. Lizzy—ya, dia tahu bagaimana wanita itu selalu mengambil jalan pintas untuk bisa mendapatkan sesuatu. Emma memiliki rasa bersalah pada Noah karena dialah yang memperkenalkan Lizzy pada Noah. Dan ya Tuhan, tidak ada yang bisa mneolak pesona Noah. Emma ingat perbincangannya dengan Noah saat itu.
“Dulu, aku memiliki kekasih. Dia hamil dan memintaku menikahinya. Aku tidak bisa karena aku terikat kontrak. Masalahnya, dia berasal dari negara yang memiliki budaya berbeda dengan kita, Emma. Dia wanita Asia. Memiliki anak tanpa sebuah pernikahan dianggap aib.”
Perasaan bersalah Noah pada mantan kekasihnya? Bagaimana kalau mantan kekasih Noah tiba-tiba muncul dengan membawa seorang anak kecil lalu Noah menceritakan mantan kekasihnya itu pada Lizzy?
Emma menarik kacamatanya ke atas kepala. Dia masih terlihat sok dan anggun meskipun wajahnya penuh kecemasan. Dia hanya bingung bagaimana kalau Noah dan Lizzy putus, bagaimana dengan karir Noah?
“Emma, kau tidak apa?” tanya Lizzy menelisik.
Emma menggeleng. “Sedikit pusing. Migrain biasa.”
Lizzy tidak percaya begitu saja pada ucapan Emma. Dia meyakini ada sesuatu dibalik kalimatnya. Dia mulai curiga kalau tidak ada yang tidak beres di sini. Emma dan Noah. Lizzy memiliki insting yang kuat menyangkut kekasihnya itu. Dia sebenarnya hanya menutup mata dan telinga ketika Noah mengabaikannya. Dia tahu Noah tak sepenuhnya menginginkannya. Pria itu memiliki kemisteriusan yang bisa dijamah Lizzy. Anehnya, kemisteriusan Noah malah membuat Lizzy tergila-gila padanya.
“Seharusnya kau tidak mempercepat pernikahanmu dengan Noah, Lizzy.” Entah kenapa keinginan Emma ini sama seperti keinginan Noah yang diam-diam berdiri hendak ke meja makan.
“Kenapa? Aku dan dia saling mencintai bukan? Aku yakin karir Noah akan melesat lebih jauh lagi atau bahkan bisa menembus Hollywood kalau dia tetap bersamaku.” Katanya penuh kepercayaan diri.
Lizzy menatap Emma dengan tatapan sok berkuasa. “Emma, jangan lupa kalau aku pemilik saham PH yang memproduksi sebagian besar film-film Noah.” Perkataannya itu seperti, “akulah yang membesarkan nama Noah dan aku berhak atas dirinya.”
Noah berdeham.
Lizzy dan Emma menatap mengalihkan tatapannya pada Noah yang mendekati mereka.
“Sayang, kau sudah mandi?” tanya Lizzy bersikap seolah-olah dia tidak mengatakan apa-apa.
“Seperti yang kamu lihat.” jawab Noah dengan nada dan ekspresi dingin.
“Oke, setelah makan kita ke toko bridal itu lagi ya. Aku masih penasaran dengan desainer yang sok misterius itu. Dia mirip denganmu, sok misterius.”
Emma menanggapi perkataan Lizzy dengan senyum aneh dan memilih memfokuskan diri pada makanan.
***