The Perfect Man Is My Dad! - 3

1122 Kata
            Note : Cerita Luna dan Shawn bisa kalian baca di Fake Wedding ya ^^             Luna baru saja memasak makanan untuk makan malam saat Shawn sampai ke rumah. Beberapa hari ini suaminya agak aneh. Shawn jarang berbicara dan setiap malam biasanya Shawn menyempatkan diri untuk mencium kening Luna sebelum tidur, tapi beberapa hari ini Shawn bahkan memilih tidur di kamar tamu. Tapi Luna tidak ambil pusing soal itu. Baginya Shawn adalah pria yang tidak akan berkhianat karena dia tahu betul besarnya rasa sayang Shawn pada Luna. Kalaupun Shawn berengsek itu hanya masa lalunya dan tentu saja selalu ada alasan dibalik keberengsekkannya. Yang terpenting sekarang adalah Luna tahu kalau Shawn hanya mencintainya namun jauh dikedalam lubuh hatinya, Luna agak waswas. Dia hanya berpura-pura menutupinya dan pikirannya secepat mungkin dialihkan ke anak-anak.             “Waktunya makan.” Luna memberitahu Shawn dan kedua putra kembarnya di ruang tamu. George dan Fred langsung menuju ruang makan dengan kebisingan khas mereka. Shawn menyusul dengan sebelah tangan berada di atas bahu Luna.             “Hei, setelah Fred dan George tidur aku ingin bicara denganmu, Shawn.”             Shawn menghentikan langkahnya. Dia menatap istrinya dengan dahi mengernyit. “Tentang apa?”             Luna menempelkan sebelah tangannya di pipi Shawn dan membelai lembut pipi suaminya itu. “Tentang kita. Aku ingin kita kembali mengingat masa-masa kita berdua dulu. Saat kau datang ke ruanganku dan menarikku ke atas pangkuanmu. Kau ingat itu kan?”             “Tentu. Aku selalu mengingat tingkah agresifku demi mendapatkanmu, Luna.”                         Shawn tertawa renyah. “Kau bisa saja. Jadi, kau ingin kita kembali ke masa itu tanpa kedua putra kembar kita.”             “Aku hanya ingin mengajakmu bernostalgia.”             Setelah makan selesai. Fred dan George memasuki kamar mereka untuk bermain game. Kebiasaan mereka memang seperti itu, Luna seringkali memperingatkan keduanya untuk tidak bermain game sehabis makan dan menyuruh mereka belajar, sayangnya kekeras kepalaan Shawn menurun pada dua anak itu.             “Jadi apa yang ingin kamu bicarakan, sayang?” Shawn menatap lekat istrinya yang duduk di sampingnya dengan secangkir kopi hangat.             “Tentang kita.”             “Kau tahu, dulu aku tak pernah terpikir dapat menikahimu. Aku pikir kau akan menolak pernikahan yang aku tawarkan.”             “Aku juga sempat ragu soal itu. Tapi, aku memang ingin membantumu melampiaskan dendammu pada Devon. Karena aku pun sejujurnya masih merasa tersakiti. Kau ingat, saat Nayla melindungiku dari Carrie. Aku berhutang nyawa padanya. Aku tak pernah menyangka dia anak yang sangat baik dibalik semua sikapnya yang misterius dan penuh misteri.             “Banyak hal luar biasa yang terjadi di hidupku setelah aku dan kamu bersatu, Shawn. Aku jadi tahu kalau ternyata ayah tiriku menyayangiku, adik-adikku juga seperti itu. kalau aku tidak menikah denganmu, mana aku tahu kalau mereka begitu menyayangiku.”             Shawn memeluk bahu Luna dan mengecup singkat kening Luna. “Darimu aku mengerti arti cinta, Luna. Aku jatuh dan mencintai wanita yang tepat.”             Mata mereka saling bersitatap.             Shawn memiringkan kepalanya. Bibirnya meraih bibir Luna. Dia ingat sudah lama dia tidak mengecup bibir indah Luna. Sayangnya, meskipun dia sedang bersama Luna pikirannya tentang Bella masih menghantuinya.             Dia hanya mengkhawatirkan Bella.             Dan tentang anak itu... ***             Nenek Claire memberikan Grish roti dengan selai apel yang lezat. Grish yang belum makan selepas pulang sekolah langsung melahap roti selai apel tanpa ampun. Bella menjemput Grish dan langsung pergi untuk menemui klien yang katanya sangat rewel. Grish yang bosan di rumah memilih bertandang ke rumah Nenek Claire yang hidup seorang diri.             Justin yang lucu menggigiti kakinya yang imut. Dia duduk di samping Grish—anak kecil favoritnya di antara semua anak yang pernah dijumpainya.             “Justin, kau mau ini?” Grish menawarkan Justin dengan minuman jus stroberi yang dibuatkan Nenek Claire.             Justin mendekat dan mengeong. Tentu saja dia menolak jus stroberi itu setelah mencium aromanya.             “Ibumu itu memang keterlaluan, Grish. Dia meninggalkanmu tanpa memberimu makanan.” Omel Nenek Claire yang selalu mencepol rambutnya yang sepenuhnya nyaris memutih.             “Mom bilang hanya sebentar.” jawab Grish mencoba membela Bella namun tak bisa dipungkiri Grish juga kecewa karena Bella meninggalkannya tanpa meninggalkan makanan.             Nenek Claire membelai lembut kepala Grish dan memberikan muffin selai apel pada anak itu. Grish tidak bisa menolak makanan pemberian Nenek Claire.             “Terima kasih, Nek.”             Nenek Claire mengangguk seraya tersenyum.             “Kalau ibumu sibuk, kau bisa ke sini, Grish. Rumah Nenek selalu terbuka untukmu, anak manis.” Nenek mencubit sebelah pipi Grish dengan gemas.             Grish tersenyum memperlihatkan lesung pipit dan gigi putih ratanya.             “Grish, Nenek punya rahasia.”             Mata Grish berkilat cerah saat Nenek mengatakan ‘rahasia’. Jiwa berpetualang kekanak-kanakannya bangkit dan dia membayangkan dirinya akan berpetualang seperti film-film anak-anak. Mungkin dia akan menjadi mata-mata seperti di film Spy Kids. Atau akan menjelajah dunia baru seperti film Alice In Wonderland.             “Kau berjanji akan merahasiakannya dari ibumu kan?”             Grish mengangguk mantap. “Aku berjanji, Nek.” ***             Fiona tak henti-hentinya mendendangkan lagu rock kesukaannya dengan menggerak-gerakkan tubuhnya persis seperti orang kesurupan ditambah lisptik gelapnya yang mencolok. “Yeaaaahhh!” teriaknya mengikuti suara sang rocker.             “Fiona... berhenti!” pekik Hugh yang kesal melihat rekan kerjanya yang mulai sinting itu.             “Kenapa sih?” tanya Fiona kesal karena merasa diganggu Hugh.             “Kau mengganggu konsentrasiku!” Hugh tampak emosi.             Fiona memberengut, dia mematikan musik dan mengoceh panjang. Untuk melepas kekesalannya pada Hugh, Fiona memilih melihat-lihat foto Noah dan yang paling disukainya adalah foto Noah yang mengenakan jas. Noah tampak sangat gagah dengan tubuh dibalut jas.             “Kau tidak punya hobi lain selain mengintip poto-poto Noah?” sebuah suara angkuh yang khas mengaggetkan Fiona.             “Astaga!” dia terlonjak melihat Carry di belakang kursinya. “Kau menggangetkanku.” ujar Fiona mencoba menenangkan diri dari suara horor Carry.             Carry melipat kedua tangan dan menaikkan sebelah alisnya. “Aku yakin tensi darah Bella naik.”             “Gara-gara klien yang i***t itu?” tebak Fiona.             “Hei, kau tidak boleh mengatakan dia klien yang i***t. Dia hanya...” Carry memalingkan wajah mencari kata yang tepat menggambarkan kliennya itu. “sinting.” ***             Lizzy membawa sebuah majalah fashion dan memperlihatkannya pada Noah yang baru saja mandi. Wanita itu mengenakan mini dress warna maroon dengan tambahan payet di bagian dadanya. High heelsnya berwarna cokelat tua dengan tinggi 13 senti. Rambut pirangnya digerai.             “Aku suka gaun itu.” dia menunjuk salah satu gaun dari seorang desainer sebuah bridal yang kantornya terletak di pinggiran Kota London.             Noah menatap sekilas gaun klasik yang elegan lalu menatap Lizzy yang terobsesi pada gaun berwarna putih itu.             “Pernikahan kita enam bulan lagi, Noah. Aku tidak ingin menunggu waktu lama dengan menunggu desainer k*****t itu membuatkan aku gaun dengan jangka waktu berbulan-bulan lamanya hingga setahun. Mereka pikir aku tidak bisa membeli gaun jadi yang bahkan dibuat oleh desainer kelas bawah dan toko bridal yang tidak sepadan dengan mereka.” ocehnya yang seketika membuat kepala Noah pening.             “Temani aku mendatangi kantor bridal yang membuat gaun secantik ini.” pinta Lizzy.             Noah tidak berkomentar. Keinginanya memutuskan Lizzy malah menciptakan boomerang pada hidupnya. Lizzy bukan hanya keras kepala tapi juga gila. Dia mengidap bipolar dan rentan depresi. Rentan untuk melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya saat Noah memutuskannya. Emma menentang keputusan Noah. Dan Noah harus pasrah akan hidupnya.                                                                         ***        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN