Rafli menciumi tangan Silvi, air matanya menggenang, mata Rafli mulai mengabur. Ada rasa bersalah karena istrinya yang akhirnya jadi korban, beruntung jiwanya selamat meski ada sedikit goresan belati di leher Silvi, berkali-kali menyumpahi dirinya dan berjanji apapun yang ia lakukan akan selalu ia bicarakan pada istrinya. Mata Silvi bergerak-gerak lalu perlahan terbuka, ia menatap lurus lalu menoleh perlahan saat mendengar isak pelan Rafli. "Maaas ..." Rafli tak berkata apa-apa lagi, ia segera memeluk istrinya. "Maafkan aku, maafkan aku." "Nggak papa, aku selamat kok." Rafli menoleh saat pundaknya terasa disentuh oleh seseorang, Redanti dan Abdi ternyata berada di belakangnya. "Yang sabar ya kalian, saling menguatkan, jangan saling menyalahkan, ini cobaan bagi rumah tangga kalian, b

