Liontin ~A~

1104 Kata
“Terima kasih, Mas Ari.” “Sama-sama, Sayang. Semoga kamu bahagia, dengan semua yang sudah kita lalui hari ini.” Arinta dan Sintya baru saja tiba di rumah, tentu saja rumah Sintya, karena Arinta hanya akan mengantarkan kekasihnya pulang sampai ke rumah. Setelah itu, baru dirinya yang akan kembali pulang, dan segera beristirahat. Hari yang menyenangkan dan tentunya tak akan bisa Arinta lupakan, selama ini pria itu hanya akan mengajak sang kekasih, mengisi akhir pekan dengan berjalan ke pusat perbelanjaan, nonton bioskop ataupun sekedar makan bersama. Baru kali ini, ia bisa mengajak Sintya pergi ke tempat yang berbeda, dari biasanya. Hubungan Arinta dan Sintya sampai sejauh ini masih berjalan lancar, keduanya sosok yang begitu dewasa, dalam menyikapi banyaknya masalah yang hadir dalam hubungan itu. Perselisihan, perbedaan pendapat tentunya sering terjadi, namun mereka mampu menyelesaikannya. Rencana pertunangan sudah ada di depan mata, keduanya sedang mempersiapkan segalanya. Semua hal memang di selesaikan berdua, karena seperti permintaan Sintya, acaranya hanya akan dilangsungkan secara sederhana. Tak begitu banyak tamu yang di undang, karena Sintya mau acaranya terasa lebih hangat bersama orang terdekat. “Ya udah, Mas Ari hati-hati dijalan ya, Tya masuk dulu,” ucap gadis itu yang sudah kembali merasakan kantuk yang luar biasa. “Sebentar, aku ada sesuatu buat kamu,” ujar Arinta, lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Pria itu memang membawa sebuah tas pinggang, tak seperti biasa yang hanya membawa dompet dan ponsel di saku celananya. Mungkin, karena ia harus membawa sesuatu yang ingin di berikan pada Sintya. “Apa, Mas?” tanya Sintya tak sabar. “Ini, Sayang,” ucap Arinta, seraya memberikan sebuah kotak berwarna navy, dengan pita merah jambu yang terlihat sederhana namun tetap indah. Sintya menerima kotak itu dengan perasaan bahagia, tak menyangka dirinya akan mendapatkan sebuah hadiah dari Arinta, sedangkan dirinya tak menyiapkan apapun. Perlahan Sintya mulai membuka pita merah jambu itu, hatinya begitu berdebar, mencoba untuk menebak apa isi dari kotak tersebut. Binar bahagia nampak jelas di wajah gadis manis berlesung pipi itu, saat melihat sebuah kalung yang sangat cantik. Sebuah kalung dengan desain yang cukup sederhana, tetapi terkesan mewah dan mahal. Apalagi dengan tambahan liontin berinisial A, yang begitu berkilap karena ada berlian kecil di salah satu sudut huruf A tersebut. Sintya mengeluarkan kalung itu dari kotaknya, ditatap dengan perasaan bahagia namun terselip sedikit haru. “Mas Ari, ini bagus banget,” ucap gadis itu tak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari kalung yang ada di tangannya. “Tya suka?” tanya Arinta. “Suka banget, Mas.” “Sini, aku pasangin ya.” Sintya memberikan kalung itu pada Arinta, agar sang kekasih membantunya untuk memasangkannya. Selain Sintya yang merasa bahagia mendapatkan hadiah itu, tetapi Arinta juga turut bahagia, karena dapat melihat jelas, jika gadis tercintanya begitu menyukai pemberian kecil darinya. Bagi Arinta, itu hanyalah sebuah pemberian kecil, atas rasa syukurnya bisa memiliki pasangan yang begitu dewasa, pengertian dan penyabar. Harga tak pernah menjadi ukuran untuk Arinta, selama ia mampu untuk membelinya, maka ia rela mengeluarkan banyak uang untuk memberi sesuatu yang bisa membuat Sintya bahagia. “Kenapa liontinnya huruf A?” goda Sintya, karena sesungguhnya gadis itu sangat mengerti apa maksud dari pemberian Arinta. Huruf A merupakan inisial nama dari sang kekasih pujaan hatinya, tetapi menanyakan seperti itu, hanya untuk mendengar jawaban yang akan pria itu katakan. “Karena huruf A, huruf pertama dari namaku. Aku mau, kamu selalu simpan aku di hatimu. Kamu pakai begini kan, inisial namaku semakin dekat sama hati kamu,” ujar Arinta lembut, tak seperti dugaan Sintya, jika lelaki itu akan kesal atas pertanyaannya. Hal inilah yang selalu membuat Sintya nyaman dan bersyukur, Arinta selalu bijaksana dan sabar menghadapi dirinya. Walau sebenarnya, Sintya sangat jarang sekali membuat Arinta merasa kesal apalagi marah. “Terima kasih ya, Mas Ari. Sebetulnya, tanpa liontin dengan inisial huruf A seperti ini, Tya akan selalu simpan nama Mas Ari, di hati Tya,” ucap Sintya tulus, mengutarakan isi hatinya yang memang sudah tak mampu melupakan Arinta dari hidupnya. “Sama-sama, Tya sayang. Jangan pernah dilepas ya,” sahut Arinta, lalu mencium kening Sintya, sebagai ungkapan cinta dari hatinya yang terdalam. “Gak akan pernah Tya lepas, Mas. Tapi, maafin Tya, ya.” “Kenapa minta maaf?” tanya Arinta bingung, menatap wajah sang kekasih yang tiba-tiba nampak sendu. “Tya gak siapin apa-apa buat Mas Ari,” sesal Sintya pada dirinya sendiri. Gadis itu menundukan kepalanya, tak mampu menatap sang kekasih yang sejak tadi menatap dalam padanya. Arinta tak menjawab apapun, tetapi pria itu langsung membawa tubuh Sintya masuk ke dalam pelukannya. Ia peluk dengan begitu erat, seraya terus menciumi puncak kepala sang kekasih dengan penuh cinta. Arinta menyalurkan segala rasa yang ia miliki untuk Sintya, tanpa mengharapkan gadis itu memberika sesuatu barang dalam bentuk apapun padanya. Jika kali ini dirinya memberi sebuah kalung, itu semua karena ia yang memang ingin memberi tanpa ingin diberi. Arinta melepaskan pelukan kedua tangannya di tubuh Sintya, lalu menarik dagu sang pujaan hati agar menatap ke arahnya. Air mata memang sudah mengalir dari kedua sudut mata Sintya, bukan karena sedih, tetapi atas rasa bahagia yang tak terhingga. “Tya sayang, dengerin aku ya. Aku kasih kamu kalung, karena aku mau kasih kamu. Itu, bukan berarti, kamu juga harus kasih hadiah buat aku. Hadirnya kamu di hidup aku, sudah menjadi hadiah terindah, yang akan selalu aku jaga,” ucap Arinta dengan sangat tulus, karena ia memang merasa Sintya adalah hadiah dari Tuhan, yang tak pernah ia duga akan hadir di kehidupannya. Sintya tak mampu berkata-kata, gadis itu berhambur dan memeluk Arinta dengan begitu erat. Arinta juga tak mengatakan apapun lagi, hanya membalas pelukan Sintya sama eratnya. Sepasang kekasih itu saling menyalurkan rasa cinta yang mereka miliki, mengucapkan berbagai doa dalam hati, berharap yang terbaik untuk hubungannya. Tak ada harapan lain, selain di lancarkan segala hal yang sudah mereka rencanakan, untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius. Karena, impian Arinta dan Sintya untuk hubungan mereka, bisa bersatu dalam ikatan pernikahan, memiliki banyak keturunan yang tampan dan cantik, menyaksikan tumbuh kembang anak mereka bersama-sama, hingga kelak anak mereka dewasa, menikah dan memiliki kehidupannya masing-masing, sampai akhirnya mereka berdua di pisahkan oleh maut. Arinta segera berpamitan pulang, karena sudah dini hari, ia juga merasa lelah dan tak ingin jika Sintya sakit karena kelelahan. Setelah Arinta pergi, Sintya masuk ke dalam rumah, gadis itu segera membersihkan diri dan berganti pakaian. Tanpa menunggu kabar dari Arinta yang sudah tiba atau belum, kantuk sudah menguasai Sintya, sampai akhirnya gadis itu memutuskan untuk segera tidur, berharap esok hari akan menjadi hari yang jauh lebih indah dari hari ini. Sintya juga berharap, Arinta tak akan marah karena dirinya sudah tidur lebih dulu, tanpa menunggu kabar dari pria itu terlebih dulu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN