“Kau mengikutiku?” Suara itu dingin. Terlalu tenang untuk situasi yang baru saja pecah. Manggala berhenti tepat di ambang pintu rumah. Jasnya belum dilepas. Tangannya masih menggenggam kunci mobil, dingin, basah oleh keringatnya sendiri. Ia menoleh perlahan. Bhava berdiri di ruang tengah. Dasi sudah dilepas, kemeja bagian atas terbuka satu kancing. Wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan hanya penilaian. “Ayah pulang cepat,” jawab Manggala, nada suaranya dijaga agar terdengar biasa. Bhava tersenyum tipis. Senyum yang tidak pernah sampai ke mata. “Kau juga.” Hening menekan di antara mereka. Jam dinding berdetak terlalu keras. Manggala melangkah masuk, menutup pintu pelan. Terlalu pelan untuk seseorang yang dadanya masih sesak oleh apa yang baru ia lihat. “Restorannya nyaman,” kata Bh

