Pagi begitu indah dan cerah, saat Sintya baru saja membuka kedua kelopak matanya. Bias cahaya yang masuk melalui celah jendela, membuat gadis itu tersadar, jika malam sudah berganti pagi. Meregangkan otot-otot tubuhnya, sebelum turun dari atas tempat tidur, menjadi hal pertama yang selalu ia lakukan. Hari ini, dirinya harus segera bersiap untuk berangkat kerja, tetapi sebelum itu, Sintya akan ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuknya.
Kebahagiaan tidak berkurang sedikitpun, justru terus bertambah, mengiringi setiap langkah Sintya, saat meninggalkan kamarnya menuju dapur. Gadis itu memang tidak pernah memeriksa ponsel saat terbangun, karena menurutnya akan menunda segala kegiatan, yang seharusnya segera di lakukan dengan segera. Sintya akan memeriksa ponselnya, saat sudah siap untuk berangkat ke kantor.
Menikmati setiap kegiatan yang selalu sama, tak membuat Sintya merasa jenuh dengan semua itu. Karena, ia sudah terbiasa mandiri, walau kini ada sosok Arinta dalam hidupnya. Gadis itu juga terbiasa berangkat dan pulang kerja sendiri, dengan kendaraan pribadi yang di milikinya, walaupun Arinta siap untuk mengantar jemputnya, gadis itu selalu menolak, karena tak ingin merepotkan sang pujaan hati.
Sarapan sederhana, roti panggang keju serta s**u kacang kedelai, menjadi menu untuk gadis itu nikmati pagi ini. Saat semuanya sudah siap, ia segera menyantapnya dengan begitu lahap. Ya, seperti itu keseharian yang selalu Sintya lakukan, dirinya memilih untuk sarapan lebih dulu, sebelum membersihkan tubuh, karena menurutnya, setelah mandi, lebih baik segera berpakaian rapi dan segera berangkat. Walau begitu, ia sudah membasuh wajahnya dan juga sikat gigi, sebelum keluar dari kamar.
Entah mengapa, saat selesai menikmati sarapannya, gadis itu segera masuk ke kamar untuk melihat ponselnya. Hal yang tak biasa, namun memang seperti itulah yang ingin sekali Sintya lakukan. Sesampainya di tepi ranjang, ia segera duduk dan mengambil ponsel yang tergeletak diatas nakas. Ponselnya yang mati, memang sedang diisi daya, saat dirinya baru saja terbangun, dari tidur yang begitu lelap.
Sintya menekan cukup lama tombol power, yang berada disisi kanan ponsel miliknya. Sampai warna hitam memunculkan warna, membutuhkan waktu beberapa saat untuknya, sampai akhirnya ponsel tersebut menyala dengan sempurna. Gadis itu masih belum melakukan apapun, menunggu adanya pesan yang masuk, karena biasanya Arinta akan memberi ucapan selamat pagi, walau hanya sekedar ucapan yang selalu sama, Sintya tak pernah merasa bosan sedikitpun, untuk menerima, membaca dan membalas pesan tersebut.
Sepuluh menit berlalu, tak ada satupun pesan yang ia terima dari Arinta. Hanya ada beberapa pesan masuk dari teman kerja saja, sungguh Sintya merasakan sebuah kekecewaan yang mendalam. Gadis itu teringat, bahkan Arinta tak mengabari dirinya, saat sudah tiba di rumah. Sintya tak mengerti dengan perubahan yang terjadi pada kekasihnya, tetapi ia juga tidak bisa marah begitu saja, terlebih belum mendengar penjelasan apapun dari Arinta.
Akhirnya Sintya memutuskan untuk mengembalikan ponselnya ke atas nakas, lalu ia bergegas masuk kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Tak mau berlarut dalam pemikiran yang tidak-tidak, Sintya memilih untuk teringat akan tanggung jawab pekerjaannya.
Tak membutuhkan waktu lama, untuk Sintya selesai dengan kegiatannya di dalam kamar mandi. Saat gadis itu melangkah masuk ke kamar, untuk segera mengenakan pakaian. Ponselnya berdering, menandakan ada sebuah panggilan untuknya. Senyum terbit dari kedua sudut bibirnya, karena ia begitu yakin, jika yang menelpon adalah Arinta. Pria itu pasti akan mengucapkan puluhan kali kata maaf, sebab melupakan kebiasaannya untuk memberikan kabar. Sintya sudah begitu hafal, dengan sifat sang kekasih, yang mudah merasa bersalah, atas kesalahan kecil atau tidak di sengaja sekalipun.
“Papa...” gumam Sintya, saat melihat layar ponselnya tertera tulisan Papa Danu. Ya, gadis itu sudah membiasakan diri dengan panggilan tersebut, atas permintaan Danu sendiri, sebagai calon ayah mertua.
“Halo...” ucap Sintya ramah, saat menerima panggilan tersebut.
“Sintya dimana?” tanya Danu langsung kepada inti pembicaraan, tidak ada basa basi seperti yang biasanya ia lakukan.
“Masih di rumah, Pa. Tya baru aja selesai mandi, lagi siap-siap mau berangkat kerja,” jawab Sintya masih tetap berusaha ramah dan tenang, walau seribu tanya sudah berputar dalam pikirannya.
“Tya... Tya dengerin Papa, ya. Tya harus tenang, Tya gak boleh panik. Sekarang, Tya jangan berangkat ke kantor, kamu kesini, ya. Ke rumah sakit Citra Mulya,” ucap Danu sangat ambigu, pasalnya untuk apa Sintya ke rumah sakit sepagi ini. Pria paruh baya itu memang nampak tenang, saat mengucapkan kalimatnya. Namun, tetap saja membuat Sintya bertanya-tanya.
“Buat apa ke rumah sakit?” tanya Sintya tak mengerti. Tetapi segala pemikiran buruk sudah terlintas, walau ia terus berusaha untuk menepisnya, berharap tidak ada kabar buruk di pagi hari yang baginya sangat cerah. Teringat segala kebahagiaan yang baru saja ia raih, setelah sang kekasih berhasil mengajaknya memiliki sebuah kenangan, berkunjung ke tempat yang belum pernah mereka datangi bersama.
“Ya sudah, pokoknya kamu kesini dulu. Nanti, Papa jelasin semuanya disini,” jawab Danu, dengan tetap tak memberitahu Sintya, apa yang sebenarnya terjadi.
“Oke, Pa...” ucap Sintya tak ingin berlama-lama, dengan segala pertanyaan yang terus melintas dalam benaknya. Gadis itu memilih untuk menurut saja, dan segera mengakhiri panggilan telepon itu.
Sintya segera bersiap dengan pakaian santai, karena Danu mengatakan jika dirinya tidak perlu bekerja hari ini. Setelah siap, ia langsung keluar dari kamar, dengan membawa tas kecil dan juga ponsel yang terus di genggamnya. Dengan mobil yang selalu menemani kesehariannya, Sintya melajukan kendaraan tersebut dengan kecepatan sedang. Kegelisahan tak mampu gadis itu hindari, apalagi saat kemacetan ibu kota menghambat pergerakan kendaraannya.
Sudah hampir tiga puluh menit dalam perjalanan, tetapi tempat tujuan Sintya masih sangat jauh. Mulai cemas bersamaan dengan bulir keringat yang tak mampu di bendung, segala pertanyaan muncul dalam pikiran gadis cantik itu. Ada apa dengan Arinta? Mengapa sepagi ini ia harus pergi ke rumah sakit? Mengapa Danu seolah merahasiakan sesuatu darinya? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang terus merasuki pikiran Sintya.
“Enggak, Mas Ari pasti baik-baik saja. Papa mungkin minta aku temani kontrol kesehatan, karena Mas Ari gak bisa meninggalkan pekerjaannya,” monolog Sintya dalam hati, berusaha untuk menepis segala pikiran negatifnya tentang Arinta.
“Ya ampun, ini kenapa macet banget sih? Tau gitu, tadi mendingan aku naik ojek aja,” gumam gadis itu, saat melihat kemacetan yang begitu panjang, sejauh pandangannya ke arah depan.
Ponsel milik Sintya kembali berdering, dan panggilan tersebut masih dari orang yang sama. Pria paruh baya, yang beberapa saat lalu memintanya datang ke rumah sakit. Sebelum menerima panggilan tersebut, Sintya menghirup udara dalam mobil yang begitu dingin, namun tak bisa menghentikan bulir keringat yang membasahi wajahnya.
“Iya, Pa...” ucap Sintya, sama seperti Danu yang sepertinya sedang enggan berbasa-basi, Sintya juga melakukan hal yang sama. Bukan karena tidak sopan, karena ia tak bisa menutupi rasa penasarannya, untuk segera mengetahui apa yang sedang terjadi.
“Tya masih di jalan ya?” tanya Danu menebak, walau sebenarnya Danu sudah bisa memastikan jika pertanyaan pasti benar. Karena di balik telepon, ia bisa mendengar banyaknya bunyi klakson kendaraan.
“Iya nih, Pa. Jalanan macet banget, mungkin dua puluh menit lagi, Tya baru sampai sana,” jawab Sintya, mencoba untuk memperkirakan berapa lama waktu yang harus ia tempuh.
“Ya sudah, Tya langsung ke rumah Papa aja, ya. Gak usah ke rumah sakit,” ucap Danu, memberitahu bahwa gadis itu harus merubah tujuannya.
“Sebenarnya ada apa sih, Pa?” tanya Sintya penasaran, dan sudah tak mampu tenang. Karena disaat seperti ini, Arinta tak kunjung memberi kabar padanya.
“Nanti kamu tau kok, kalau sudah sampai rumah. Pokoknya kamu tenang aja, ya, semuanya baik-baik saja,” ujar Danu berusaha menenangkan calon menantu kesayangannya. Pria itu sudah menangkap kegelisahan Sintya, karena suaranya yang sudah bergetar, seolah air mata sudah terbendung di kedua mata indahnya.
“Tapi, Pa, Mas Ari kemana ya?”
“Nanti kamu ketemu Ari di rumah.”
“Mas Ari baik-baik aja kan?” tanya Sintya dengan nada yang begitu khawatir. Terdengar hembusan nafas panjang dari Danu, saat Sintya baru saja selesai mengucapkan pertanyaannya.
“Iya, Tya. Ari baik-baik aja,” jawab Danu berbohong.
Tadi malam saat dalam perjalanan menuju ke rumah, Arinta mengalami sebuah kecelakaan. Bukan dirinya yang kecelakaan dengan mobil miliknya, namun saat ia merasakan kantuk yang luar biasa, pria itu memutuskan untuk beristirahat sejenak. Arinta yang merasa haus saat itu, memilih untuk turun dari mobil, untuk mendatangi pedagang kaki lima yang biasanya menjual berbagai jenis minuman kemasan, dan juga menjual kopi hangat. Meminum kopi saat matanya merasa kantuk, mungkin menjadi keputusan paling benar menurut Arinta saat itu.
Namun, saat ia turun dari mobil, pria itu tidak begitu memperhatikan keadaan sekitar. Sampai akhirnya, ada sebuah mobil yang menyerempet tubuhnya. Untung saja, bukan sebuah hantaman keras, yang mungkin saja bisa melenyapkan nyawanya, namun semuanya tetap membuat tubuhnya di penuhi luka. Arinta mendapatkan luka yang harus segera di tangani dokter, tangan dan kakinya mendapatkan beberapa jahitan, selebihnya hanya luka-luka kecil yang akan sembuh dengan segera.
Lalu, mengapa Arinta tidak memberi kabar pada Sintya. Alasannya, tentu saja karena tidak ingin membuat kekasihnya khawatir. Apalagi, saat kecelakaan terjadi, bisa di perkirakan jika Sintya sudah terlelap untuk menjemput mimpi indahnya. Selain itu, ponsel Arinta juga hancur, sehingga dirinya masih belum bisa memberi kabar pada sang pujaan hati.
Sedikit lega Sintya rasakan, saat mendengar jawaban dari Danu. Walaupun tetap saja, masih menyimpan sedikit ke khawatiran, tetapi gadis itu berusaha untuk percaya dengan apa yang calon ayah mertuanya ucapkan. Merasa tak ada lagi yang perlu ia tanyakan, Sintya mengakhiri panggilannya, berharap jalanan segera lancar, agar ia bisa segera tiba di rumah Arinta.
Langkah kakinya begitu gamang, seolah tidak menapak pada lantai, saat Sintya mulai menaiki anak tangga menuju teras rumah Arinta. Begitu juga saat dirinya mengetuk pintu, tangannya seolah mati rasa, memikirkan banyak hal yang tentu saja segala pemikiran negatif. Apalagi ia tak melihat keberadaan mobil milik kekasihnya, hanya ada mobil Danu yang terparkir tepat di depan mobil miliknya. Tetapi, ia terus berusaha untuk tetap tenang, mengingat ucapan Danu yang mengatakan, jika dirinya bisa bertemu dengan Arinta disini.
“Silahkan masuk, Non...” ucap Mba Endang, seorang asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja di rumah tersebut. Wanita berusia tiga puluh delapan tahun itu, membukakan pintu untuk Sintya yang sudah beberapa kali mengetuk.
“Iya, terima kasih, Mba Endang,” sahut Sintya ramah, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
Rumah itu nampak sangat sepi, bahkan saat dirinya sudah tiba di ruang tamu, ia tak mendengar suara siapapun. Baik suara Danu ataupun Arinta, lalu untuk apa dirinya diminta datang kesini, jika tak ada siapa-siapa. Sungguh pemikiran Sintya terus berjalan, berusaha untuk tetap positif, namun nyatanya tidak mampu.
“Mba Endang, Papa sama Mas Ari, dimana?” tanya Sintya pada Endang yang berjalan di belakangnya. Gadis itu sudah tak mau menunggu lebih lama, karena rasa penasarannya ingin mengetahui segala yang terjadi.
“Tuan Danu lagi pergi, Den Ari ada di kamarnya, Non. Katanya, Non Tya disuruh langsung masuk aja ke kamar,” jawab Endang memberitahu apa yang harus ia katakan.
“Loh... Papa pergi kemana?” tanya Sintya lagi semakin bingung. Danu memintanya datang kesini, lalu kenapa pria itu justru pergi meninggalkan rumah.
“Ke kantor polisi, Non,” ucap Endang, menjawab setiap pertanyaan yang Sintya ajukan.
“Tapi, tadi kayaknya saya liat, mobil Papa ada di depan.”
“Iya, Non. Tuan pergi naik taksi, katanya sih karna kurang tidur dan ngantuk, jadi Tuan gak berani, buat nyetir sendiri. Pak Karto juga lagi cuti, jadi gak ada supir.”
“Hmm... Gitu ya, Mba?”
“Iya, Non.”
“Ada apa Papa ke kantor polisi?” tanya Sintya lagi, sepertinya gadis itu sudah tak bisa menahan, untuk tidak menanyakan segala hal yang terlintas dalam hati dan pikirannya.
“Kalau masalah itu, saya juga gak tau, Non,” ujar Endang, yang memang tidak mengetahui, apa tujuan majikannya ke kantor polisi. Yang ia ketahui, jika Arinta mengalami sebuah kecelakaan, tetapi dirinya tidak di ijinkan untuk memberitahu Sintya, karena Arinta ingin memberitahu sendiri pada kekasihnya.
“Ya udah kalau gitu, Mba. Saya ke kamar Mas Ari, ya,” ucap Sintya, gadis itu tak sabar ingin menemui kekasihnya. Agar semua tanya yang ada dalam hatinya memiliki jawaban, ada apa sehingga Arinta tak memberi kabar padanya, tetapi ia diminta untuk datang ke rumah ini.
“Iya, silahkan, Non. Tapi, Non Tya mau saya buatkan minuman apa?” tanya Endang menawarkan, karena biasanya saat datang ke rumah itu, Sintya selalu minta di buatkan jus wortel atau tomat.
“Gak usah deh, Mba. Nanti aja, kalau saya haus, saya panggil Mba Endang, ya,” jawab Sintya ramah, walau dirinya sudah ingin sekali berlari, masuk ke dalam kamar Arinta, untuk melihat kekasihnya itu. Jika semuanya baik-baik saja, tidak mungkin Arinta terus berdiam diri dalam kamar. Posisi kamar pria itu yang terletak tidak jauh dari ruang tamu, pasti bisa mendengar dengan baik segala perbincangan Sintya bersama Endang. Ya, memang benar saja, dari dalam kamar, Arinta mampu mendengar segalanya dengan baik.
“Oh iya, Non. Kalau gitu, saya ke dapur dulu, ya,” pamit Endang dan segera berlalu pergi saat Sintya menganggukan kepalanya.
Sintya melangkahkan kakinya dengan perasaan berkecamuk, antara penasaran dan takut dengan apa yang akan ia lihat. Gadis itu perlahan mendorong pintu kamar Arinta, sampai dirinya bisa melihat sang kekasih yang sedang terbari di atas tempat tidur, dengan senyum yang terus berkembang menyambut kedatangannya. Air mata tak mampu Sintya bendung lagi, saat melihat banyaknya perban yang membalut beberapa bagian tubuh Arinta. Langkah kakinya terhenti, dengan perasaan takut sekaligus marah, bagaimana mungkin dirinya tidak di beritahu untuk segala hal yang terjadi.
“Tya... Sayang... Hei, kenapa nangis?” tanya Arinta lembut dengan suaranya yang sedikit serak.
Dengan sedikit merintih karena rasa sakit yang di rasakan, Arinta berusaha untuk duduk dan bersandar di kepala ranjang. Sedangkan Sintya masih terdiam membeku, apalagi setelah melihat tangan Arinta yan jauh lebih banyak lagi luka. Hatinya terasa tercabik, melihat penderitaan yang sang kekasih alami, sedangkan dirinya mampu tertidur dengan begitu nyenyak, menyelami alam mimpi yang begitu indah.
“Sayang... Ayo kesini,” ajak Arinta, saat tanyanya tak mendapatkan jawaban.
Perlahan namun pasti Sintya mulai melangkahkan kakinya, menuju tempat dimana Arinta sudah menunggunya. Air mata terus mengalir membasahi kedua pipinya, kesedihan sudah tak mampu ia tutupi lagi. Gadis itu segera duduk di tepi tempat tidur, tepat disisi kiri Arinta, yang tetap berusaha menyunggingkan senyum di wajah tampannya.
“Kenapa nangis? Hmm...” ucap Arinta lembut, seraya menghapus air mata di wajah Sintya.
“Apa yang terjadi?” tanya Sintya, tak menjawab pertanyaan dari pria di hadapannya.
“Kecelakaan kecil, tapi aku baik-baik aja, kok,” ujar Arinta tetap tenang, agar ketenangannya mampu membawa suasana hati Sintya ikut tenang seperti dirinya.
“Kecelakaan kecil, tapi perbannya ada dimana-dimana. Ish...” kesal Sintya mendengar penuturan Arinta, yang seolah meremehkan sebuah kecelakaan.
“Hei, calon istri Mas Ari yang cantik. Ini masih pagi loh, masa udah marah-marah aja, sih,” goda Arinta, berusaha membuat kekasihnya tersenyum.
Ingin sekali rasanya Sintya memukul Arinta yang begitu menyebalkan, tetapi melihat bagaimana kondisi pria itu saat ini, bagaimana mungkin ia bisa kasar padanya. Sintya terus memaksa Arinta untuk menceritakan segalanya, sampai akhirnya Arinta menyerah dan mulai menceritakan kronologi kejadian. Pria itu juga menjelaskan, jika dirinya merasakan kantuk yang luar biasa, padahal hanya membutuhkan waktu sepuluh menit saja, untuk ia bisa tiba di rumah.
“Kalau ngantuk, kenapa gak bilang? Kan bisa nginep di rumah,” ucap Sintya masih merasa kesal, karena Arinta tidak jujur dengan apa yang di rasakannya. Tentu saja Arinta merasa kantuk, perjalanan yang mereka tempuh, waktu yang mereka habiskan kemarin, pastinya membuat pria itu merasa sangat lelah.
“Nginep di rumah kamu?” tanya Arinta, dijawab dengan anggukan kepala oleh Sintya.
“Gak boleh, Sayang.”
“Kenapa gitu? Kan cuma nginep aja, dari pada kayak gini,” ucap Sintya, yang tak mengerti dengan apa yang Arinta katakan.
“Kalau aku nginep, nanti kamu hamil,” goda Arinta lagi, membuat wajah Sintya merah padam, entah karena malu atau kesal, yang pasti hal itu mampu membuat Arinta merasa bahagia, karena sang kekasih sudah mulai kembali dengan senyum indahnya.
“Ish, m***m!” ketus Sintya.
Arinta tak mengeluarkan kata lagi, dengan sedikit meringis karena tangannya yang masih terasa sakit dan perih. Pria itu membawa Sintya masuk ke dalam pelukan hangatnya, mendaratkan ciuman di kening Sintya dengan begitu dalam. Setelah itu, ia baru berusaha menenangkan Sintya, dengan mengatakan tidak perlu terlalu khawatir, karena semuanya akan baik-baik saja. Tetapi, kalimat penenang itu, justru membuat Sintya kembali menangis, karena merasa Arinta melebihi kata sempurna. Pria itu yang terluka, tetapi pria itu juga yang terus berusaha tenang agar dirinya juga ikut tenang. Sungguh, Sintya tidak akan pernah melepaskan Arinta untuk wanita lain, sekalipun nyawa yang harus menjadi taruhannya.