Bab 9 — Darah yang Berbicara

522 Kata
Kabut malam belum sepenuhnya menghilang saat Raka terbangun dengan tubuh menggigil. Pandangannya buram, tapi langit-langit gua tempat ia beristirahat tampak bergerigi dan lembap. Suara tetesan air dari dinding batu menjadi satu-satunya irama di tempat itu. Kael duduk tak jauh darinya, mata waspada menatap ke luar celah gua. “Kita di mana…?” tanya Raka pelan. “Gua Tua di balik Lembah Seribu Roh. Aku bawa kau ke sini setelah duel itu berakhir,” jawab Kael. “Kau pingsan selama tiga hari.” Tiga hari? Tapi rasanya seperti berabad-abad. Raka menyentuh dadanya. Di sana, tepat di atas jantungnya, tanda baru terbentuk. Bukan sekadar simbol sistem. Tapi pecahan ingatan, potongan penderitaan, dan kutukan yang belum selesai. > [Fragmen Darah Kuno: Aktif.] [Memori Terlarang akan mulai terbuka dalam mimpi.] [Proses penyatuan garis darah ganda: 12%] Raka terdiam. Ia bisa merasakan dua suara di dalam dirinya. Satu, suara sistem. Teratur. Objektif. Tapi yang lain… adalah suara daging dan dosa, dari warisan lama yang tak lagi dikenal oleh sejarah. Kael memperhatikan wajah Raka yang berubah. “Kau melihat sesuatu dalam duel itu, bukan?” “Bukan cuma melihat,” gumam Raka. “Aku… seolah hidup di dalamnya. Aku melihat perang besar—bukan antar manusia atau makhluk, tapi antar waktu. Antara mereka yang diizinkan hidup… dan mereka yang dilupakan oleh sejarah.” --- Malam itu, Raka tidur. Dan dalam tidurnya… memori itu mulai berbicara. Ia berdiri di dunia yang hancur, langitnya kelabu, tanahnya retak, dan darah mengalir bukan dari luka—tapi dari waktu yang tak bisa disembuhkan. Di sana… dia melihat Ravhan. Tapi bukan Ravhan yang ia temui di altar. Ravhan muda. Terluka. Dipenjara oleh sesama pewaris. Dicap sebagai pengkhianat karena menolak sumpah darah. “Kau pikir sistem selalu adil?” suara Ravhan muda menggema. “Sistem hanya memilih yang patuh. Tapi darah… memilih siapa yang mampu bertahan.” > [Fragmen Memori: Terbuka — Babak Pertama: Kudeta Pewaris.] Raka menyentuh reruntuhan istana dalam ingatan itu. Ia melihat lambang yang sama seperti miliknya, tapi dikelilingi duri dan air mata. “Kenapa kau tunjukkan semua ini padaku?” teriak Raka dalam mimpi itu. Ravhan muda menatapnya. “Karena aku ingin kau jadi lebih dari sistem. Lebih dari yang sekadar terpilih. Aku ingin kau… memilih sendiri jalan darahmu.” --- Raka terbangun dengan peluh dingin. Kael langsung mendekat. “Kau berteriak.” “Aku tahu sekarang… kenapa Ravhan menyentuh dadaku. Dia tidak ingin membunuhku. Dia ingin aku melihat…” “Melihat apa?” Raka menatap Kael dengan mata yang tak lagi sama. “Bahwa sistem ini dibangun di atas pengkhianatan. Dan darahku… bukan warisan. Tapi kunci.” > [Pewaris Memulai Jalur Alternatif: Warisan Tanpa Sistem.] [Konflik Internal Dimulai. Dua aliran: Sistem vs Darah.] --- Suara langkah kuda terdengar dari luar gua. Pasukan dari Senjakala. Mereka mencari Raka. Membawa kabar buruk dari pusat desa. Kael berdiri, wajahnya tegang. “Kita tak bisa tinggal di sini. Dunia tahu… kau telah berubah.” Raka berdiri, cahaya merah samar dari simbol dadanya menyala sendiri. “Kalau dunia ingin melawanku karena darahku… maka biar kutunjukkan bahwa darah ini bukan untuk diburu. Tapi untuk membuka sesuatu yang lebih besar dari sistem mana pun.” ____
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN