Rafli segera menelepon Abdi, sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia tak ingin istri dan calon bayinya dalam bahaya. Tak lama ia telah sampai di rumah makan yang ada di depan butik kakaknya di sana orang-orang telah berkerumun. Jantung Rafli berdegup kencang, ia berdoa semoga tak terjadi apa-apa pada istrinya. Redanti terlihat berusaha tenang, sambil mengusap bahu adiknya agar tenang meski hatinya juga merasa tak karuan. Dan hati Rafli bagai tercabik saat seorang laki-laki berbadan gagah telah menjepitkankan lengannya ke leher Silvi dengan belati terhunus mengarah ke leher Silvi. Mereka berdua berada di pojok ruangan rumah makan itu, semua telah berhamburan keluar, bahkan dari bisik-bisik para pengunjung mengatakan bahwa Silvi yang duduk sendiri langsung disergap oleh laki-l

