Bab 10 — Langkah Pertama Pembelotan

439 Kata
Kabut belum benar-benar mengangkat dari lembah saat Raka dan Kael muncul di bibir jurang. Di bawah sana, Desa Senjakala tampak jauh… dan asing. Api menyala di beberapa titik. Bukan dari rumah yang dibakar, tapi dari obor pasukan pencari. Kael menghela napas berat. "Mereka mengira kau diculik. Tapi kalau mereka tahu kebenarannya... mereka akan menyebutmu pengkhianat." "Aku tidak mengkhianati siapa pun," ucap Raka. "Aku hanya… tidak bisa lagi percaya pada sesuatu yang setengah kebenaran." > [Sistem mendeteksi penyimpangan fatal. Status: Pewaris Menyimpang.] [Mode Pengawasan: Diaktifkan.] "Biarkan mereka datang," gumam Raka. "Kalau mereka ingin kebenaran, aku akan beri. Tapi bukan kebenaran yang mereka harapkan." --- Di pusat desa, Dewan Tua bersidang dalam ketegangan. "Tanda itu… sudah muncul di tubuh Raka?" tanya salah satu tetua. "Ya," jawab mata-mata sistem. "Bukan hanya satu. Tapi dua warisan berdarah. Dan yang satu berasal dari fragmen yang telah disegel berabad-abad." "Kalau begitu, dia tak bisa dibiarkan kembali." "Dia tak boleh bicara." --- Sementara itu, Kael dan Raka menyusuri jalur tersembunyi, menuju reruntuhan tua di pinggiran pegunungan. Tempat itu dulunya adalah tempat penyucian darah, di mana para calon pewaris dimurnikan sebelum mendapat restu sistem. Tapi sekarang, semua puingnya penuh dengan jejak para pengkhianat lama. Nama-nama mereka disamarkan, sejarah mereka diputarbalikkan. Tapi suara… suara itu tetap tertinggal di dinding. > "Kami tidak gagal. Kami dibungkam." > [Pewaris Memasuki Zona Terlarang. Akses Informasi Rahasia: Diizinkan.] Raka menyentuh simbol di salah satu dinding. Cahaya merah menyala, dan gambaran bergerak terbentuk di udara. Suara-suara dari masa lalu mengalir seperti sungai yang dibendung terlalu lama. > "Sistem adalah penjara dari pilihan. Darah adalah pintu kebebasan." Kael menatap Raka dengan berat. "Kau akan benar-benar diburu kalau memilih jalan ini." "Aku tak peduli," jawab Raka. "Jika semua yang mereka ajarkan salah, maka aku akan jadi pengingat… bahwa darah lebih jujur dari aturan mana pun." --- Namun mereka tak sendiri. Dari balik reruntuhan, seorang wanita bertudung muncul. Di tangannya, sebuah belati darah yang menyala redup. "Jadi... kau pewaris ganda itu?" tanyanya pelan. Raka menatapnya. "Siapa kau?" "Aku penjaga terakhir dari Jalur Ketiga. Jalur yang bahkan sistem tak tahu pernah ada." "Jalur Ketiga?" "Ya. Bukan sistem. Bukan darah. Tapi kebenaran yang disembunyikan keduanya." --- > [Pewaris Berpotensi Menyatu Dengan Jalur Ketiga. Proses: Tidak Stabil.] [Risiko: Penghapusan eksistensi dari seluruh arsip sistem.] [Apakah Anda ingin melanjutkan?] Raka menutup matanya sejenak. Terbayang wajah ibunya. Saudara-saudaranya. Desa yang masih percaya pada sistem. Tapi juga terbayang Ravhan… dan mata-mata masa lalu yang menderita karena bisu. "Aku siap." > [Konfirmasi Diterima. Jalur Ketiga: Aktivasi Awal Dimulai.] --- Langit kembali berubah. Bukan karena perang. Tapi karena sejarah menulis ulang dirinya sendiri. Dan Raka? Ia tak lagi hanya pewaris. Ia adalah penanya. ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN