Hari sudah semakin gelap, dalam perjalanan untuk kembali ke Jakarta, Sintya sudah terlelap dalam tidurnya. Arinta memang merasa bosan, saat tak ada teman berbicara. Namun, pria itu sangat memahami jika kekasihnya merasakan kelelahan yang luar biasa, sehingga ia membiarkan gadis cantiknya tertidur pulas. Untuk sampai ke rumah Sintya, jika tak ada hambatan hanya membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit lagi. Tetapi, tiba-tiba saja Arinta merasakan perutnya sangat lapar. Pria yang memiliki riwayat penyakit lambung, memang tak mampu untuk menahan rasa lapar dalam waktu yang lama.
Arinta melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, saat ini waktu menunjukan pukul sebelas malam. Mungkin, hanya pedagang kaki lima yang bisa ia temui, mengingat jalanan sudah nampak sangat sepi, beberapa rumah makan ataupun restoran yang di lewati sudah tutup. Arinta menepikan kendaraannya, saat melihat ada pedagang sate padang. Ia memutuskan untuk mengisi perutnya dengan makanan berbahan dasar daging sapi itu.
Tanpa turun dari dalam mobil, Arinta memesan satu porsi sate padang, beserta ketupat dan juga kerupuk kulit. Namun, saat teringat di dalam mobil sudah tak ada air mineral, pria itu kembali merasakan sebuah kebingungan. Haruskah ia turun, untuk mencari pedagang minuman ataupun minimarket yang mungkin saja masih buka. Tapi, tak mungkin baginya, meninggalkan Sintya yang masih tidur dengan begitu lelap.
“Ty... Tya... Sayang,” bisik lembut Arinta, mencoba untuk membangunkan kekasihnya. Pria itu sudah menanyakan pada sang pedagang sate padang, tetapi pedagang tersebut tak menjual air mineral. Jadi, mau tidak mau dirinya harus membangunkan Sintya, sebelum pergi untuk membeli air untuk minumnya nanti.
“Hmm... Sudah sampai rumah?” gumam Sintya tanpa membuka matanya. Rasa bersalah menyelimuti hati Arinta, karena sudah mengganggu waktu istirahat sang pujaan hati. Tetapi, memang bukan keputusan yang benar, jika ia harus pergi meninggalkan Sintya yang sedang tidur dalam mobil.
“Belum, aku laper banget. Ini lagi pesan sate padang, tapi aku harus cari air minum. Aku tinggal sebentar, gak apa-apa kan?” tanya Arinta, berharap kekasihnya tidak keberatan jika harus ditinggal.
Perlahan Sintya membuka kedua kelopak matanya, menolehkan kepalanya menatap sang pujaan hati dengan senyum yang begitu indah. Arinta yang mendapatkan tatapan itu, hatinya seketika bergetar hebat, rasa cintanya semakin besar untuk kekasih yang sudah tak sabar, ingin ia jadikan pasangan hidupnya.
“Aku juga mau,” ucap Sintya.
“Mau minum, atau mau sate padang?” tanya Arinta, yang merasa ambigu dengan ucapan gadis tercintanya.
“Dua-duanya,” jawab Sintya singkat.
“Oke. Kamu tunggu disini ya, aku pesan dulu sate padang buat kamu, terus mau beli minum. Kalau nanti pesananku di antar, kamu bisa makan duluan,” ujar Arinta, seraya membuka sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya.
Sintya menganggukan kepalanya, mengerti dengan apa yang baru saja Arinta katakan. Namun, saat Arinta hendak keluar, dengan cepat gadis itu mencekal pergelangan tangan Arinta. Sang pria menghentikan pergerakannya dan langsung menatap Sintya sedikit bingung, tak mengerti dengan apa yang gadis itu inginkan.
“Kenapa?” tanya Arinta, bersamaan dengan pedagang sate padang yang baru saja datang, mengetuk kaca mobil. Membawakan satu porsi sate padang dengan ketupat, dan dua bungkus kerupuk kulit sesuai dengan pesanan Arinta sebelumnya.
“Sebentar sayang,” sambung Arinta, karena ia harus menerima makanan yang di bawakan oleh pedagang itu.
Arinta menerima makanan yang sudah di pesannya dengan perasaan senang, bagaimana tidak, sang penjual yang sebelumnya mengatakan tidak menjual air mineral, kini sudah membawakannya. Mungkin, pria yang di perkirakan berusia empat puluh tahun itu, meminta karyawannya untuk membelikan air minum untuknya.
“Pak, saya pesan satu lagi, ya. Tapi, tidak usah pakai ketupat,” ucap Arinta, memesan untuk Sintya. Ia sudah sangat memahami, makanan apa yang disuka dan tidak disukai oleh gadis pengisi relung hatinya.
Sintya memang tidak suka, makanan olahan dari beras selain nasi. Baginya, makanan seperti itu terasa sangat aneh di lidahnya. Bubur ayam, ketupat atau apapun itu yang terbuat dari beras, tidak akan masuk ke dalam list makanan yang akan Sintya pesan, saat sedang merasa lapar.
“Baik, Mas. Pakai kerupuk kulit?” tanya sang penjual ramah.
Sebelum menjawab, Arinta memilih untuk bertanya lebih dulu pada Sintya. Saat gadis itu sudah menganggukan kepalanya, baru Arinta memberitahu jawabannya pada pedagang sate padang tersebut. Tak berselang lama, pedagang itu sudah pergi meninggalkan mobil Arinta, pintu mobil pun kembali ditutup dengan rapat. Udara malam yang dingin, memang membuat Arinta tak mau berlama-lama membuka pintu kendaraannya.
“Tadi, ada apa, Sayang?” tanya Arinta lembut pada Sintya, teringat sang kekasih yang mencekal pergelangan tangannya, saat dirinya hendak turun dari mobil.
“Gak ada apa-apa, Mas. Aku kira, Mas Ari lupa, sama makanan apa yang gak aku suka. Tadi, cuma mau bilang, pesan satenya jangan pakai ketupat,” tutur Sintya jujur, karena memang itulah yang ingin ia sampaikan.
“Aku akan selalu berusaha mengingat segalanya tentangmu, tapi, kalau ada hal yang aku lupa, tolong ingatkan, dan jangan pernah marah,” ucap Arinta, seraya membelai puncak kepala gadis tercintanya.
Perasaan bahagia begitu membuncah dari hati Sintya, kekasih hatinya begitu penuh perhatian, lembut dan selalu menjadi pria yang mampu membuatnya merasa tenang. Gadis itu merubah posisi duduknya, kini ia bersandar di bahu Arinta, tentu saja hal itu tak membuat Arinta keberatan sedikitpun.
“Mau?” ujar Arinta menawarkan, ketika dirinya sudah siap menyantap makanan yang ada di tangannya.
“Mas Ari makan duluan aja, nanti kalau punyaku sudah datang, aku mau di suapin,” manja Sintya, membawa senyum dari kedua sudut bibir Arinta. Hal yang sangat jarang sekali terjadi, Sintya menjelma menjadi gadis yang begitu manja padanya. Biasanya, Sintya akan melakukan segala hal sendirian, selama dirinya masih bisa melakukan hal tersebut. Ia hanya akan meminta bantuan, untuk hal yang benar-benar sulit dan tak mampu lagi di lakukannya sendiri.
“Oke!” jawab Arinta singkat, lalu segera melahap sate padang miliknya. Ia tak akan membuang kesempatan emas ini, sudah lama sekali rasanya, Arinta selalu ingin memanjakan sang kekasih, tetapi Sintya selalu mengatakan jika usianya, sudah bukan waktunya untuk menjadi wanita yang manja. Tetapi, entah apa yang sedang gadis itu rasakan, hari ini banyak hal mengejutkan yang terjadi. Arinta hanya mampu mensyukuri segalanya, jika itu merupakan hal baik, yang mampu membuat dirinya dan Sintya sama-sama bahagia.
Karena sejatinya, semandiri apapun seorang wanita, pastilah akan memunculkan sisi manja dan selalu ingin di perhatikan, oleh pria yang mampu membuatnya merasa nyaman. Banyak hal yang bisa wanita lakukan sendiri, seperti apa yang biasa pria lakukan, tetapi semua itu akan ada masanya, saat seorang wanita merasa, dirinya ingin mendapatkan perlakuan yang spesial, dari orang yang begitu spesial di hati.