Di sebuah sampan yang memang pihak cafe sediakan, sepasang kekasih sedang menikmati indahnya pemandangan alam sekitar. Keduanya merasa sangat takjub, dengan apa yang mereka lihat. Indahnya tempat itu, membuat keduanya enggan untuk kembali ke Jakarta, teringat bagaimana polusi udara dan panasnya ibu kota tersebut. Namun, tak bisa mereka pungkiri, jika kedatangannya hari ini hanya sesaat, karena aktifitas keduanya akan tetap dilakukan di Jakarta.
Sintya berulang kali mengucap terima kasih, tak hanya pada Arinta, yang sudah mengajaknya ke tempat ini, tetapi juga pada Tuhan, karena telah menciptakan tempat seindah ini. Senyum indah terus menghiasi wajah cantiknya, dengan senandung lagu yang sesekali keluar dari mulut manisnya. Sintya memanglah gadis yang pandai menyanyi, bahkan suaranya selalu membuat Arinta merasa candu. Saat merasakan rindu yang terdalam, karena padatnya segala aktifitas pekerjaan, terkadang membuat mereka sulit untuk bertemu. Bagi Arinta, cukup menelpon dan mendengar suara indah sang gadis pujaan, sudah cukup mengobati segala rasa rindu yang ada dalam hatinya.
Arinta tak menyangka, bisa menjalin hubungan dengan gadis yang dulu selalu menjadi gadis cupu di matanya. Sintya memanglah gadis yang cantik, namun penampilannya sekarang sangat berbeda, saat masih duduk di bangku sekolah dulu. Begitu bertolak belakang dengan Ranti, yang dulu merupakan kekasih Arinta. Ranti, seorang gadis yang selalu berpenampilan modis, selalu menjadi pusat perhatian dan incaran kaum pria. Baik teman satu kelas, satu angkatan, bahkan adik kelasnya sendiri. Sintya yang sudah memiliki rasa kagum pada Arinta sejak pertama masuk sekolah, hanya mampu menyimpan segala rasanya itu sendirian. Karena, ia sadar, tak akan mampu merebut hati Arinta, jika saingannya seorang Ranti Safika.
Takdir Tuhan memanglah indah, dan tak ada satu manusiapun yang bisa menebak, bagaimana kisah hidupnya akan berjalan. Kini, setelah enam tahun berlalu, Sintya lah yang berada di samping Arinta, gadis yang selalu menyimpan rasa cintanya, akan menjadi pendamping hidup pria tampan dengan sejuta pesonanya. Ranti, entah dimana dia sekarang, Arinta tak pernah memikirkannya lagi, sedangkan Sintya memiliki harapan, baik dirinya ataupun sang kekasih, tak akan pernah bertemu lagi dengan gadis itu. Jujur saja, ketakutan terbesar Sintya menjalani hubungan dengan Arinta hanya satu, yaitu jika Ranti kembali hadir dalam kehidupan pria tercintanya.
Bukan tidak mempercayai bagaimana besarnya cinta Arinta untuknya, tetapi Sintya sangat mengetahui, jika hubungan Arinta dan Ranti berakhir, hanya karena mereka harus terpisahkan oleh jarak dan waktu. Tak ada perkelahian, perselisihan ataupun masalah besar yang membuat hubungan itu terputus. Jadi, Sintya merasa sangat khawatir, jika mereka kembali bertemu, rasa cinta akan kembali tumbuh di hati keduanya.
Dalam lamunannya, Sintya terus berdoa dan memohon kepada Tuhan. Agar Tuhan masih berbuat baik padanya, mengabulkan segala harapannya, dan melancarkan hubungannya dengan Arinta, hingga jenjang yang jauh lebih serius lagi. Ikatan pernikahan memang tujuan dirinya dan sang kekasih, namun mereka memutuskan untuk bertunangan lebih dulu, karena mengingat tanggung jawab untuk pekerjaan masing-masing, tetap menjadi prioritas utama keduanya.
“Tya... Sayang... Cantik...” panggilan panggilan dari Arinta tiba-tiba saja masuk ke dalam pendengaran Sintya, gadis yang sedang begitu asik dan tenggelam dalam lamunan, akhirnya segera tersadar, dan segera melemparkan senyum pada pria yang ada di hadapannya.
“Hei... Kamu melamun?” tanya Arinta lembut, seraya membelai sebelah pipi gadis tercintanya.
“Enggak kok, Mas. Cuma terpesona, sama indahnya pemandangan disini. Rasanya, pengen deh, suatu hari nanti, bisa punya tempat tinggal dengan pemandangan alam kayak gini,” ucap Sintya mengutarakan keinginannya.
Sudah sejak lama, gadis itu ingin sekali bisa tinggal bersama sang ibu di Bandung. Karena, rumahnya disana memiliki udara yang sejuk, walaupun pemandangannya tak seindah di tempat ini, setidaknya masih banyak pepohonan hijau, yang mampu menyejukan hari-harinya.
“Doakan saja, setelah menikah nanti, impianmu akan terwujud,” timpal Arinta tulus, yang di sambut Sintya dengan pelukan tangannya di pinggang sang kekasih.
“Ehh... Ehh... Sayang, jangan tiba-tiba gerak gitu, nanti sampannya bisa terbalik. Kamu mau berenang apa gimana?” panik Arinta atas pergerakan Sintya, gadis itu hanya terkekeh mendengar apa yang kekasihnya katakan.
Karena Sintya tak menanggapi lebih ucapannya, Arinta membalas pelukan itu dengan satu tangannya. Karena, tangan lainnya ia gunakan untuk memegang dayung. Pria itu mendaratkan sebuah ciuman dalam di kening gadis yang begitu di cintainya. Rasa syukur yang tak terhingga, selalu Arinta rasakan karena bisa memiliki hati Sintya.
“Mas...” gumam Sintya, namun masih terdengar jelas oleh Arinta.
“Iya, Tya. Kenapa?” tanya Arinta lembut, seraya terus membelai punggung gadis itu, membuat Sintya merasa sangat nyaman berada dalam dekapan hangat kekasih tercinta.
Tak ada jawaban apapun, sehingga Arinta merasa sedikit bingung dan terus berpikir, apakah dirinya kembali membuat sebuah kesalahan. Tetapi, saat ia terus memikirkannya, pria itu sangat yakin tak ada hal salah yang di lakukan sampai sejauh ini. Lalu, mengapa Sintya hanya terdiam membisu, setelah memanggil dirinya dengan nada yang begitu lembut dan menenangkan.
Betapa terkejutnya Arinta, saat berusaha melihat wajah sang pujaan hati. Gadis itu sudah tertidur dengan begitu lelapnya, dekapan hangat dan belaian lembut darinya, mampu membuat Sintya merasa sangat nyaman untuk menjemput mimpinya di hari yang sudah menjelang sore ini. Konflik yang terjadi pagi tadi, perjalanan jauh yang harus mereka tempuh, pastinya membuat Sintya akan merasa sangat lelah, apalagi kondisinya yang sedang berada dalam masa haid.
Dengan satu tangannya, pria itu berusaha untuk terus mendayung, agar sampan tersebut segera tiba ditepi danau. Walau Sintya terlihat sangat nyaman, namun posisinya tertidur akan membuat tubuh gadis itu merasa sakit dan pegal-pegal, jadi lebih baik untuknya segera membawa Sintya mencari tempat yang cocok, dijadikan tempat beristirahat, sebelum kembali ke Jakarta.
Sampan belum sampai ke tepian, tetapi pergelangan Arinta sudah merasa sangat pegal. Tak terduga, sampan yang ia dan Sintya naiki nampak mulai tak seimbang, karena pergerakan dayungnya yang mulai tidak stabil. Wajah pria itu nampak pucat pasi dan sangat panik, saat hal yang tak pernah ia harapkan, sepertinya akan segera terjadi.
Byuurrrrr!!!!!
Sampan itu terbalik, dua orang yang berada diatasnya sudah tak bisa lagi menyelamatkan diri. Sintya yang sebelumnya tertidur, sangat terkejut karena badannya kini menjadi basah kuyup. Arinta dengan sigap membantu sang kekasih, karena khawatir gadis itu akan tenggelam.
“Tya, maafin aku ya. Tanganku pegal, jadi gak benar mendayungnya,” ucap Arinta penuh penyesalan, saat melihat Sintya sudah bisa berdiri diatas kakinya sendiri. Danau itu memang tidak terlalu dalam, masih mampu di jangkau oleh orang dewasa. Tetapi, tetap saja berenang di danau bukanlah pilihan yang tepat.
“Kenapa Mas Ari minta maaf? Harusnya Tya yang minta maaf, Tya malah tertidur, padahal lagi di tengah danau,” ujar Sintya membuat hati Arinta merasa sedikit lega, karena ketakutannya sang kekasih kembali marah, kini sirna.
“Ya sudah, ayo kita cepat kembali ke mobil. Ambil pakaian ganti, terus ke toilet untuk bersihkan badan,” ajak Arinta, yang memang selalu membiasakan membawa pakaian ganti kemanapun mereka pergi. Bahkan, ada beberapa pakaian Sintya, yang selalu ada di dalam mobilnya. Hanya untuk berjaga-jaga, jika hal yang tak di inginkan seperti ini terjadi. Walaupun, niat awalnya untuk berjaga jika suatu saat terkena hujan ataupun hal lainnya.
Sepasang sejoli itu segera berenang ke tepian danau, dengan tubuh yang menggigil, mereka segera menuju mobil mereka, sesuai dengan apa yang Arinta ucapkan. Lalu keduanya bergegas ke toilet, membersihkan diri dan segera berganti pakaian. Setelah ini, mungkin Arinta akan mengajak Sintya untuk kembali memesan makanan, ataupun minuman yang mampu menghangatkan tubuh mereka.
Akan ada saja hal yang tak terduga terjadi dalam hidup, karena sejatinya, manusia tidak akan pernah mengetahui, garis takdir yang sudah Tuhan tentukan. Jangankan untuk hari esok, untuk satu jam ke depan saja, tak ada satupun manusia yang bisa mengetahui, apa yang akan terjadi dalam hidupnya. Jadi, sebaik-baiknya manusia, yang mampu menikmati hidup dengan baik, dan menjalaninya dengan penuh rasa syukur.