The Perfect Man Is My Dad! - 4

1249 Kata
            Setelah mendengar keluhan klien yang meminta ganti gaun pengantinnya dengan warna ungu setelah—semua pengerjaan gaun awal yang dipesannya jadi, Bella menghela napas perlahan. Dia sudah sangat sabar menangani klien yang suka semaunya sendiri tanpa memikirkan usaha kerja keras orang-orang yang bekerja sebagai perencana pernikahan mereka.             Bella memasuki rumahnya dan dia tidak melihat Grish di sana, dia tahu Grish mungkin saat ini sedang bersama tetangganya. Seorang nenek sebatang kara yang bahkan tidak dia ketahui keluarga asal-usulnya. Bella selalu takut kalau Grish bersama dengan Nenek Claire. Oke, Bella tahu Nenek Claire baik tapi kedalaman hati seseorang mana ada yang tahu kan?             Bella melihat Grish sedang bermain dengan Justin. Sepiring kentang goreng, dua toples kue, kacang, biskuit dan jus buah ada di atas meja. Bella membersihkan blazer karamelnya yang kotor akibat debu.             “Masuklah,” ujar sang pemilik rumah.             “Anakmu tadi kelaparan.” tambahnya sembari sibuk menggoreng ikan.             “Mom!” ujar Grish memeluk ibunya yang tampak merasa bersalah karena meninggalkan Grish tanpa makanan.             “Kau mau makan, Bella?” tanya Nenek Claire.             “Tidak, aku mau bawa Grish ke kantor.”             Nenek Claire menatap Grish sendu. Anak sekecil itu—tanpa seorang ayah, ibu yang sibuk bekerja dan selalu membawa anaknya ke kantor. Membiarkannya bermain sendirian. Bagaimana Nenek Claire tidak simpati melihat wajah tanpa dosa Grish. Anak yang malang. Nenek Claire yakin kalau Grish dewasa nanti dia akan menjadi pria tertampan di Inggris Raya.             “Seharusnya kau menitipkan Grish padaku kalau kau tidak punya waktu mengurusi Grish.” Nenek Claire tampak sinis.             “Terima kasih.” ucap Bella mencoba membawa Grish pergi dari rumah bergaya American style sederhana milik Nenek Claire.             “Saya dan Grish permisi.”                   “Tunggu!” cegah Nenek Claire.                                   Nenek Claire memberikan tupperware yang berisi daging panggang dan salad pada Grish. “Makan di kantor ya. Kamu harus banyak makan biar cepat besar, Grish.”             Bella menatap mata tua Claire yang menampakkan senyum ketulusan pada Grish tapi pada Bella, Claire selalu tampak sinis. ***             Noah menghentikan mesin mobilnya di depan kantor yang berhimpitan dengan ruko-ruko lainnya. Manneqin yang mengenakan gaun pengantian berjejer di etalase sana. Dia menyipitkan mata terheran-heran kenapa gaun secantik itu dibuat di sebuah toko bridal biasa. Toko yang sekaligus dijadikan kantor itu juga tampak kecil.             “Ayo,” ajak Lizzy seraya menyibakkan rambut pirangnya.             “Kau saja.” tolak Noah.             “Noah, kau calon suamiku. Kita yang memilih gaun dan jas yang cocok denganmu bukan Cuma aku. Aku menikah denganmu bukan menikahi diriku sendiri.” Lizzy tampak berapi-api. Sejujurnya, Noah sudah tidak sanggup meladeni ocehan Lizzy yang terkadang meluncur begitu saja tanpa dipikir terlebih dulu.             Sebuah Renault terpakir di samping mereka. Wanita muda dnegan blazer karamel dan seorang anak kecil turun. Noah dan Lizzy masih berdebat hingga Noah baru menyadari kehadiran wanita dan anak kecil itu yang masuk ke dalam toko bridal. Dia sempat melihat bagian belakang wanita yang mengenakan blazer karamel itu. Dia teringat seseorang. Seseorang yang pernah ada dalam masa lalunya. Noah mencoba menepikan bayangan seseorang itu.             “Oke, aku akan ke dalam sana. Kau tunggu di sini, Noah.” Akhirnya Lizzy mengalah. “Tapi saat aku datang dan menyuruhmu masuk, kau harus mau.” Ancam wanita bertubuh ramping itu.             Noah mengangguk dengan enggan. Bagaimana bisa dia hidup bersama wanita yang selalu berusaha mendominasi dan selalu saja semua keinginannya harus dituruti? ***             Fiona heboh sendiri melihat Lizzy datang ke kantor bridalnya. Fiona merasa tersanjung karena tunangan Noah itu mau bertemu dengan Carry si pemilik toko bridal. Hugh menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah konyol Fiona sedangkan Samantha lebih senang memperhatikan Fiona dengan menikmati kue kering terutama biskuit.             “Coba kau bayangkan Carry... yang datang seorang Lizzy. Supermodel London. Cantik, mempesona dan tunangan Noah. Dia ingin bertemu denganmu.” kata Fiona tak henti-hentinya menatap cerah Carry.             Bella yang baru menceritakan soal si klien rewel itu mendadak beku dan mematung. Tidak ada yang tahu kalau dadanya sedang tidak baik-baik saja sejak mendengarkan Fiona berbicara mengenai Lizzy.             “Ada apa ya si Lizzy itu kemari.” Carry tampak berpikir keras.             “Astaga... Carry! Dia mau melihat-lihat gaun koleksi kitalah. Tidak mungkin kan dia ke sini mau beli es krim?” Fiona bertolak pinggang.             Carry menatap Bella penuh rasa ingin tahu karena satu-satunya orang yang tahu tentang Bella dan masa lalunya hanya Carry. Tidak ada ekspresi apa pun di wajah datar Bella kecuali—kediamannya yang membuat Carry menebak-nebak isi hati Bella.             “Are you okay?” tanya Carry hati-hati.             Fiona yang tidak tahu apa-apa medekati Bella yang memasang eksrpesi misterius dan wajahnya agak memucat. “Bell, lagi sakit?” tanya Fiona.             Carry mencubit lengan Fiona hingga Fiona mengaduh kesakitan.             “Aw!” Fiona memegangi lengan bekas cubitan atasannya yang berambut pendek itu. “Apa yang salah dari pertanyaanku?” tanya Fiona dengan kesakitan.             “Sudah keluar sana. Nanti aku akan menemui si Lizzy itu.”             Fiona memonyongkan bibir sebelum lenyap dari hadapan Bella dan Carry.             “Aku harus menemui tunangan man—“             “Ya, silakan.” sela Bella. “Aku akan di sini sampai wanita itu pergi.”             Carry mengangguk.             Carry menghela napas perlahan sebelum menemui salah satu wanita yang tidak disukainya di dunia ini. Entah kenapa Carry tidak suka melihat Lizzy. Bukan karena Carry iri pada wanita bertubuh ramping itu tapi lebih karena—dia tunangan Noah. ***             Grish secara ajaib keluar dari kantor bridal dan memilih membeli es krim di supermarket sebelah. Noah yang hanya fokus menatap layar ponselnya akhirnya beralih ke arah kap mobilnya yang kotor karena tumpahan es krim yang entah bagaimana ditumpahkan Grish yang lewat di samping mobil Noah. Tangan Grish kehilangan keseimbangan sehingga dia menjatuhkan es krimnya yang mengenai kap mobil.             Grish yang selalu diajari Bella untuk meminta ma’af dan bertanggung jawab akan kesalahan yang diperbuatnya mengetuk kaca mobil jendela.             Noah, entah bagaimana merasakan sensasi yangtak biasa ketika melihat Grish. Dia sering menjumpai anak kecil tapi rasanya sangat jelas berbeda. Dia menurunkan kaca jendela secara perlahan.             Grish yang pernah melihat wajah Noah di layar komputer Fiona ternganga.             Beberapa saat saling terdiam. Noah terpesona akan anak kecil yang memasang ekspresi polos saat menatapnya dan Grish tampak tidak percaya melihat wajah seorang pria yang Fiona bilang mirip dengannya.             “Emm, aku minta ma’af.” Grish akhirnya berkata.             Noah masih terdiam menatap dengan tatapan yang seakan Grish adalah malaikat di Bumi.             “Es krimku jatuh di kap mobil Anda.” ujar Grish mencoba membuat Noah berkomentar karena saat meminta ma’af dan orang yang dimintai ma’af itu hanya diam tampak lebih mengerikan daripada senyum joker.             “Ma’afkan aku.”             Seulas senyum menghiasi wajah Noah. “Tidak apa.”             “Aku akan minta tisu pada Mom untuk membersihkan kap mobil Anda.”             “Tidak, tidak usah. Aku punya tisu dan aku bisa membersihkannya sendiri. Siapa namamu?”             “Grish.”             “Aku Noah,” Noah mengeluarkan tangannya untuk menjabat Grish.             Grish menyambut jabatan tangan itu dengan gembira. Kalau saja dia sedang memegang ponsel Bella dia pasti akan minta poto dengan Noah yang begitu tampan dan lumayan mirip dengannya.             “Salah satu teman ibuku menyukai Anda.” cerita Grish dengan wajah berkilat cerah. “Namanya Fiona. Dia bekerja di sini dengan Mom.”             “Oh ya?” resposn Noah sangat berbeda dari biasanya. Biasanya dia cuek dan agak angkuh ketika berhadapan dengan orang asing tapi dengan Grish, dia merasa nyaman dan senang. Kenyamanan yang aneh. Jenis kenyamanan yang jarang dirasakannya. Sangat jarang.             “Dia bilang aku mirip sekali dengan Anda.”             Seketika dahi Noah mengernyit. Dia memperhatikan wajah imut Grish. Mirip?             “Ya, struktur wajahmu mirip denganku. Alismu, hidungmu...” Noah kembali mengernyitkan dahinya kala menyadari kemiripannya dengan Grish. Dia hendak meraih kaca yang selalu dibawa Lizzy sebelum Hugh berteriak memanggil nama Grish.             “Grish, ibumu mencarimu!” teriak Hugh di depan pintu kantor.             “Ya!” balas Grish kemudian tatapannya kembali ke Noah. “Aku harus kembali ke kantor.”             Noah mengangguk sambil tersenyum.             Memandang Hugh yang memegangi bahu Grish.             Untuk pertama kalinya dia jatuh hati pada anak kecil. Grish seperti bukan hanya sebuah warna tapi pelangi yang mencakup tujuh warna cemerlang. Dia berharap ini bukan perjumpaan pertama dan terakhir. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN