BAB 7 — Hadiah yang Tidak Memilih

634 Kata
Fajar ketujuh telah tiba. Raka membuka matanya lebih cepat dari biasanya. Bukan karena mimpi buruk… tapi karena getaran halus dari dalam dadanya. Ada sesuatu yang berubah sejak pertemuan dengan Lima Penjaga. Sesuatu yang tidak terlihat… tapi sangat terasa. Ketika ia duduk di atas tikar bambu, sistem muncul dengan suara yang lebih dalam dari biasanya. > {Selamat datang di Hari ke-7: Aktivasi Hadiah Login Harian} {Hadiah Spesial Telah Dibuka. Hadiah bersifat unik dan tidak bisa dipilih. Ia memilih pemiliknya.} Raka menatap layar hologram itu dalam diam. Kali ini, sistem tidak memberinya pilihan. Hanya satu kalimat: > {Hadiah: KUNCI YANG TIDAK MENCARI PINTU} "Apa maksudnya…?" Kael masuk dari pintu belakang. "Kau terlihat… terguncang." "Aku diberi hadiah. Tapi bukan benda. Bukan senjata. Bukan petunjuk. Hanya… kalimat." Kael mendekat. "Sistem memberi sesuai apa yang akan kau butuhkan, bukan yang kau inginkan." Raka mengangguk pelan. "Kunci yang tidak mencari pintu… artinya, aku harus menemukan pintunya sendiri." --- Di tempat lain, Aluna sudah memulai perjalanannya. Ia melewati tebing dan sungai, membawa buku warisan dan liontin kecil di lehernya. Setiap langkahnya dituntun oleh bayangan kakaknya. Di bawah sinar matahari pagi, sistem-nya muncul: > {Sinkronisasi Hadiah Harian: Anda tidak mendapatkan hadiah.} {Alasan: Anda bukan Pemegang Utama.} Aluna menggigit bibir. "Kalau begitu… aku akan mencuri takdirku sendiri." --- Hari itu, suasana desa mendadak berubah. Langit mendung meski tak ada awan. Angin berhenti berhembus. Kael menghunus tombaknya lebih awal. "Apa itu?" tanya Raka. "Sesuatu telah mendeteksi hadiahmu. Sesuatu… yang tidak ingin kau menyentuh kebenaran." Dari tengah sawah, sebuah lubang muncul. Bukan lubang biasa—tapi retakan waktu. Dari dalamnya, keluar sosok berjubah hitam, membawa cermin besar di punggungnya. "Aku Utusan Cermin," suaranya bergema tanpa emosi. "Hadiahmu… tidak terdaftar dalam protokol umum. Maka kau dianggap anomali. Dan aku diutus untuk… menghapusmu." Raka langsung bersiap, tapi Kael melangkah ke depan. "Aku yang akan menghadapinya." --- Pertarungan terjadi tanpa suara. Setiap serangan seperti membelah udara. Tombak Kael dan bayangan cermin bertabrakan. Tapi semakin lama, Kael mulai terdorong. Sosok itu bukan manusia. Ia… sistem yang menjelma bentuk. Raka mencoba masuk, tapi setiap kali mendekat, refleksi dirinya sendiri muncul dari cermin dan menahannya. Refleksi yang tahu semua kelemahannya. Semua keraguannya. "Kunci yang tidak mencari pintu…" Lalu ia melihatnya—retakan di cermin. Bukan dari luar, tapi dari dalam. > {Hadiah Teraktivasi: Kunci Memasuki Realitas Kedua} Raka menjerit, memanggil kekuatan warisan yang belum ia pahami. Tiba-tiba, tubuhnya ditarik masuk ke dalam refleksi. --- Ia terbangun… di dunia cermin. Segalanya terbalik. Langit di bawah, tanah di atas. Suara tidak punya sumber. Dan di tengah semuanya, berdiri seseorang… dirinya sendiri. "Aku adalah kau, yang akan gagal." Raka terdiam. "Kau tidak akan bisa mencapai menara. Kau tidak akan bisa melindungi Aluna. Kau hanya akan mewarisi darah… tapi tidak takdir." Raka maju. "Aku tahu aku belum siap. Tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan mencari pintunya… dan kuncinya telah memilihku." Bayangannya tersenyum. "Kalau begitu, mari kita lihat apakah kau layak membawa beban itu." --- Di dunia nyata, Kael mulai terdesak. Sosok Utusan Cermin menghimpun cahaya dari matanya, membentuk sinar terakhir. Tiba-tiba, cermin retak dari dalam. Dan tubuh Raka muncul dari ledakan itu—membawa cahaya di tangannya. > {Kunci Terbentuk: Cahaya Pilihan Tak Tercatat} Ia menebas sosok itu sekali. Dan dalam sekejap… lenyap. --- Senja tiba. Desa kembali tenang. Tapi Kael duduk terdiam, wajahnya pucat. "Apa itu tadi…?" Raka menatap langit. "Hadiah yang tidak memilih. Ia tidak datang untuk membantuku… tapi untuk menantangku." Di dalam pikirannya, sistem memberi satu pesan: > {Tahap 2 dari Warisan Darah akan dimulai.} {Hadiah berikutnya: hanya untuk mereka yang kehilangan sesuatu… secara sukarela.} Raka menutup matanya. “Kalau begitu… apa yang harus kukorbankan selanjutnya?” --- Di pegunungan jauh, Aluna mendadak jatuh. Di balik pakaiannya… liontin warisan pecah perlahan. Ia memegang dadanya. "Kak… kau membukanya, ya? Maka kini… giliranku." Dan di bawah tanah, Menara Warisan bergetar untuk pertama kalinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN