Maunya Ateu Lea

1775 Kata
Sean sedang menemani Rissa makan es krim, setelah berhasil membujuk anaknya, mereka pun pergi sesuai dengan apa yang Rissa inginkan, alhasil sekarang mereka berada di sini, kedai es krim yang memang sudah terkenal dan sangat banyak sekali pengunjung, apalagi remaja sekolahan yang tengah asyik berbincang dengan teman-teman. “Habis ini mau ke mana?” tanya Sean, tangannya mengelap pipi sang anak dengan menggunakan tissue, gadis kecilnya kalau sudah bertemu dengan es krim selalu semangat lagi, wajahnya sudah kembali berseri, tidak seperti tadi yang begitu muram. “Pulang, mau main sama Nenek aja, terus nanti kan telepon Ateu lagi,” jawabnya membuat Sean memijit keningnya, ternyata Rissa masih ingat saja dengan janji tersebut, padahal Sean pikir akan lupa dan tidak lagi bertanya tentang itu.  Bukan melarang tetapi takut saja gadis yang merupakan sahabat adiknya itu kembali tidak mengangkat telepon yang membuat anaknya muram nanti. Sean mau tak mau mengangguk, “Oke, habisin dulu esnya, nanti kita pulang,” ucap Sean akhirnya. Kalau tidak begini, Sean yakin anaknya akan kembali merengek, sebenarnya sihir apa yang di berikan gadis itu kepada anaknya sampai Rissa kembali ingin bertemu sampai merengek begini. Sean ingat dirinya lupa bertanya kepada adiknya perihal nama dari sahabat Rashi yang sudah menemani Rissa selama Sean berada di Bali. Sean hanya tahu panggilan Rissa saja pada gadis itu, yang memanggil dengan panggilan Ateu yang tak lain adalah panggilan lain dari Tante. Terdengar lucu sekali setiap kali Rissa menyebutkannya, seakan begitu dekat dengan gadis tersebut. Padahal sudah jelas kalau tantenya itu Rashi, tetapi anaknya malah tampak lebih bersemangat dengan sahabat dari tantenya. “Nama temannya Tante Rashi siapa, Sayang?” tanya Sean akhirnya, tidak mau dibuat penasaran terus menerus. “Ateu Pa?” Sean mengangguk. “Namanya Ateu Lea, bagus ya, Pa namanya,” lanjut Rissa selalu memuji Lea di depan siapapun. “Lea,” gumam Sean sembari membayangkan bagaimana sosok dari gadis bernama Lea tersebut, Sean berpikir gadis itu begitu lembut sekali karena terlihat begitu dekat dengan Rissa, gadis yang penuh kelembutan kan selalu bisa menarik perhatian anak kecil dan tentu saja Sean membayangkan gadis tersebut juga begitu keibuan. ** “Udah makan, Kak?” tanya Lea pada Geral yang baru saja datang untuk menjemputnya. Geral menggeleng menjawab pertanyaan sang adik kemudian duduk di samping Lea. “Apa kabar Bang Geral?” sapa El. Lelaki itu memang tidak asing dengan kakaknya Lea, bahkan sudah seperti kakaknya sendiri karena Geral juga kerap kali membantunya saat mendapatkan bullyan di masa lalu. “Baik,” jawab Geral singkat. “Masih aja irit ngomong kakak lo, Le,” ucap El pada Lea yang di balas dengan cekikikan, memang sudah begitu watak dari kakaknya, mau bagaimana lagi kan, hanya di rumah saja berbanding seratus delapan puluh derajat. “Mau makan apa, Kak? Aku yang pesan,” ucap Lea menawarkan untuk memesan makanan. “Tumben perhatian,” celetuk Geral. “Aku perhatian salah, nggak perhatian lebih salah, memang aku selalu salah, mengapa aku serba salah,” ucap Lea begitu mendramatisir keadaan. Geral yang memang sudah kebal sekali akan kelakuan adiknya tampak biasa, berbeda dengan El yang menunjukkan muka seolah-olah ingin muntah, benar-benar luar biasa sekali gadis di hadapannya ini, luar biasa ratu dramanya. “Pesan burger sama kopi,” ucap Geral kembali. “Kopi? Nggak nyambung banget sama burger,” balas Lea mendengar apa yang akan di pesan oleh kakaknya. Sejak kapan makan burger dengan kopi? Memangnya sedang makan gorengan, baru enak kalau di tambah kopi atau teh hangat. “Yang mau makan siapa?” “Kak Geral lah.” “Terus kenapa kamu yang repot?” “Astaga ... iya deh iya, aku pesan kopi item biar kek mbah dukun.” Lea beranjak dari kursinya untuk memesan apa yang di inginkan oleh kakaknya, meski menurut Lea itu aneh sekali. Burger dan kopi? Apa nggak sekalian aja, kentang goreng campur nasi padang? Ah ... Lea jadi ikuta ngawur kan. “Uangnya mana?” Lea berbalik badan meminta uang kepada Geral. Geral mengeluarkan dompetnya dan memberikan kepada sang adik, dengan wajah yang berbinar, Lea menerima dompet kakaknya, kalau begini kan enak, Lea juga bisa kembali jajan setelah tadi di traktir oleh El, sekarang bisa puas kembali dengan uang kakaknya. Sepertinya hari ini Lea sedang kejatuhan durian runtuh, beruntung sekali dia. Geral memang selalu begitu, baginya tidak masalah perihal uang, karena selama bekerja pun yang ia pikirkan adalah jajan adiknya, agar Lea tidak selalu meminta kepada orang tua mereka, sebagai kakak lelaki, Geral ingin memberikan yang Lea butuhkan. “Habis dari mana aja lo sama Lea?” tanya Geral kepada El setelah adiknya berlalu untuk memesan makanan. El yang di tanya begitu memang sudah tidak aneh, Geral ini begitu protektif kepada Lea, tetapi memang wajar sih apalagi adik perempuan satu-satunya, kalau El memiliki adik perempuan seperti Lea, ia juga akan bersikap sama seperti Geral sekarang. “Cari hadiah doang buat nyokap, kan Lea selalu jago kalau soal milih memilih barang buat hadiah.” Geral mengangguk, “Malam itu gue lihat Lea balapan,” ucap Geral membuat El yang tengah minum tersedak. El tidak menyangka kalau Geral akan tahu tentang ini, padahal selama ini tidak ada satu orang pun yang tahu kecuali memang dirinya dan  Rashi tentang Lea yang memang suka balapan. “Lain kali, lo kasih tahu gue aja kalau Lea balapan. Gue nggak melarang, karena gue memang tahu apa yang menjadi kesukaan adik gue selama ini, selama ini gue diam bukan berarti gue nggak tahu apa aja yang Lea lakuin di luar.” “Kalau lo masih anggap gue sebagai abang lo juga, gue minta lo kasih tahu gue kalau soal balapan,” pinta Geral sebelum ia melihat Lea yang tengah berjalan menghampiri mereka. El mengangguk, tidak bisa membantah karena memang tidak ada hak untuk El melarang. Apalagi ini tentang Lea, yang sudah pasti menjadi prioritas utama Geral sebagai seorang kakak lelaki untuk melindungi adiknya. “Kok pada diem, mukanya serius amat kek mau lamaran,” celetuk Lea yang sudah kembali bergabung dengan mereka, Lea melihat aura berbeda dari El dan Geral yang tengah duduk saling berhadapan, aura-aura begitu serius. “Nggak ada, ngaco lo kalau ngomong. Siapa juga yang serius,” balas El kembali menetralkan suasana. Hampir saja ia jantungan kalau sudah berbicara dengan Geral, lelaki yang berada di hadapannya ini memang irit sekali bicara tetapi kalau sudah bicara membuat lawan bicaranya jadi bungkam, tidak bisa berkata-kata, apalagi kalau sudah skakmat. “Makasih,” ucap Geral setelah menerima makanan yang di pesankan oleh adiknya. “Kalau gitu gue balik dulu ya, janjian sama nyokap yang lagi ulang tahun kek anak remaja,” pamit El. “Durjana lo sama nyokap,” ucap Lea. “Bercanda, gue balik, makasih ya, Le, lo udah bantuin gue cari hadiah.” “Yoi Bro! Sama-sama, kan gue juga senang karena di traktir makan,” balasnya dengan senyum mengembang, soal makanan itu nomor satu untuk Lea, apalagi kalau di dapat dengan gratis, sudah paling depan lah dia. “Gue pamit dulu, Bang,” ucap El kali ini pada Geral yang sudah menyelesaikan makannya. Geral mengangguk, “Hati-hati,” ucapnya. “Siap!” El pun pamit pulang membiarkan Lea bersama dengan Geral. “Jangan dulu pulang ya, Kak,” ucap Lea setelah melihat Geral menghabiskan makanannya, tersisa kopi yang sudah Geral habiskan setengahnya. “Mau ke mana lagi?” tanya Geral. “Beliin novel dulu ya, kan Kak Geral baik hati, nggak sombong, rajin jajanin Lea yang cantik ini,” ucap Lea dengan penuh permohonan. Geral mendengkus, Lea ini malah memuji diri sendiri, tetapi tak urung mengangguk membuat Lea memekik senang. Kalau begini kan Lea jadi makin sayang pada kakaknya, ya sayang lah, novel terbaru sebentar lagi Lea dapatkan tanpa menguranggi uang jajannya. ** “Tante Rashi!” Rissa berlari sembari memanggil tantenya membuat Rashi yang sedang berada di kamar tengah melakukan cat kukunya mendengkus mendengar teriakan keponakan kesayanannya, pasti akan kembali menanyakan tentang Lea. Tadi, setelah Sean dan Rissa pergi jalan-jalan, Rashi sempat kembali menghubungi Lea, tetapi sahabatnya itu masih tidak menjawab dan handphonenya malah maati. Rashi tidak tahu Lea sedang di mana dan bersama siapa, karena tadi memang Rashi pulang lebih dulu bersama dengan sang gebetan yang tidak juga menjadi pacar. Brugh! Pintu kamarnya terbuka cukup kencang, membuat Rashi mengelus dadaa karena kelakuan keponakannya ini. Rashi heran sekali, kenapa Lea bisa tahan dengan Rissa yang menurutnya begitu merepotkan, anak kecil di matanya memang selalu merepotkan, tidak sadar kalau dirinya juga pernah kecil. “Tante udah telepon Ateu Lea belum? Nenek mau pergi, aku nggak mau main sama Tante, maunya sama Ateu Lea aja,” ucap Rissa membuat Rashi mendengkus, sekarang dirinya menjadi nomor ke sekian setelah Lea. “Ateu Leanya sibuk, besok aja mainnya.” “Huwaaaa ... Papa ... Nggak mau! Rissa mau ketemu sama Ateu!” jerit Rissa membuat Rashi jadi kelabakan karena keponakannya sudah menangis begitu kencang, membuat Sean juga yang baru masuk ke dalam kamar adiknya ikut kelabakan melihat anaknya menjerit dan menangis kencang. “Kamu gimana sih? Bukannya di bujuk malah ngomong kaya tadi,” omel Sean kepada Rashi. Padahal tadi anaknya sudah anteng sekali, setelah makan es krim lalu bermain di bawah dengan neneknya, karena memang Ibu Sean akan pergi jadi Rissa tidak main lagi dengan sang nenek, malah langsung ke kamar atas menemui tantenya, sekarang malah jadi begini, gadis kecilnya malah menjerit-jerit. “Ya emang gitu, Kak. Lea belum bisa di hubungi, kayanya sibuk jadi percuma kalau harus ke sini dianya,” balas Rashi setengah sewot tidak mau di salahkan seperti ini oleh kakaknya. “Nanti aku ngomong lagi sama Lea, sekarang bujuk deh anaknya, kepala aku pusing kalau udah dengar anak kecil nangis,” lanjutnya. “Kamu kan tantenya, bujuk juga dong,” desak Sean. “Udah tahu aku nggak suka sama anak kecil.” “Ini kan keponakan kamu Arashi!” “Huwaaa .... Papa sana Tante malah berantem!” Sean dan Rashi meringis kompak mendengar teriakan Rissa, memang keduanya tidak melihat situasi, sedang genting begini malah berdebar bukan membujuk Rissa kembali. Tetapi memang keduanya sama-sama bingung karena Rissa tidak mau berhenti menangis. “Ya udah kita ke rumahnya aja,” putus Sean akhirnya. Mendengar perkataan papanya membuat Rissa berhenti menangis, kedua matanya yang sudah memerah karena air mata tampak kembali berbinar, sementara Rashi yang sejak tadi menutup telinga dengan kedua tangannya melihat sang keponakan sudah diam, akhirnya bisa bernapas lega. “Aku siap-siap dulu,” ucap Rashi. “Yuk tunggu di bawah, kan yang tahu rumah Ateu Lea itu Tante Rashi jadi nunggu Tante ganti baju dulu,” ajak Sean kepada Rissa yang di angguki oleh anaknya. Sean memijit pelipisnya, kenapa anaknya jadi seperti ini, apa memang gadis bernama Lea itu sudah memberikan sihir kepada anaknya. Ah ... Sean jadi berpikir yang tidak-tidak kan kalau seperti ini. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN