Keenam lelaki tampan yang tergabung dalam boygroup bernama BTS itu melangkah gontai menuju dorm mereka. Hari libur yang seharusnya mereka nikmati dengan bersantai atau berkunjung ke rumah saudara justru harus dengan rekaman dan latihan di gedung agensi.
Seokjin yang pertama masuk, mendapati dorm dalam keadaan gelap gulita hingga lengannya menyasar mencari saklar lampu dan segera menyalakannya. Lelaki itu berjalan masuk diikuti yang lain, memperhatikan setiap sudut ruang tamu dan tidak mendapati keberadaan Taehyung.
"Kemana bocah itu? Aku akan memberikannya hukuman jika kudapati ia sednag bersantai di kamarnya sedangkan kita sibuk rekaman dan latihan." gerutu Seokjin, amarahnya seketika naik begitu saja.
"Tadi aku berpapasan dengannya digedung agensi. Ia bilang akan menyusul tapi sampai kita kembali lagi ia tak datang," ujar Jungkook sambil mendudukkan tubuhnya di sofa. Jimin ikut duduk dan bersandar di bahu Jungkook.
Yoongi mendengkus mendengarnya. "Anak itu. Sini biar aku hajar dulu wajah sok tampannya itu." Yoongi menaiki tangga menuju lantai dua dan berjalan ke arah pintu dipaling ujung. Bekas gudang yang dijadikan kamar Taehyung. Lebih kecil dari ukuran kamar yang lainnya.
Brak! Brak! Brak!
"Buka, sialan! Jangan berani-beraninya bersantai saat yang lain kerja keras." bentak Yoongi dengan emosi yang membumbung tinggi. Tangannya mengepal kuat memukul pintu kayu kamar Taehyung dengan sekuat tenaga, namun sosok yang dicarinya tak kunjung menampakkan diri.
Yang lain ikut menghampiri, hendak menonton pertunjukkan mengasyikan dimana Yoongi kembali memarahi dan memukuli Taehyung. Tidak satupun dari mereka merasa perlu untuk menahan yoongi yang diselimuti amarah karena mereka juga merasa sama marahnya.
Brak! Brak! Brak!
"Ya! Kim Taehyung! Keluar atau kudobrak dan kuhajar kau sampai mati!" ancam Yoongi yang tak mendapat sahutan dari dalam. Yoongi mengeratkan kepalan tangannya menahan kesal."Seokjin hyung bawa kemari kunci cadangannya."
Seokjin berbalik menuju kamarnya. Mengambil sekumpulan kunci cadangan untuk setiap pintu di dorm itu. Ia menyerahkannya pada Yoongi tapi enggan beranjak dari sana. Ingin menjadi penonton terdepan dari aksi brutal Yoongi melampiaskan emosinya pada Taehyung.
Namun, saat pintu dibuka. Yang disaksikan semua mata adalah kamar yang begitu rapi dan sangat kosong, seolah kamar baru yang tidak berpenghuni. Keenam orang itu masuk dan mengedarkan pandangannya. Mencari eksistensi Taehyung yang memang sepertinya tidak berada disana.
"Kemana bocah itu?" gumam Seokjin.
Namjoon melirik sekeliling kamar. Kecil tetapi terlihat luas karena penataannya yang sederhana dan tidak banyak perabotan. Beda sekali dengan kamarnya yang dipenuhi lemari untuk koleksi action figurnya. Netranya beralih pada meja kecil didekat ranjang. Seperti meja belajar yang diatasnya hanya terdapat beberapa novel dan sekotak pulpen. Tetapi mata tajam Namjoon melihat sesuatu terselip diantara novel itu. Ia menariknya da mendapati sebuah amplop putih polos.
"Apa ini?" gumamnya yang masih bisa didengar yang lain. Semuanya mendekati Namjoon.
"Apa itu, hyung?" tanya Jimin yang berjalan mendekat, merasa penasaran dengan apa yang ditemukan sang leader. Yang lain ikut mendekat dengan rasa penasaran yang sama, terutama setelah mengetahui fakta bahwa lemari Taehyung juga kosong, tidak ada pakaian sama sekali.
Namjoon menggeleng. Lelaki itu membuka amplop itu dan mengekuarkan dua kertas dari dalamnya. Satu kertas HVS dan satu lagi kertas bergaris yang terlipat rapi. Namjoon membuka kertas bergaris tersebut.
_____________
Hai hyungdeul.. Kookiee..
Sebenarnya aku tidak ingin menulis surat bodoh ini..
Tetapi aku ingin sekali mengatakannya pada kalian..
Aku sedih saat kalian mengabaikanku..
Aku sedih saat kalian menghinaku..
Aku sedih saat kalian dengan mudahnya memukulku..
Aku tidak begitu paham apa kesalahanku..
Aku memang tidak bisa menari sehebat Jimin, tidak bisa menyanyi semerdu Jungkook, tidak bisa menciptakan lagu bagus seperti Namjoon hyung, bahkan tidak pandai mengurus dorm seperti Seokjin hyung.
Tapi hyung...
Apa kalian perlu bertingkah sejauh itu padaku?
Rasanya sakit sekali menerima sikap kalian yang begitu padaku.
Meski setiap malam aku menangis, rasa sakitnya enggan hilang.
Meski aku melukai diriku berkali-kali, sakitnya tidak seberapa dibanding perlakuan kalian padaku..
Aku lelah..
Aku juga tidak ingin menjadi seperti ini..
Hyungdeul.. Kookiee..
Aku sudah memutuskan.
aku berhenti menjadi bagian dari bangtan agar kalian tidak lagi kesusahan karenaku.
Meski selama ini kalian tidak pernah berlaku baik padaku, aku sangat menghargai 5 tahun bersama kalian..
Setidaknya aku punya sesuatu untuk dikenang sebelum pergi jauh, meski itu bukan kenangan baik..
Selamat tinggal hyungdeul.. Kookie..
Aku menyayangi kalian..
Dan oh, aku selalu ingin mengatakan ini sejak dulu, tetapi aku malu dan takut. Jungkook begitu dekat dengan Jimin jadi aku ragu mengatakannya. Tapi sekarang aku bisa mengatakannya sesuka hatiku
Jungkook, aku mencintaimu. Pria tampan yang sejak dulu menarik perhatianku, aku begitu mencintaimu. Tetapi aku tidak pernah sanggup mengatakannya karena sikapmu padaku.
Sudah ya, aku lelah..
Jaga diri kalian baik-baik..
Selamat tinggal..
___________
Semuanya terdiam. Namjoon dengan tergesa membuka lembar satu lagi dan menatap tak percaya pada apa yang dibacanya. Surat pengunduran diri yang ditandatangani Taehyung dan PD-nim.
Namjoon menggeleng tak percaya. Begitupun yang lainnya. Tiba-tiba saja dikepala mereka terputar kejadian selama 5 tahun ini. Perlakuan buruk mereka pada Taehyung berkeliaran di kepala mereka seolah sedang mengejek.
Ini aneh, seharusnya mereka senang jika Taehyung memutuskan untuk berhenti. Ini yang mereka mau. Selama ini, mereka merasa terbebani dengan keberadaan Taehyung. Seharusnya mereka bersorak gembira dan sibuk merencanakan pesta perayaan, namun keenam pemuda itu justru diliputi perasaan sedih dan bersalah.
Sedangkan Jungkook, lelaki itu berdiri mematung menatap surat Taehyung yang kini dalam genggamannya. Surat itu basah oleh tetesan air matanya.
"Hyung.."