Sean duduk di kursi kebesarannya sambil mengirup batang rokok yang hampir habis. Ia menaruh batang rokok itu di asbak, kemudian menekannya dengan kasar. Beberapa hari telah berlalu, orang suruhannya yang ditugaskan untuk mengawasi Gissila belum menunjukkan kabar sama sekali. Wanita itu seakan tahu kalau sedang diselidiki. Dia menjadi agresif dan lebih waspada. Jika detektif suruhan tak menunjukkan hasil, Sean akan mencari orang lain yang lebih pengalaman di bidang menguntit. Pria itu bangkit dari kursi kebesarannya, mengingat kejadian terakhir bertemu dengan Jazlyn. Rasa rindu datang merayap ke seluruh tubuhnya. Sudah hampir selama seminggu, ia tak bertemu dengan gadis itu karena sibuk mengurusi Gissila. “Aku sangat merindukannya,” gumam Sean sambil tersenyum lembut, kemudian menyamb

