29 : SEPI TANPA-MU

1947 Kata

Laksus, 8 malam. Kedatangan Aini dan Umam tadi siang tidak menghilangkan kesan sepi yang tercipta di sel ini. Sel pribadinya, tepat. Sekilas, ketika mendengar kata pribadi, sebuah tempat akan terasa eksklusif dan menyenangkan karena semua bisa dimiliki sendiri. Tapi bila kata itu disandingkan dengan kata sel, ke-eksklusifan tadi tidak akan terasa semenyenangkan itu. Sel ini lebih tepatnya merupakan tempat Yusuf bermojok ria sambil melakukan sesuatu yang agak berguna. Semenjak dijebloskan ke tempat ini, ia kembali melakukan hobi lamanya yakni menulis. Hanya catatan harian yang “aman” dalam bentuk puisi. Tulisan itu adalah salah satu caranya untuk mendokumentasikan apa yang terjadi di sini agar dapat diceritakan pada Aini nanti, kalau—atau ketika—ia bebas. Untungnya, para tentara itu tak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN