Setelah bertemu dengan Lea, Rissa tampak kembali ceria membuat Sean heran saja kenapa anaknya begitu senang sekali bertemu dengan gadis yang merupakan sahabat dari adiknya itu. Sean akui gadis bernama Lea itu memang cantik dan menarik, namun tidak lantas membuatnya menyukai gadis itu pada pertemuan mereka yang pertama.
Sean memang memperhatikan bagaimana cara Lea berbicara dengan Rissa dan bagaimana gadis itu memperlakukan Rissa dengan begitu baik, terlihat sekali perhatian yang tidak di buat-buat. Bahkan untuk pertama kalinya, Rissa tersenyum lebar dengan orang yang baru di kenalinya tidak lama ini, membuat Sean semakin penasaran dengan sosok gadis yang memiliki nama asli Aeleasha.
“Pa, beneran ya nanti kita jalan-jalan sama Ateu Lea. Pokoknya Papa nggak boleh bohong,” ucap Rissa setelah mereka sampai di rumah. Sementara Rashi sudah lebih dulu naik ke kamarnya.
Sean yang duduk di samping Rissa mengangguk, tidak akan mudah untuk menolak apa yang di inginkan oleh anaknya, apalagi sekarang permintaannya adalah jalan-jalan bersama dengan Lea. Sepertinya mulai hari ini Sean akan sering bertemu dengan Lea jika anaknya ingin bertemu dengan gadis itu.
“Papa kok nggak jawab sih.” Rissa tampak cemberut karena melihat Sean yang hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun kepadanya.
“Barusan kan Papa ngangguk.”
“Tapi kan enggak ngomong,” balasnya yang malah membuat Sean terkekeh.
“Iya deh iya, maaf ya sayangnya papa. Rissa boleh kok jalan sama Ateu Lea, nanti kita jemput jadi bisa jalan-jalan bareng,” ucap Sean akhirnya menyetujui apa yang di inginkan oleh anaknya.
“Asyik! Makasih ya Pa,” pekiknya senang sekali karena bisa jalan-jalan dengan Lea.
Sean tersenyum melihat betapa cerianya sang anak, sudah lama sekali Sean tidak melihat Rissa yang bersemangat seperti ini dengan wajah berseri, selama ini Sean tahu ia memang kerap kali meluangkan waktu untuk anaknya agar tetap merasakan kasih sayang darinya, tetapi tidak pernah Sean melihat anakya bersemangat seperti ini, kali ini benar-benar berbeda, hanya karena seorang gadis bernama Aeleasha.
“Kamu mandi ya, di bantu sama Bi Ninu,” ucap Sean, Ninu adalah asisten rumah tangganya yang baru, pengganti yang lama karena Bibi yang sebelumnya pulang kampung saat anaknya menikah dan tidak di ijinkan untuk kembali ke kota oleh anaknya.
Rissa mengangguk, kemudian mencari keberadaan bibinya, Sean pun menaiki tangga menuju kamarnya, hari ini membuat ia lelah, tidak hanya karena rengekan anaknya sebelum bertemu dengan Lea tadi, tetapi juga memikirkan tentang Lea, kenapa bisa gadis itu merebut perhatian anaknya seperti ini.
**
Rashi menatap Lea yang sejak tadi senyum-senyum sendiri, sepertinya otak Lea sedang bermasalah sampai tidak ada yang lucu pun, gadis itu malah tersenyum, pikir Rashi melihat sahabatnya. Pun dengan El yang bersama dengan mereka, melihat Lea yang seperti orang kasmaran bertanya-tanya apa yang terjadi kepada sahabatnya.
“Le, lo masih waras kan?” celetuk El membuat Rashi yang duduk di hadapan El terbahak mendengarnya dan Lea melotot ke arah lelaki itu.
“Lo mau gue congkel itu mata,” ancam Lea membuat El bergidik, kalau sedang kesal memang Lea ini tidak bisa mengontrol perkataannya, seram sekali membayangkan matanya akan di congkel oleh Lea. “Lagian kalau ngomong itu yang waras juga, El. Nanya kok kaya gitu, bikin orang naik darah,” gerutunya.
“Ya maaf, Le. Habisnya lo sih, ngapain senyum-senyum sendiri, perasaan nggak ada yang lucu, lo lagi jatuh cinta ya?”
“Kok lo tahu sih?” Senyum di wajah Lea tercetak jelas membuat El yang tadinya hanya iseng saja dengan pertanyaan tersebut malah menjadi bungkam dibuatnya. Tidak menyangka kalau Lea akan menjawab dengan jujur tanpa basa-basi atau mengelak sama sekali.
“El tumben banget lo pinter,” ucap Rashi. Kalau Rashi sih sudah tahu apa alasan Lea yang sejak tadi senyum sendiri, tetapi enggan untuk membahas, apalagi takut Lea yang memang tidak mau membahasnya karena ada Gabriel.
“Nebak aja,” balasnya singkat.
Lea masih tersenyum lebar membayangkan pertemuan pertamanya dengan papanya Rissa, Sean si duda tampan dan menawan. Lea tidak menyangka kedekatannya dengan keponakan Rashi itu malah membawanya bertemu dengan Sean seperti ini, Lea juga tidak menyangka Rissa jadi lengket dengannya, seperti ada lem yang memang merekatkan mereka.
“Dia kenapa sih?” kali ini El bertanya kepada Rashi. Heran saja, tidak biasanya Lea seperti ini dan tadi gadis itu mengatakan kalau sedang jatuh cinta.
El jadi penasaran siapa lelaki yang membuat Lea jatuh cinta sampai berseri-seri seperti ini. Gadis bar-bar yang di kenalnya sulit sekali untuk jatuh cinta padahal sudah sangat jelas banyak lelaki yang menyatakan cinta kepadanya, sekarang malah sedang kasmaran begini.
Rashi mengedikkan bahunya, “Tanya aja sama orangnya biar jawaban lebih jelas, bukannya tadi lo juga udah nebak kalau Lea lagi jatuh cinta,” jawab Rashi.
Lea yang sejak tadi bergelut dengan pikirannya kembali sadar akan keberadaan kedua sahabatnya. “Menurut kalian gue bisa nggak sih jadi sosok ibu pengganti yang baik hati kaya bidadari?” tanya Lea membuat Rashi dan El kompak menatapnya.
Dahi El mengernyit, “Maksud lo gimana Le?”
“Dia itu lagi jatuh cinta sama duda, El,” celetuk Rashi.
“Hah?!”
Keterkejutan jelas sekali di wajah El, lelaki itu menatap Lea dengan begitu lekat, meminta penjelasan dengan apa yang sudah Rashi katakan adalah benar, El butuh penjelasan, apa benar sahabatnya yang bar-bar ini terjerat dengan pesona seorang duda.
“Ini beneran?” tanya El kepada Lea, lelaki itu benar-benar ingin mendapatkan jawaban yang jelas dari Lea.
Tanpa ragu sama sekali Lea mengangguk, “Gue emang lagi jatuh cinta sama duda, El.”
Jawaban Lea yang terdengar tidak ada keraguan membuat El terpaku, tidak menyangka saja kalau lelaki yang sedang Lea sukai adalah seorang duda, apa Lea tidak melihat lelaki yang masih lajang tanpa buntut. Kenapa harus dengan duda? Dan ada apa dengan hatinya? Kenapa El merasa ia tidak ingin kalau Lea jatuh cinta pada lelaki lain seperti ini?
**
Lea mengumpat saat ban mobilnya mendadak error alias bannya kempes, padahal masih jauh sekali posisi rumahnya berada. Kenapa harus sekarang ban mobilnya kempes begini, belum lagi langit sore ini tidak bersahabat sama sekali, kalau tiba-tiba hujan kan nggak lucu Lea basah kuyup seperti tikus yang baru masuk ke got.
Berdiri di samping pintu mobilnya, Lea tampak berpikir, ada sih ban cadangan di belakang bagasi mobilnya, tetapi masalahnya adalah ia tidak bisa mengganti ban sendiri, Lea bukan lah wonder women, bukan juga seperti perempuan dalam drama korea yang memiliki kekuatan super sampai bisa mengangkat mobil dengan tangannya sendiri.
“Gimana dong ini,” gumamnya resah dan gelisah, begitu yang Lea rasakan sekarang. Kalau dia harus menghubungi kakaknya, Lea tidak mungkin mengganggu kakaknya yang tadi pagi mengatakan akan super sibuk di hari ini, Lea juga tidak punya kenalan orang bengkel yang bisa membantunya.
“Ah, telepon si El,” ucapnya mengingat sang sahabat lelakinya. Lea pun kembali ke dalam mobil dan mengambil handphone yang berada di dalam tasnya. Tidak lama, ia segera menghubungi El untuk meminta bantuan.
Lea mendengkus, kalau sedang butuh begini, sahabatnya itu malah tidak mengangkat teleponnya, padahal Lea tahu kalau tadi El sudah pulang lebih dulu. “Ah, dasar kamvret.”
“Kenapa?”
“Astagfirullah! Bikin kaget aja.” Lea begitu terkejut dengan keberadaan seseorang di belakangnya. Matanya membulat dengan wajah yang berseri melihat siapa yang saat ini berada di hadapannya ketika ia membalikan badan. “Eh, papanya Rissa,” ucap Lea tersenyum malu-malu.
Lelaki itu memang Sean. Entah kenapa tadi saat Sean melihat Lea, ia jadi penasaran apa yang sedang di lakukan oleh gadis itu di pinggir jalan, Sean tidak ingin memperhatikan namun hati kecilnya malah tidak bisa mengabaikan keberadaan Lea. Alhasil Sean menghentikan mobilnya tepat di belakang mobil milik Lea dan menghampiri gadis tersebut.
“Kenapa nongkrong di pinggir jalan?” tanya Sean kepada Lea.
Lea mencebik. Nongkrong katanya? Mana ada ia nongkrong sendiri di pinggir jalan seperti ini. Astaga ... untung saja si duda tampan dan rupawan yang mengatakannya, kalau orang lain, sudah habis lah Lea keluarkan jurus macan ngamuk.
“Iya, gue lagi nongkrong di pinggir jalan biar kek gembel,” balas Lea ketus. “Udah tahu bannya kempes, malah dikira nongkrong pinggir jalan, nggak sekalian nongkrong pinggir kali,” lanjutnya agak sewot.
Sean menggeleng melihat kelakuan Lea yang berbanding terbalik dengan hari pertama mereka bertemu, Lea yang di matanya kala itu begitu sabar dan telaten sekali kepada anaknya, ternyata jauh berbeda dengan Lea yang Sean temui hari ini. Gadis itu sepertinya bukan gadis biasa, cukup bar-bar di mata Sean.
“Bawa ban lagi?” tanya Sean tanpa repot-repot membalas perkataan Lea yang panjang di kali lebar tadi. “Kayanya harus di ganti, bukan kempes doang kalau ini,” lanjutnya melihat keadaan ban mobil milik Lea.
“Oh, Om tukang bengkel ya, kok tahu sih?” tanya Lea dengan wajah polosnya. Ingin sekali Sean menggaruk wajah gadis di hadapannya, bisa-bisanya Lea memanggil Om kepadanya. Memangnya sejak kapan Sean menikah dengan tantenya?
“Bukan, namanya juga cowok pasti tahu lah masalah ginian.”
“Berarti cowok juga tahu masalah hati cewek?”
Sean mendelik, “Nggak nyambung,” ketusnya.
Lea terkekeh, “Ya bisa aja di sambungin, biar hati Om sama gue tersambung menjadi satu ke satuan,” celoteh Lea yang membuat Sean pusing sekali dengan ocehan gadis itu yang sudah ngawur.
“Bannya ada nggak? Atau mau di tinggal aja?”
“Ya jangan!” seru Lea. “Ada, jangan kan ban, hati gue aja ada buat Om.”