Bab 14 - Warisan yang Terpecah

610 Kata
Langit tak lagi biru. Di atas reruntuhan altar, debu berkilauan seperti serpihan kaca melayang di udara, membentuk lingkaran samar. Tanah masih bergetar, seolah realitas belum benar-benar menetap setelah bentrokan antara Raka dan Arbiter. Kael tertatih, tubuhnya penuh luka dan napasnya tercekat. Tapi matanya masih menatap ke satu titik: tempat di mana tangan itu muncul dari kegelapan. Bukan tangan Raka. Bukan Arbiter. Tapi sesuatu yang lebih... asing. Lebih purba. > [Analisis Sistem: Entitas Tidak Terdaftar.] [Nama: NULL. Status: Tidak Terkodekan. Asal: Luar Jalur Sistem.] Kael mencoba mendekat, tapi tanah di sekitar lubang altar menolak. Bayangan mengalir seperti cairan hidup, menjalar, menyesap setiap cahaya yang menyentuhnya. Dari dalam lubang itu, sosok perlahan muncul. Tubuhnya berbalut jubah hitam legam, nyaris tak berbentuk. Tapi matanya... > Sepasang mata berwarna abu-abu tua, seperti abu dari zaman sebelum penciptaan. Mata itu menatap langsung ke arah Kael. Dan dunia... kembali diam. --- Sementara itu, di tempat antara batas realitas dan sistem, Raka terbangun. Tapi kali ini bukan di dunia, bukan pula di dimensi sistem. Ia berada di tengah ruang putih luas tanpa ujung. > [Selamat Datang di Ruang Transisi Jalur Ketiga.] [Status: Tidak Terdeteksi oleh Arbiter. Tidak Terdeteksi oleh Sistem Utama.] Raka mengedarkan pandang. Tidak ada lantai, tidak ada langit, tapi ia bisa berdiri. Luka di dadanya masih menganga, tapi tidak mengalirkan darah. Justru cahaya lembut keluar perlahan — memori yang belum selesai hilang. Lalu, dari balik cahaya itu, muncul sosok. Seorang pria tua, berjubah putih keabu-abuan. Wajahnya penuh garis waktu, tapi matanya... mirip milik Raka. > "Jadi kamu akhirnya sampai di sini. Jalur Ketiga yang sesungguhnya tidak punya ujung, tapi punya harga." Raka mendekat. "Kau siapa...?" Pria itu tersenyum. "Aku adalah pewaris pertama dari sistem ini. Tapi aku menolak jalur mana pun. Sama seperti kamu. Dan karena itu, aku dihapus dari sejarah. Tapi sebagian dari jiwaku... tertinggal di antara keputusan." > "Kau akan menjadi yang terakhir, Raka. Atau yang pertama dari sesuatu yang baru." --- Di dunia nyata, Kael mencoba melawan bayangan yang kini meluas. Tapi setiap serangan sihir atau senjata hanya ditelan gelap. Sosok tanpa nama itu tidak bicara, tidak bergerak cepat. Tapi kehadirannya mulai menghapus hukum alam di sekitarnya. > Air tidak mengalir. Waktu tidak bergerak. Nafas terasa seperti beban. Kael berlutut. Tapi sebelum kesadarannya runtuh, sebuah cahaya ungu meledak dari langit. > Raka kembali. Tapi kali ini, bukan sebagai pengguna Jalur Ketiga biasa. Ada jubah samar yang melingkupi tubuhnya — terbuat dari kenangan yang telah ia korbankan. Di belakangnya, jam besar berputar... terbuat dari cahaya dan luka. > [Mode: Pewaris Realitas Tak Tertulis - Aktif] [Hak Istimewa: Membentuk Ulang Hukum Sebatas Kenangan Tersisa.] Raka turun perlahan. Matanya bukan merah-ungu lagi, tapi menjadi putih sepenuhnya. Dan tatapannya mengarah pada sosok bayangan itu. > "Kau bukan bagian dari sistem. Kau bagian dari yang lama... yang dilupakan." Bayangan itu akhirnya bersuara. Suaranya bukan gema, bukan desah, tapi... gema dari pikiran yang tak pernah disampaikan. > "Aku adalah dunia sebelum keputusan. Sebelum waktu. Sebelum kehendak." > "Dan aku datang... untuk mengambil kembali apa yang pernah dicuri oleh sistem." --- Raka mengangkat tangan. Jam di punggungnya mulai berputar mundur. Dan setiap detik yang mundur, memunculkan kilasan: ibunya, Kael kecil, tawa, air mata, dan keputusan-keputusan yang membentuk dirinya. > "Kau tidak akan ambil apa pun, karena aku sudah membayarnya dengan seluruh hidupku." Pertarungan dimulai. Tapi bukan dengan serangan fisik. Melainkan antara keberadaan dan penghapusan. Antara yang memilih dan yang menolak segala pilihan. --- Di akhir bab ini, dunia mulai bergetar. Bukan karena kehancuran. Tapi karena dua kekuatan yang tidak seharusnya bertemu — kini saling menuntut kebenaran. > Dan langit pecah. Satu suara terakhir terdengar dari balik realitas: > "Jika ini bukan akhir... maka inilah ulang pertama dari segala awal."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN