"Ma, Ardhan nggak mau dijodohin. Lagian Ardhan udah punya calon sendiri kok!" ujar Ardhan sembari mengoleskan selai kacang ke rotinya.
Jelita—Mama Ardhan—menghela napas gusar, mendekati anaknya dan menepuk pundak Ardhan. "Inget, lihat babat-bibit-bobot itu penting, Ardhan. Kamu tahu 'kan keluarga kita seperti apa? Mama nggak mau kamu salah pilih calon istri."
Ardhan menggigit rotinya pelan, mendengar perkataan mamanya membuat Ardhan menghela napas lelah. Mamanya selalu saja menuntut calon istri yang sesuai dengan kriterianya. Terkadang Ardhan hanya ingin hidup sesuai dengan pilihannya sendiri, bukan karena aturan orang tuanya.
"Ma, Ardhan udah dewasa. Ardhan tahu kriteria yang terbaik buat Ardhan. Tolong, kali ini aja biarin Ardhan yang pilih untuk hidup Ardhan." Ardhan menegak air putih hingga setengah. Topik pembicaraan pagi ini begitu tak menyenangkan di telinga Ardhan.
"Kamu tahu Mario anaknya Tante Wenda?" tanya Jelita membuat Ardhan berpikir sebentar mencoba mengingatnya. Ardhan mengangguk, tak begitu antusias dengan topik yang dibicarakan Mamanya. "Nah, kamu harusnya belajar dari Mario. Pilih istri yang babat-bibit-bobotnya bagus. Keturunan Jerman, artis pula."
"Terus Ardhan juga harus cari istri yang kerjaannya jadi artis?" tanya Ardhan malas, memutar bola matanya jengah.
Tak ingin mendengar lagi, Ardhan meraih jas abu di kepala kursi dan memakaikan ke tubuhnya yang atletis. Dia harus segera pergi ke kantor daripada harus mendengar pembicaraan mamanya yang membuat Ardhan merasa tertekan dan lelah.
"Yang penting kamu tuh—"
"Ardhan berangkat ke kantor dulu!" pamit Ardhan mencium tangan mamanya membuat Surya—Papanya Ardhan—yang baru saja turun tangga mengerutkan kening melihat anaknya terburu-buru berangkat ke kantor.
"Ardhan! Ardhan! Dengerin Mama dulu mau bicara,"
"Kenapa, Ma?" tanya Surya menarik kursinya membuat Jelita menghela napas gusar.
"Ardhan tuh, Pa. Susah diaturnya, padahal Mama udah siapin calon istri buat dia." Jelita memakan roti di tangannya dengan kesal membuat Surya geleng-geleng kepala.
"Nanti juga dia pasti nurut."
***
Sedari tadi wajah Ardhan ditekuk membuat Nino bosan melihatnya. Nino—sahabat sekaligus sekretaris pribadinya—sudah sangat bosan dan jengah mendengar setiap curhatan Ardhan tentang Maharani. Ah, lebih tepatnya tentang perasaan Ardhan yang entah sudah berapa kali ditolak oleh Rani.
Setiap kali ada waktu luang yang dibicarakan oleh Ardhan kepada Nino tak pernah lepas tentang Rani. Tentang penolakan Rani kepada sahabatnya itu. Nino tahu betul bagaimana sikap Ardhan. Selama Rani bekerja di perusahaan milik keluarga Ardhan, selama itu jugalah Ardhan terus saja berusaha mencari cara unruk mendapatkan Rani.
Terkadang Nino juga lelah melihat bagaimana Rani menolak sahabatnya itu. Nino merasa kasihan dengan Ardhan yang begitu malang karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Entahlah bagaimana lelahnya perasaan Ardhan ketika harus mendapat penolakan yang sama pada orang yang sama pula.
"Pak Direktur yang terhormat, gue muak liat muka lo deh!" Nino memutar bola matanya jengah.
Ardhan menatap tajam Nino membuat lelaki itu menyengir. "Maksud gue, muka lo gantengnya pas."
Ardhan tak menghiraukan ucapan Nino, dia melihat sekeliling ruangannya yang besar. Menghela napas lalu kembali menatap Nino yang memandangnya seolah berkata "apa sih?".
"Gue tajir, kan, No?" tanya Ardhan membuat Nino langsung mengangguk antusias. Nino menegakkan tubuhnya dan menopang satu tangannya di dagu.
"Gue pinter, kan, No?" Nino menjentikan jarinya, berpikir sebentar lalu mengangguk dengan ragu. "Pinter, kan, No?" tanya Ardhan lagi memastikan jawaban Nino barusan.
"Yap,"
"Gue sukses, kan, No?"
"Yap!"
"Gue ganteng, kan, No?"
Untuk pertanyaan kali ini Nino terdiam cukup lama, mengusap dagunya seolah dia sedang berpikir keras untuk menemukan jawabannya.
"No, gue ganteng, kan?" tanya Ardhan lagi membuat Nino hanya menatap Ardhan tak menjawab apa-apa. "No? Nino?" panggil Ardhan berusaha menyadarkan Nino yang terus menatapnya.
Nino menarik napas dalam-dalam meyakinkan dirinya untuk menjawab pertanyaan Ardhan. "Gue ... gue gak yakin kalau pertanyaan itu, Bos!"
Mulut Ardhan terbuka membentuk huruf O mendengar jawaban yang dilontarkan Nino. Menatap Nino dengan tatapan yang tak bisa diartikan. "Maksud lo gue jelek? Karena gue jelek, Rani jadi nolak gue terus?"
Nino jadi serba salah, dia menggelengkan kepalanya takut jika akan dipecat tiba-tiba hanya karena mendapat pertanyaan seperti itu dari bosnya. "Maksud gue—"
"Apa?!" tanya Ardhan sarkas, dia benar-benar kesal dengan jawaban Nino barusan. Ternyata Nino juga tidak bisa cukup diandalkan dalam urusan seperti ini. "Terus gue harus apa biar Rani nerima cinta gue, No?" Ardhan mengacak rambutnya frustasi membuat Nino meringis melihatnya.
"Nembak Rani di tempat yang romantis?"
"Ditolak," jawab Ardhan dengan malas.
"Nembak Rani pake bunga?" Ardhan menggeleng membuat Nini berpikir lagi lebih keras.
"Ngajak nikah?"
"Belum,"
Nino menghela napas, memutar bola matanta jengah. "Siapa tahu tipe cewek kayak Rani maunya langsung diajak nikah?"
Ardhan memegang dagunya seolah dia sedang berpikir atas perkataan Nino. Sedetik kemudian Ardhan menggeleng tidak setuju. "Nggak! Gue tau Rani gimana,"
"Makanan favorit?"
"Ketoprak."
"Warna favorit?"
"Biru,"
"Hobinya?"
"Setau gue dia baca buku mulu,"
Nino menganggukan kepalanya seolah paham akan sesuatu, lalu dia bertanya lagi. "Yang dia suka?"
"Gue?" Ardhan menunjuk dirinya sendiri membuat Nino menatapnya gemas.
"Kalau dia suka sama lo, nggak mungkin nolak teruslah!"
"Terus?"
"Lo temuin orang tuanya?"
Ardhan menunjuk Nino dan berseru heboh. "NAH, ITU NO! ITU!"
"Apaan?"
Wajah Ardhan berubah muram. "Gue nggak tau rumahnya di mana. Gimana gue mau ketemu orang tuanya kalau dia aja larang gue buat ke rumahnya."
"Masa sih?" tanya Nino tidak percaya. Mana mungkin Ardhan yang sudah lama menyukai Rani tapi tidak tahu alamat rumah perempuan itu.
"Kayak ada sesuatu yang nggak boleh gue tau, No. Mungkin?" tebak Ardhan cukup masuk akal di pikiran Nino.
"Bisa jadi, tapi lo harus gerak cepat kalau mau dapet hatinya Rani. Lo harus ketemu sama keluarganya, minta baik-baik, siapa tahu kalau lo minta sama keluarganya bisa dipikir lagi sama si Rani, kan?"
Nino memang pemberi saran terbaik membuat Ardhan tak rela melepaskan sahabatnya itu. Tanpa menunggu Ardhan menjawab, Nino segera mengambil ponselnya membuat Ardhan penasaran.
"Ngapain lo?"
Nino tak menjawab, matanya fokus menatap layar ponsel dan berbicara sendiri. Tangannya sibuk menggulir layar ponsel membuat Ardhan hanya menyaksikan apa yang akan Nino lakukan.
"Lo nggak ada ide aneh-aneh, kan?" tanya Ardhan memicingkan matanya curiga.
"Percayakan semuanya pada Nino Sanjaya!" ujar Nino menepuk dadanya dengan bangga. "Lo tenang aja, ikutin langkah-langkah yang gue kasih ke lo."
Ardhan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Lo hebat banget ngasih saran ke orang. Lo sendiri apa kabar, No? Masih jomlo aja?" ledek Ardhan membuat Nino mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
"Dhan, untung lo bos gue."
***
Akhirnya Rani bisa bernapas lega setelah pekerjaannya selesai dan langsung bersiap untuk pulang. Rani melihat list daily dan hari ini dia harus mampir ke suatu tempat. Rani mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Assalamualaikum, halo?" ujarnya ketika panggilan terhubung.
"Waalaikumsalam, Ran."
"Lis, kamu ada di kantor, kan? Aku ke tempat kamu sekarang ya." ujarnya pada Delisa, sahabatnya.
"Oke, Ran. Nanti hubungi aku lagi aja ya kalau udah sampe. Aku udah share lokasinya."
Rani mengangguk tersenyum. "Siap, Bos!"
"Hati-hati, Ran!" ujar Delisa di seberang sana. "Assalamualaikum,"
"Walaikumsalam," Rani menutup sambungan teleponnya. Mengambil sebuah amplop cokelat yang sudah dia persiapkan. Akhirnya dia bisa bernapas lega, setidaknya dia bisa menepati janji kepada seseorang. Rani harus segera menghampiri Delisa agar sahabatnya itu tidak menunggu lama. Namun, belum sempat Rani merapikan barang-barangnya, satu panggilan masuk dari Ardhan membuatnya mengerutkan kening.
Rani sudah mengatakan kepada Ardhan berulang kali untuk tidak meneleponnya ketika sedang di kantor. Namun sepertinya itu tak dihiraukan oleh Ardhan membuat Rani hanya bisa menghela napas. Rani tidak mengangkat panggilan Ardhan dan segera merapikan barang-barangnya untuk pulang.
"Duluan ya!" pamit Rani kepada rekan-rekan kerjanya yang lain juga bersiap untuk pulang.
"Hati-hati, Ran!"
Mata Rani tak lepas dari catatan kecil di tangannya. Catatan kegiatan yang harus dia lakukan sehari-hari. Rani memang sangat teratur dan disiplin. Baginya waktu begitu berharga untuk dia lewatkan begitu saja. Rani hanya ingin mengatur waktunya untuk hal-hal yang menurutnya baik dan berguna.
"Awas, Ran nanti nabrak!" Rani benar-benar terkejut ketika mendapati Ardhan di depan lobi kantor.
Kepala Rani langsung celingukan ketika Ardhan menghampirinya. Rani benar-benar ingin mengumpat kasar, Ardhan tidak bisa diajak kompromi untuk tidak menemuinya di kantor. Beberapa orang kantor berlalu lalang melewati pintu lobi untuk pulang, beberapa juga ada yang menoleh ke arah mereka berdua.
"Pulang bareng mau?"
Rani menghela napasnya, menatap Ardhan dengan tatapan memohon. Pasalnya dia hanya sebatas karyawan tim kerja kantor dan Ardhan sebagai atasannya. Tidak seharusnya Rani berurusan langsung dengan Ardhan kecuali jika memang ada urusan mendesak dan acara penting kantor, maka harus melapor langsung ke bos sesuai dengan bagiannya. Ada sembilan karyawan yang bekerja menjadi tim sukses Ardhan. Salah satunya adalah Rani.
Tak ingin menjadi pusat perhatian, Rani meninggalkan Ardhan begitu saja dan mempercepat langkahnya. Ardhan melihat sekelilingnya dan benar saja beberapa orang kantor menoleh ke arahnya. Nino yang melihat hal itu langsung menghampiri Ardhan dan menepuk pundak sahabat sekaligus bosnya itu. Jika ada bawahan yang tidak sopan kepada bosnya dan berlaku seenaknya saja, maka Nino masuk kategori tersebut.
"Bener-bener lo!" Nino geleng-geleng kepala ketika tatapan Ardhan menatap punggung Rani yang sudah berjalan semakin jauh.
Belum sempat Ardhan mengejar Rani, Nino menariknya membuat Ardhan mendengus. "Gue mau ngejar Rani! Minggir lo!" Nino kembali menarik jas yang dikenakan Ardhan membuat lelaki itu mundur beberapa langkah.
"Bukannya dapet, justru yang ada dia makin ngejauh dari lo!" Nino gemas sendiri dengan tingkah sahabatnya yang tak bisa dikatakan pandai dalam urusan asmara. "Lo emang pinter, Dhan, tapi lo b**o urusan cinta!"
Ardhan mendengus kesal. "No—"
"Santai dikit, Bos!" Nino merangkul pundak Ardhan yang sedikit lebih tinggi darinya. Nino membisikan sesuatu membuat Ardhan hanya mendengarkannya meskipun kesal. "Rani nggak suka kalau lo deketin dia, apalagi di kantor. Lo harusnya ngelakuin sesuatu yang dia suka. Dhan, gue kasih tau lo berulang kali. Rani beda dari cewek lain yang kalau dideketin sama lo matanya langsung kayak cacing kepanasan nggak mau diem. Lo tahu sendiri Rani nggak kayak gitu, kan?"
Nino merangkul Ardhan hingga ke parkiran sedangkan Ardhan hanya diam saja mencerna ucapan sahabatnya barusan. Nino menyadarkan Ardhan dari lamunannya dan menepuk pundak Ardhan berkali-kali cukup kencang membuat lelaki itu mendelik. Nino terkekeh melihatnya.
"Nggak usah buat bumerang buat diri lo sendiri. Cewek itu cuma butuh satu, Dhan. Dimengerti! Kan, ada lagunya." Nino berdeham dan mulai menyanyikan sepenggal lagu. "Karena wanita ingin dimengerti—"
Ardhan memiting leher Nino membuat lelaki itu mengaduh. "Suara lo lebih bagus kalau diem."
***