Senja menggantung di langit Desa Senjakala, mewarnai awan dengan semburat merah tua seperti darah yang tak kunjung kering. Di tengah padang luas yang baru saja dibersihkan dari sisa-sisa pertarungan, Raka berdiri seorang diri, memandangi telapak tangannya. Masih ada getaran samar di sana—residu kekuatan sistem yang baru saja digunakan untuk menyegel kembali sebagian besar Kaum Ospurpurra.
Tapi rasa damai itu terlalu sunyi. Terlalu sepi.
"Kenapa masih ada yang tersisa...?" gumamnya pelan.
Kael, yang setia berjaga di belakangnya, tak menjawab. Angin sore membawa suara-suara burung malam mulai menggantikan denting perisai dan langkah pasukan. Tapi di udara, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang belum usai.
Lalu, suara itu datang.
> {Notifikasi Sistem: Warisan Darah tidak lengkap. Fraksi Tertua belum memilih pewaris. Lokasi Tanda Darah Tertua: Teridentifikasi.}
"Tanda darah...?" Raka bergumam. Simbol merah samar menyala di udara, membentuk peta kasar dengan titik tunggal di wilayah terlarang—Lembah Seribu Roh.
Kael maju satu langkah. "Itu bukan tempat yang seharusnya kau datangi sendirian. Bahkan aku pun tidak diizinkan menjejakkan kaki di sana saat masih menjadi bagian dari segel."
"Tapi sistem mengarahkan ke sana. Mungkin itu bagian dari warisanku. Bagian yang belum lengkap."
Kael menghela napas. "Kalau kau pergi, kau harus siap menghadapi sesuatu yang bahkan sistem pun tidak bisa kendalikan sepenuhnya."
---
Malam itu, tanpa memberi tahu siapa pun di desa, Raka dan Kael menyelinap keluar. Mereka berjalan menembus kabut hutan, melewati sungai sunyi dan batu-batu bersimbah sejarah yang berdarah.
Lembah Seribu Roh tak seperti yang dibayangkan Raka. Tidak ada tulang, tidak ada roh berkeliaran. Hanya diam. Diam yang sangat pekat.
"Tempat ini seperti... membeku dalam waktu," gumam Raka.
Kael mengangguk. "Karena waktu di sini tidak berjalan biasa. Ia mengikuti denyut darah."
Setelah beberapa langkah, mereka sampai pada altar tua yang terbuat dari batu obsidian. Di tengah altar itu—ada jejak tangan berwarna gelap, tertanam dan menyala merah samar. Simbol yang sama pernah muncul dalam mimpi Raka.
> {Tanda Warisan Darah Tertua terkonfirmasi. Subjek: Raka Wiratama. Aktivasi dimulai...}
Langit di atas mereka langsung berubah. Awan bergulung cepat. Petir menyambar dari kejauhan, meski tak bersuara. Tanah di bawah mereka bergetar. Dari dalam batu, sesuatu mulai muncul.
Sebuah mata.
Bukan manusia. Bukan hewan. Tapi mata itu... melihat.
Kael langsung berdiri di hadapan Raka. "Itu... bukan bagian dari sistem. Itu bagian dari yang datang sebelum sistem ada."
> [Aktivasi Tertunda. Konfirmasi Darah Kedua Dibutuhkan.]
"Darah kedua...? Siapa...?"
Sebelum mereka bisa berpikir lebih jauh, tanah di sekeliling altar merekah.
Dan dari balik retakan itu… muncullah seseorang.
Langkah pelan. Jubah hitam. Mata seperti bara yang tak mati.
Kael langsung dalam posisi bertahan.
Raka bergumam, "Siapa kau...?"
Orang itu mendongak.
"Aku adalah warisan yang ditolak. Pewaris lain... yang seharusnya mati."
Raka membeku.
> [Konflik Warisan Darah: Ganda. Sistem tidak bisa memproses dua garis utama secara bersamaan. Prioritas akan diputuskan melalui duel darah.]
Langit menjadi merah total.
Dan di tengah antara dua warisan… dunia kembali menahan napas.
---