Nyaris lima menit lebih, tapi tak ada yang berinisiatif untuk memulai pembicaraan. Mengela napas, Tio yang sebelumnya bersandar santai di tempat duduknya. Memilih untuk menegakkan punggung. Sebelum kemudian menatap bergantian kedua sahabatnya. "Jadi, apa kalian sudah memilki keputusan?" Berdeham, Bimo menggaruk dagu, melirik Tio ragu, tapi akhirnya membuka suara. "Sejujurnya, gue masih ragu. Meskipun, keraguan itu porsinya sudah semakin berkurang." Menaikan satu alis mata. Tio berusaha menyembunyikan senyum, "apa itu artinya lo memutuskan untuk memberi restu, Bim?" Mengedikkan bahu, Bimo meraih cangkir kopi dan menyesapnya pelan. "Nggak munafik. Bocah itu berhasil bikin gue luluh dengan kesungguhannya." Bimo tak bisa menampik jika, dia cukup terkesan dengan perjuangan Elang. Pria m

