“AINI, Sayang? Bangun.” Y-Yusuf? “Bangun. Subuh dulu, Humairaku. Habis itu masih banyak yang harus kamu lakukan, kan? Bangun, Aini. Bangun....” Suara itu menyadarkan dirinya. Perlahan, Aini membuka matanya; kemudian melihat sekeliling. Dia berada di sebuah ruangan yang familiar. Kamarnya. Yusuf berdiri di sisi ranjang mereka, membelai kepala Aini dengan lembut. Saat kemudian ia mencium dahi carang istrinya, lama sekali, kenyamanan itu kembali lagi merayapi tubuh Aini. Aini tersenyum, berusaha duduk seraya memandang suaminya mengamati. “Kamu ... mau ke mana?” Melihat pakaian serba putih yang Yusuf kenakan, ia mengernyit, tak bisa menemukan alasan yang tepat kenapa lelaki di hadapannya ini mengenakan kostum itu. Raut wajahnya pun terlihat jauh lebih damai, lebih tenang, menghasilkan Yusu

