Keinginan Rissa

1362 Kata
Baru kali ini Sean pusing karena anaknya sendiri. Pagi tadi, Rissa meminta Sean untuk membawanya bertemu dengan Ateu, entah kenapa Rissa sampai merengek karena ingin bertemu dengan gadis yang Sean tahu merupakan teman dari adiknya. Bukan Sean tidak ingin membawa Rissa bertemu dengan gadis itu tetapi Sean juga tidak tahu di mana gadis itu berada, menelepon adiknya pun tidak mendapatkan jawaban. Alhasil Rissa mogok makan membuat Sean harus berusaha keras membujuk anaknya untuk makan, katanya ingin makan kalau di suapi oleh Ateu. Lagi-lagi Rissa menyebut panggilan itu, lama-lama Sean jadi penasaran apa yang membuat anaknya begitu lengket meski gadis tersebut bisa di katakan adalah orang baru. “Nggak mau, Papa. Rissa maunya ketemu sama Ateu.” Sean kembali mendengar rengekan anaknya, kali ini Sean sedang membujuk Rissa untuk makan dengan membeli makanan apapun yang di inginkan oleh anaknya. Tetapi cara itu masih belum berhasil, sarapan tadi saja harus Sean bohongi lebih dulu sampai akhirnya Rissa ngambek karena tidak jadi bertemu dengan ateunya. “Udah siang, Sayang. Masa anak cantiknya Papa nggak mau makan siang, nanti jadi sakit, terus nggak bisa ketemu dong sama Ateu.” “Tapi Papa tadi bohong terus, katanya kita mau ketemu, eh di rumah terus,” balas Rissa, bibirnya mencebik, gadis kecil itu tengah memeluk boneka yang di berikan oleh Lea. Sejak tadi tidak mau beranjak dari sofa. “Sekarang beneran ketemu, nanti kita ke rumah Nenek terus suruh Tanten Rashi buat telepon ateunya.” “Kenapa nggak Papa aja yang telepon?” “Kan Papa nggak tahu, Sayang. Atau mau makan di rumah Nenek aja?” “Ya udah, tapi ketemu Ateu ya.” “Iya deh iya, ayo siap-siap kita ke rumah Nenek.” “Hore!” pekik Rissa begitu senang. ** Sesampainya di rumah sang nenek, Rissa langsung berlari masuk dan mencari keberadaan tantenya. Rissa akan meminta kepada Tante Rashi untuk menghubungi Ateu Lea agar ke rumah, tidak sabar ingin bertemu dan main dengan Ateu membuat Rissa begitu semangat sampai tidak mendengar teriakan sang papa yang memanggilnya dan mengatakan untuk tidak berlari. Sementara Sean tampak bernapas pelan melihat kelakuan anaknya, sekarang semangat sekali karena gadis yang Sean sendiri belum tahu sosoknya. Hari ini sengaja Sean meluangkan waktu untuk anaknya, tidak pergi bekerja seperti biasa apalagi setelah ia menyelesaikan masalahnya di Bali waktu itu membuat kepalanya pusing dan butuh sekali istirahat. Sayangnya sang anak malah mau bertemu dengan temannya Rashi, padahal Sean ingin menghabiskan waktu dengan Rissa yang sangat jarang sekali mereka miliki kalau Sean sudah bekerja. Masuk ke dalam rumah, Sean melihat wajah anaknya yang sekarang malah tampak sendu, padahal tadi begitu ceria. Sean menatap adiknya, “Kenapa?” Rashi yang duduk di samping keponakannya tampak merasa bersalah, Rissa memintanya untuk menelepon Lea tetapi saat Rashi berusaha untuk menghubungi sahabatnya, Lea tidak mengangkat telepon, sampai dua kali Rashi berusaha meneleponnya, yang ketiga kali malah teleponnya tidak aktif. “Sahabat aku nggak bisa di hubungi, Kak,” jawab Rashi. “Mungkin ateunya sibuk, Sayang. Nanti Tante Rashi telepon lagi, iya kan, Tan?” Sean mencoba membujuk Rissa, meski sangat sulit karena untuk pertama kalinya Rissa sengotot ini ingin bertemu dengan seseorang. Rashi jadi ikutan membujuk, ia malah tidak menyangka juga kalau keponakannya ini akan menempel pada Lea, tetapi memang pembawaan Lea pada anak kecil begitu asyik dan terlihat sekali begitu menyukai anak-anak, tidak heran kalau memang Rissa juga akhirnya nyaman dengan Lea. “Mungkin Ateu masih di jalan, soalnya tadi nggak bareng pulangnya sama Tante,” ucap Rashi kepada Rissa yang masih ngambek dengan bibir mengerucut. “Main sama Tante aja dulu yuk, main sepeda, kan sepeda punya Rissa masih ada di sini,” bujuk Rashi kembali. Rissa menggeleng, “Nggak mau, maunya main sama Ateu,” lirihnya. Kalau sudah begini Rashi tidak bisa membujuk kembali, ingat kan kalau dia sangat kesulitan dengan anak-anak, kemarin saja meminta bantuan Lea. “Nggak tahu, Kak. Aku nggak bisa bujuk lagi ah,” keluh Rashi pada Sean. Sean yang sejak tadi berada di hadapan mereka akhirnya menghampiri sang anak dan duduk di samping Rissa, “Sekarang kita main dulu atau mau jalan-jalan? Nanti telepon lagi Ateu, Rissa kan anak pinternya Papa,” ucap Sean sembari mengelus rambut anaknya. “Tapi Papa jangan bohong terus, nanti telepon lagi ateunya,” pinta Rissa. “Iya, nanti Tante Rashi juga bakalan telepon lagi.” “Nah, Tante Rashi juga udah janji. Sekarang Rissa mau main di sini atau mau jalan-jalan?” “Jalan-jalan.” ** Sementara itu, Lea sedang bersama dengan El, lelaki itu tadi meminta Lea menemaninya untuk membeli hadiah ulang tahun. Tadi sih El bilang kalau ia akan memberikan hadiah kepada ibunya, karena Lea memang selalu cocok kalau soal memilih barang, jadinya El meminta bantuan kepada Lea untuk memilihkan barang sebagai hadiah. “Lo cari apa?” tanya Lea. “Bagusnya kasih apa?” bukan menjawab, El malah melayangkan pertanyaan kepada Lea. “Tas aja gimana? Nyokap lo kan suka pergi-pergi, jadi cocok tuh kalau di kasih tas, atau lo kasih kalung juga oke, cincin juga bagus sih,” balas Lea memberikan saran hadiah yang akan diberikan untuk ibunya El. “Kalau cincin mending nanti gue kasih ke lo, Le. Cincin pernikahan,” ucap El yang langsung mendapatkan cubitan dari Lea. “Kejam banget lo,” ringisnya. Cubitan Lea memang tidak ada tandingannya, sakit sekali seperti ditinggal lagi sayang-sayangnya.  “Lagian omongan lo itu dipikir dulu, pake acara ngomong nikah. Ogah gue punya suami modelan lo, yang ada nanti gue makan hati karena lo kan suka main hati,” ucap Lea.  “Ya ampun, Le. Mulut lo juga nggak sekolah ya, pake bilang gue suka main hati, gue mah mainnya mobile legend,” balas El. “Ini kita mau milih hadiah atau debat?” Lea nampak geram sementara El terkekeh melihat temannya kesal. “Santuy lah, Le. Lo lagi pms ya, sensi amat lo.” “Iya, gue emang pms. Pengin makan lo!” El bergidik, “Ngeri lo kalau lagi pms, ayo lah kita cari hadiah, nanti makan deh, gue yang traktir.” “Jelas dong, masa gue yang bayar, malu dong di bayarin cewek.” “Gue sih nggak malu, kalau emang lo mau bayarin dengan senang hati gue bakalan nambah banyak,” balas El membuat Lea mendelik. “Potong dulu tuh burung, baru gue bayarin.” “Anjirr! Lea kamvret!” Lea tergelak melihat El yang tengah menutupi tubuh bagian bawahnya. “Ayo deh, lebih cepet dapat hadiah, lebih cepet juga gue makan,” ucap Lea berlalu begitu saja. “Dari tadi perasaan gue udah ngajakin, tuh anak malah bahas burung,” gerutu El melihat Lea yang sudah kembali memilih barang untuk hadiah. ** “Yah handphone gue maati dong,” keluh Lea melihat layar handphonenya yang gelap, padahal Lea hendak menghubungi Geral untuk menjemputnya. “Gue pinjem handphone lo, El. Telepon Kak Geral biar dia jemput ke sini.” Lea mengulurkan tangannya meminta handphone milik El. “Lah, kan gue bisa anterin lo. Ngapain telepon Bang Geral,” ucap El. “Lo kan mau langsung ketemu nyokap, lama lagi kalau nanti anterin gue dulu.” “Aduh perhatian banget cewek satu ini. Gue jadi sayang deh,” celetuk El. Lea mendengkus mendengar perkataan El. Mulut El itu memang sudah di latih menjadi mulut buaya, selalu ada kata manis yang keluar dari mulut lelaki yang duduk di hadapannya ini. Beruntung sekali Lea sudah hatam dengan segala kelakuan sahabatnya. “Sayang pala lo peyang! Udah sini mana handphone lo!” pinta Lea dengan tidak sabaran. “Iya-iya, nggak kalem banget lo jadi cewek,” ucap El memberikan handphone miliknya. Lea pun segera menghubungi Geral dengan handphone milik El, meminta sang kakak untuk menjemputnya di sini. Pas sekali katanya Geral sedang berada di distro dekat tempat makan yang Lea sebutkan. “Udah?” tanya El. Lea mengangguk, “Makasih, bentar lagi Kak Geral datang.” “Gue juga makasih, kan lo udah bantuin gue cari hadiah buat nyokap.” “Hadiah gue nyusul ya, gue mau ketemu nyokap lo juga ah.” “Santuy! Mami pasti senang ketemu sama calon mantu.” “Mantu dari Hongkong!” “Lah emangnya lo asalnya dari Hongkong?”      “Gabriel! Mulut lo belum ngerasain gue timpuk pake petasan.” “Anjirr!” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN