"Malu sendiri gue nyebut diri gue sebagai sahabat lo." Zidan mendongak ke atas menatap langit-langit kelasnya sambil tertawa hambar. Seperkian detik setelahnya, ia menatap Cakra. "Gue bodoh banget, gue nggak tau diri emang. Tapi kenapa lo nggak ngomong dari awal Kra?" Cakra tersenyum tipis. "Nggak pa-pa, udah nggak usah dibahas lagi." "Lo mah jawabnya selalu nggak pa-pa, nggak bosen emangnya?" Zidan mendengkus pelan. "Gue jadi nggak enak sama lo Kra, lo juga salah sebenarnya, nggak cuma gue doang. Coba lo jujur dari awal soal ini, jadi gue bisa mikir-mikir dulu sebelum ngomong sama lo." Cakra berdecak kecil. "Ck, kan udah bilang, jangan dibahas lagi." "Gimana mau nggak dibahas, gue aja ngerasa bersalah banget sama lo," ucap Zidan. Ketika Cakra mengatakan kalimat 'asal ada nenek,

