Ibunda Lanang menyilakan duduk wanita yang dibawa oleh anaknya. Darwanti merasa langsung cocok dengan pilihan wanita yang dibawa Lanang kali ini, cantik, lembut, elegan dan terlihat jika wanita ini dari keluarga berada, meski ia belum tahu tapi pikirannya sudah menerka-nerka dari apa yang digunakan oleh wanita yang kini duduk dengan anggun di depannya. "Monggo loh diminum teh mawarnya mumpung masih hangat." "Inggih Ibu, matur suwun." Nuning menyesap teh hangat yang meluncur lembut di kerongkongannya. "Ini Ibu, Nuning, yang pernah aku ceritakan, kami sepakat akan menikah secepatnya, karena aku pikir di usiaku yang semakin banyak ini akan lebih baik menyegerakan menikah, toh kami sudah sama-sama bekerja, dan sama-sama single." Darwanti mengangguk-angguk tanda setuju. "Lebih baik begitu,

