Tok tok tok. Ketukan pintu kamarnya dan suara bundanya membuat Lea yang baru saja selesai mengeringkan rambut menoleh, menyimpan sisir di tempat semula, Lea berjalan untuk membuka pintu kamar yang memang tadi ia kunci saat sedang mandi.
“Ada apa, Bun?” tanya Lea mendapati bundanya berada di balik pintu kamar.
“Ada Rashi di bawah sama kakaknya gitu cari kamu.”
Lea mengernyit. Kalau Rashi saja sih sudah biasa tetapi kalau kakaknya Rashi, untuk apa datang ke rumah? Apa mungkin mengantar Rashi saja, tetapi aneh sekali padahal hanya berbeda blok saja, masa iya sih, Rashi datang bersama dengan kakaknya.
“Lea ganti celana dulu deh,” ucapnya menyadari kalau ia hanya memakai celana pendek, bundanya mengangguk, membiarkan Lea berganti pakaian lebih dulu.
Lea pun kembali menutup pintu dan bergegas mengganti celananya. Ayah dan kakaknya memang kerap kali menegur kalau Lea memakai celana pendek atau baju tanpa lengan, tidak memperbolehkan Lea memakai celana atau baju pendek meski di dalam rumah, hanya boleh di pakai di dalam kamar saja. Jadi Lea pun menurut saja, daripada mendapatkan omelan dari kedua lelaki itu. Bisa-bisa telinganya panas mendengarnya.
Selesai berganti pakaian, Lea pun menghampiri Rashi yang sudah menunggu di ruang tamu. Perasaannya jadi tidak menentu mengetahui kalau Rashi datang dengan kakaknya, aneh sekali seperti sedang mau di lamar saja, padahal kan hanya kakaknya Rashi bukan oppa korea yang datang ke rumah.
“Ateu!”
Seruan itu membuat Lea yang sejak tadi larut dalam pikirannya tersadar, hapal sekali dengan suara itu, siapa lagi kalau bukan suara milik gadis kecil nan manis yang beberapa waktu lalu membuat Lea senang karena bisa bermain dengan Rissa, keponakan dari sahabatnya, Rashi.
Senyum di wajah Lea mengembang melihat keberadaan Rissa yang juga begitu antusias bertemu dengan dirinya. Namun tatapan Lea terpusat pada seorang lelaki yang duduk di samping Rissa, astaga ... Lea mau meleleh saja kalau begini caranya, apakah tadi malam Lea bermimpi di lamar oleh oppa korea, sampai-sampai hari ini Lea bertemu langsung dengan oppa korea.
“Lea,” tegur bundanya mendapati sang anak gadisnya malah terdiam tanpa menyapa tamu yang datang.
“Eh!” Seolah tersadar akan segala macam pikiran kehaluannya, Lea meringis, malu sekali kedapatan terpesona pada lelaki yang berada di hadapannya.
“Halo, Rissa. Kita ketemu lagi di sini,” sapa Lea kepada Rissa yang masih tersenyum lebar menatapnya.
Gadis kecil itu beranjak dari kursi dan menghampiri Lea yang sudah duduk di samping bundanya, “Ateu, kenapa nggak di angkat telepon dari Tante Rashi? Kan Rissa mau ketemu terus main juga kaya kemarin,” ucapnya setelah berada di samping Lea.
“Maaf ya cantik, tadi Ateu emang lagi nggak di rumah terus handphonenya habis batre jadi nggak bisa terima telepon dari Tante Rashi deh,” balas Lea tersenyum, kemudian kedua matanya menatap ke arah Rashi dan melotot seolah mengatakan kenapa lo nggak bilang mau ke sini sama Rissa. Namun yang ditatap malah tampak acuh.
“Kalau gitu Bunda tinggal ya, kalian ngobrol aja,” pamit bundanya.
“Makasih ya, Tante, kuenya nih,” ucap Rashi yang memang tadi di jamu dengan kue buatan bundanya Lea. Rashi kan jadi senang karena kembali memakan kuenya.
“Iya, nanti kapan-kapan kita bikin bareng Lea.”
“Yah ... Tante kaya nggak tahu aja, aku pasti bikin berantakan bukan bantuin,” balas Rashi sembari terkekeh.
“Tenang ada Lea yang jago beres-beres,” jawaban sang bunda malah membuat Lea memutar bola matanya, selalu begitu, ujungnya Lea yang membereskan.
Sepeninggalan bundanya, Lea malah jadi canggung, apalagi sejak tadi lelaki yang duduk di samping Rashi begitu terang-terangan memperhatikan dirinya. Lea kan jadi dag-dig-dug karena di perhatika seperti itu, apalagi sama cogan. Tetapi Lea pura-pura tidak tahu saja, memilih untuk mengobrol dengan Rissa yang tengah bertanya ini-itu kepadanya.
“Lo tadi dari mana, Le? Gue telepon nggak di angkat, eh malah handphone lo maati.” Rashi akhirnya memecah keheningan membuat Lea yang sejak tadi tengah menyuapi Rissa menoleh ke arah sahabatnya.
“Bantuin El cari hadiah, tadi gue lupa silent handphone terus tahu-tahu udah habis batre,” jawab Lea, sesekali melirik lelaki yang masih saja diam di samping Rashi.
Rashi mengangguk, ia lupa sekali kalau tadi El memang mencari Lea untuk membantunya mencari hadiah ulang tahun. “Oh iya, ini kenalin, Le. Kakak gue, papanya Rissa,” ucap Rashi mengenalkan Sean kepada Lea.
Lea tersenyum mengulurkan tangannya tanpa ragu, “Aeleasha, panggil aja Lea,” ucapnya.
“Sean.”
Singkat sekali membuat Lea menggerutu dalam hati. Tipikal kakaknya sekali kalau seperti ini, tidak ada basa-basi, langsung ke tujuan inti.
“Ateu, nanti kita jalan-jalan lagi ya, Rissa mau main lagi sama Ateu Lea, boleh kan?” tanya Rissa kepada Lea membuatnya tersadar kalau ia masih menjabat tangan Sean, karena terlalu terpesona akan ketampanan lelaki yang berada di hadapannya. Sumpah demi apapun, kakaknya Rashi mirip sekali dengan aktor korea! Pekiknya dalam hati.
“Oh, boleh, nanti kasih tahu aja kalau mau jalan-jalan,” balas Lea ramah, jalan sama papanya juga boleh banget, lanjutnnya dalam hati.
“Asyik!” pekik Rissa begitu senang mendengar jawaban Lea, “Tuh kan, Pa. Nggak apa-apa, Ateu mau jalan sama kita,” ucapnya kembali kali ini pada sang ayah. Sean hanya diam saja, namun tidak lama mengangguk singkat.
Lea yang memang memperhatikan Sean hanya bisa bergumam dalam hati, Lea ingin mencaritahu tentang Sean pada Rashi, seingatnya Rashi pernah mengatakan kalau kakaknya sudah bercerai dengan istrinya, berarti yang di maksud oleh Rashi itu Sean kan, karena tidak ada kakak lagi.
**
Lea berbaring di atas tempat tidur, tadi Lea cukup lama bermain dengan Rissa di rumahnya, gadis kecil itu malah tidak mau pulang kalau Lea tidak berjanji akan jaan-jalan dengannya. Untuk membujuk Rissa agar mau pulang, apalagi melihat wajah papanya begitu menyeramkan sekali di mata Lea, tatapan mata yang begitu tajam seolah mengatakan kalau Rissa harus pulang, membuat Lea akhirnya berjanji kepada Rissa untuk jalan-jalan bersama, Rissa pun mau pulang setelahnya.
Jangan tanya Rashi bagaimana saat itu, bahkan tidak membantu membujuk keponakannya sendiri, malah menikmati apa yang memang Rashi lihat tadi. Sungguh terlalu sekali memang sahabatnya itu.
Lea baru saja selesai makan malam dengan keluarganya, memilih untuk masuk ke dalam kamar setelah menonton televisi dengan Geral tadi, kemudian Lea kembali memikirkan pertemuan pertamanya dengan papanya Rissa alias Sean.
Lelaki yang begitu dewasa itu tipenya sekali, persis seperti aktor korea yang membuat hatinya dag-dig-dug tadi. Bukannya memikirkan begitu menyenangkan jalan bersama Rissa kembali, Lea malah membayangkan mereka -Lea, Sean dan Rissa- jalan bersama layaknya keluarga kecil bahagia.
Lea menjitak kepalanya sendiri, “Ngapain gue mikir ke sana,” ucapnya kemudian memegang kedua pipinya yang terasa panas. Astaga ... kenapa dengan perasaannya.
Lea mengambil handphone yang berada di atas meja belajarnya, sejurus kemudian menekan kontak dengan nama ‘Saudara Gopi’ dan memulai panggilannya.
“Kenapa?” tanya Rashi di seberang telepon tanpa ada niatan basa-basi.
“Kakak lo ganteng juga, Shi.” Rashi tidak berbasa-basi, apalagi dengan Lea, gadis itu malah langsung mengatakan yang sejak tadi sore ingin Lea katakan kepada Rashi.
“Terus? Lo suka?”
“Emang boleh?”
“Udah ketahuan banget lo, Lea. Lagian tadi aja sampe terpesona gitu sama kegantengan kakak gue,” ucapnya.
Lea terkikik, memang Rashi itu paling mengerti sekali dan cepat peka dengan dirinya, sekali lihat saja tebakan Rashi langsung tepat sasaran. Tetapi kalau soal gebetannya, malah tidak sepeka ini, di gantung seperti jemuran pun, masih aja Rashi pertahankan. Lea kalau sudah begini kan jadi geram.
“Habisnya kan gue nggak bisa pura-pura jaga perasaan, baru kali ini gue dag-dig-dug di tatap sama cowok.”
“Itu lo takut kali sama Kak Sean, bukannya suka.”
“Anjirr! Gue juga bisa bedain dong Rashi saudaranya Gopi, mana takut sama mana jatuh cinta pada pandangan pertama,” ucap Lea sewot.
“Tapi kakak gue kan duda, Le.”
“Terus kenapa?”
“Ya kali lo mau sama duda.”
“Lah kalau dudanya macam Kak Sean sih gue terobos aja, lagian kalau nggak ada oppa lajang, duda pun nggak masalah bagi gue.”
“Luar biasa sekali sahabat gue, terus si El mau gimana?”
“Lah! Emang kenapa sama dia?” tanya Lea bingung. Kenapa tiba-tiba Rashi jadi membahas El begini.
“Bukannya dia suka sama lo ya?”
“Hah?! Ngadi-ngadi lo, nggak mungkin lah,” balas Lea sembari tertawa. El suka padanya? Yang ada malah Lea terpingkal kalau sampai El menyukainya, tidak mungkin sekali apalagi selama ini mereka sudah berteman cukup lama.
“Gue perhatiin gitu, habisnya dia kalau sama lo beda banget, Le.”
“Perasaan lo aja kali atau lo yang cemburu karena El deket sama gue tapi sama lo malah perang terus?”
“Idih! Nggak ada tuh ceritanya Arashi cemburu sama cowok modelan dia,” sewotnya yang malah membuat Lea kembali terkekeh. Memang Rashi dan El itu tidak pernah bisa akur, ada saja yang membuat mereka berdebat, Lea sih suka saja melihatnya, malah seperti tengah menonton perdebatan sepasang kekasih.
“Btw ini tadi gue lagi ngomongin kakak lo, kenapa jadi si El sih. Kembali ke topik utama deh, ini gue seriusan sama kakak lo, Rashi, woy!”
“Lah gue kira bercanda.”
“Seriusan ini gue, Arashi.”
“Iya-iya terus gimana?”
“Bantuin gue lah biar dekat sama kakak lo.”
“Kalau itu susah,” ucap Rashi membuat Lea mencebik.
“Nggak ada yang susah buat Aeleasha, walau harus mendaki gunung, melewati lembah—“
“Ninja hatori dong,” Rashi memotong perkataannya.
“Ya begitu lah jalan ninjaku.”
“Seriusan Lea!”
“Dari tadi gue udah serius Rashi saudaranya Gopi. Lo aja yang malah motong gue lagi ngomong.”
“Habisnya kaya nggak serius.”
“Pokoknya gitu deh, siap-siap lo jadi ipar gue.”
“Lah gue sama Kak Geral gitu? Bukannya kakak lo udah punya tunangan.”
“Arashi! Gue kan bilang ini serius!”
“Ya maaf, lanjutkan. Aeleasha.”
“Sekian dan terima kasih.”
Tut
Lea mematikan teleponnya. Membuat Rashi di seberang sana mengumpat, sementara Lea kembali tergelak, memang selalu seru kalau sudah menjahili Rashi.