“Kau tidak seharusnya datang ke sini.” Cassie berdiri di ambang pintu apartemen kecil itu, satu tangan masih menggenggam ponsel, satu lagi menahan daun pintu agar tidak terbuka lebih lebar. Wajahnya pucat, matanya merah, seolah semalaman tidak tidur. “Aku tidak datang untuk izin,” jawab Manggala. “Aku datang karena ayahku ada di hidupmu lagi.” Cassie menghela napas pelan. Terlalu pelan untuk seseorang yang jelas sedang berada di ujung kesabarannya. Ia akhirnya membuka pintu dan berbalik masuk tanpa berkata apa pun. Itu cukup sebagai jawaban. Manggala menutup pintu di belakangnya. Apartemen itu sunyi, terlalu rapi, terlalu sepi. Aroma kopi dingin masih menggantung di udara. “Kau mengikuti jejak yang salah,” ucap Cassie tanpa menoleh. “Jejak itu berakhir di dirimu,” balas Manggala. “Da

