Sean baru saja pulang setelah melakukan pekerjaan di luar kota, hanya ia habiskan selama tiga hari dan beruntung sekali tidak lama meninggalkan anak kesayangannya. Dalam perjalanan pulang, ia tidak memberitahu Rissa kalau ia segera pulang, hitung-hitung menjadi kejutan untuk anaknya. Sean juga membelikan boneka teddy bear yang ukurannya cukup besar untuk Rissa, anaknya pasti akan senang mendapatkan hadiah boneka.
Sesampainya di depan rumah sang ibu, Sean disambut oleh Pak satpam yang berjaga, dengan cekatan satpam tersebut membantu mengeluarkan koper milik majikannya, sementara Sean membawa boneka yang akan ia berikan kepada Rissa.
“Makasih, Pak,” ucap Sean saat Pak satpam membantunya membawakan koper yang di balas dengan anggukan dan senyum tulus.
Sean pun masuk ke dalam rumah diikuti oleh Pak satpam, suasana rumah tampak sepi, mungkin semua orang sedang berada di ruang makan karena ia pulang begitu pagi. Sean pun bergegas ke arah ruang makan dan menyuruh Pak satpam untuk menyimpan kopernya di ruang tengah, bersama dengan boneka yang tadi ia bawa.
Langkahnya begitu pelan, kemudian dengan samar Sean mendengar suara anak kecil yang begitu ia rindukan, bibirnya mengulas senyum mendengar tawa riang yang terdengar di telinganya.
“Papa!” pekik gadis kecil itu menyadari keberadaan Sean, dengan begitu bersemangat Rissa turun dari kursi dan berlari ke arah Sean yang sudah merentangkan tangannya.
“Aduh, Papa kangen banget sama anak cantiknya Papa,” ucap Sean memeluk Rissa dengan begitu erat, baru beberapa hari saja tetapi seperti lama sekali ia tidak bertemu dengan anaknya.
“Rissa juga kangen sama Papa,” balas gadis kecil itu melingkarkan kedua tangannya di leher Sean. Begitu manja kalau sudah bersama dengan sang ayah.
“ Eh-eh ... Kok kayanya Papa dengar sesuatu ya, coba bilang Rissa lagi,” ucap Sean mendengar samar anaknya yang sudah jelas melapalkan huruf er.
“Rrrissaa ...”
“Wah, berapa hari Papa tinggal udah pinter ngomong huruf er, anak siapa sih ini, pinter banget,” puji Sean pada Rissa.
Rissa terkikik geli karena Sean mencium seluruh wajahnya, “Ah ... Papa geli, ampun!” serunya membuat Sean malah semakin gemas pada anaknya. “Aku diajarin sama Ateu, aku juga udah pintar mewarnai loh, Pa. Ateu juga yang ajarin,” jelas Rissa kepada sang ayah.
Sean yang mendengar Rissa menyebutkan kata Ateu membuat keningnya mengernyit.
“Dua hari ini Rissa main sama temannya Rashi, Mama juga kaget waktu Rissa lancar ngomong huruf er,” ucap sang ibu kepada Sean yang tampak kebingungan. “Kamu katanya masih ada beberapa hari lagi di Bali, kok nggak kasih tahu kalau pulang hari ini?” tanyanya.
Sean menurunkan Rissa dari gendongannya, lalu bergabung di meja makan, sudah ada Ibu dan adiknya juga di sana. Mencium tangan sang ibu dan mengacak rambut adiknya, Sean kemudian duduk di kursi, tidak lupa setelah memastikan Rissa juga duduk di sampingnya dengan nyaman dan aman.
“Udah selesai lebih cepat, aku juga udah kangen banget sama Rissa, Ma.” Sean menerima piring yang berisi nasi goreng buatan ibunya, kebetulan tadi setelah sampai di Bandara, Sean tidak langsung sarapan melainkan pulang ke rumah. “Rissa nggak rewel kan, Ma, selama Sean di Bali?” tanya Sean kembali, meski setiap hari pun berkomunikasi dengan anaknya tetapi ia tetap ingin memastikan kalau Rissa tidak membuat sang ibu kewalahan karena rewel.
“Nggak, malah dua hari ini senang karena ada teman main, di ajak jalan-jalan juga sama temannya Rashi. Lengket banget anaknya,” balas sang ibu.
“Iya bener, Kak. Nggak nyangka banget Rissa bisa dekat sama orang baru malah kelihatan kaya kenal lama.”
“Berarti bukan kamu yang jagain dong?” tanya Sean pada Rashi –adiknya.
Rashi malah cengengesan membuat Sean tahu jawaban sang adik, “Kenapa? Kamu kan tantenya, bukannya jagain bantu Mama,” ucap Sean tampak sebal kepada sang adik.
“Aku nggak ada pengalaman jagain anak kecil, Kak. Lagian aku pusing, Rissa aktif banget, mana suka tanya ini itu, aku kan kewalahan, jadinya cari bantuan deh.”
Sean mendengkus, ada saja jawaban yang dilontarkan oleh adiknya, “Bilang sama teman kamu terima kasih karena udah mau jagain anak aku,” ucap Sean.
“Iya nanti aku sampaikan ke dia, lagian dia juga anaknya senang banget main sama anak kecil, jadi nggak masalah sama sekali.”
“Ateu baik banget, Pa. Kemarin aku di ajak jaan-jalan, terus beli es krim sama boneka juga. Ateu juga ajarin aku mewarnai sama menulis. Nanti boleh kan, Pa, kalau Ateu ke sini lagi main sama Rissa?” kali ini Sean menatap anaknya yang tampak bersemangat sekali menceritakan apa saja yang ia lakukan selama dua hari kemarin.
Sean mengelus rambut Rissa penuh kasih sayang, “Boleh, nanti Rissa bilang makasih juga ya, kan udah di ajarin gambar sama nulis,” ucap Sean yang diangguki dengan begitu semangat oleh Rissa, gadis kecil itu sepertinya tidak sabar kembali bertemu dengan ateunya yang sudah banyak mengajarinya.
“Oh iya, Papa juga punya hadiah buat Rissa,” ucap Sean selesai mereka sarapan bersama, namun masih berada di meja makan.
“Beneran Pa?!” kedua matanya begitu berbinar mendengar kata hadiah yang terucap dari mulut sang ayah. Kalau sudah mendapatkan hadiah, siapa yang tidak akan senang.
Sean mengangguk, “Ada di ruang tengah, yuk ambil!” ajak Sean yang segera diiyakan oleh Rissa. Gadis kecil itu turun dari kursi, menarik tangan ayahnya untuk segera melihat hadiah yang diberikan kepadanya.
Diruang tengah, Sean memberikan boneka yang dibelinya tadi kepada Rissa. Anaknya begitu senang kembali mendapatkan boneka, apalagi yang sekarang ukurannya cukup besar untuk anak seusianya. Sean ikut senang melihat kedua mata anaknya penuh binar, ia selalu ingin melihat anaknya senang.
“Suka?” tanya Sean kepada Rissa.
Gadis kecil itu mengangguk, “Suka banget, Pa. Makasih ya, Pa. Ini jadi teman bobok aku nanti, sama boneka sapi yang dikasih sama Ateu juga, Rissa senang deh dapat dua boneka dari Papa sama Ateu.”
Melihat Rissa yang selalu menyebut Ateu, membuat Sean penasaran sebenarnya siapa teman dari adiknya ini yang begitu dekat dengan Rissa. Karena tidak biasa sekali anaknya bisa dekat dengan orang baru, mungkin Sean akan menanyakannya nanti kepada Rashi, karena bagaimana pun gadis yang sudah menjaga anaknya saat ia berada di Bali, sudah begitu banyak membantu, pantas saja dua hari kemarin saat Sean melakukan panggilan video dengan Rissa, anak itu tidak merengek seperti sebelumnya karena sang ayah yang lama menyelesaikan pekerjaan menurutnya.
**
“Kakak gue bilang makasih sama lo, kan lo udah jagain Rissa kemarin,” ucap Rashi.
Mereka sudah berada di kampus, sudah melewati jam pertama dan kedua, kali ini sedang mencari makan untuk mengisi perut mereka setelah berkutat dengan mata kuliah yang tidak hanya menguras otak, tetapi menguras perut mereka.
“Iya sama-sama, lagian gue juga senang bisa main sama ponakan lo.” Lea memilih menu makan siang mereka, kelihatannya semua makananya begitu menggugah seleranya, atau mungkin karena Lea sedang benar-benar lapar karena semua tenaganya terkuras habis. “Ini kayanya enak, yamin manis kek gue yang manis,” lanjutnya menunjuk menu yamin.
Rashi mendengkus, Lea ini tidak pernah berhenti begitu percaya diri sekali, “Terserah lo deh, gue mau yang pahit, kek hubungan gue sama doi yang nggak ada manis-manisnya,” celetukan Rashi malah membuat Lea yang sejak tadi fokus pada menu di hadapannya langsung menoleh ke samping di mana Rashi berdiri.
“Kenapa? Bukannya kemarin udah jalan berdua sampe lupa sama ponakan sendiri,” ucap Lea mengingat Rashi baru saja jalan berdua dengan si Maroko, sudah Lea katakan kalau Rashi sudahi saja pendekatannya, lelaki macam Maroko itu tidak memberikan kepastian, bahkan Lea lebih suka menyebut namanya Maroko, lebih cocok saja.
“Gitu deh,” balas Rashi tampak tidak ingin membahasnya di sini.
“Udah gue bilang berhenti.”
“Tapi guenya sayang banget sama dia,” ucap Rashi pelan.
Lea mendelik, susah kalau bucinnya sudah kumat begini, mau dia ngomong sampai berbusa pun, Rashi tetap saja memertahankan untuk tetap pendekatan dengan Marko. Bukan apa-apa, Lea juga akan sedih kalau ujungnya Rashi malah terkena lelaki yang hanya memberikan harapan palsu.
“Makan deh makan, curhat juga butuh tenaga, mau cebein mulut tukang php juga harus punya tenaga,” ucap Lea kemudian segera memesan makanan yang sudah ia pilih, pun dengan Rashi yang akhirnya memilih makan makanan yang sama dengan Lea.
Duduk bersama dengan El yang memang sejak tadi sudah lebih dulu berada di kantin dengan handphone di tangannya yang Lea yakini lelaki itu tengah bermain game, di mana pun dan kapan pun, memang itu yang selalu El lakukan.
“Ini anak mau curhat kayanya, El.”
Lea yang duduk di samping El menyenggol lengan lelaki itu membuat El yang kehilangan fokusnya dan game yang ia mainkan kalah, “Siall, lo sih, Le. Pake nyenggol segala, kalah ini gue,” gerutunya pada Lea.
“Idih, gitu doang masa kalah, emang lo yang nggak berbakat main game,” ledek Lea.
“Kenapa lagi lo, Rashi teman Gopi?” tanya El kepada Rashi yang duduk di depannya. Gadis itu mendelik, El sudah sama seperti Lea memanggil namanya seenak jidat.
“Emang kalian paling suka banget bikin emosi gue meningkat, lo juga El, nggak usah deh ikut-ikutan manggil gue kek tadi,” ucap Rashi tampak sebal melihat kedua temannya. Yang malah membuat Lea dan El terkekeh semakin menyebalkan di matanya.
“Ya maaf, namanya juga soulmate jadi nggak heran dong kalau gue sama Lea kompakan,” balas El.
Lea yang mendengarnya ikutan mendelik, “Ogah gue soulmate sama lo, cowok kang php anak orang,” cibir Lea pada El.
“Gue kalau sama lo nggak php lah, Le.”
“Halah modus!”