Sop Iga Bakar

2654 Kata
Sudah tiga hari berlalu, Arinta masih belum bisa menjalankan kegiatannya untuk pergi bekerja. Tangannya yang masih terasa sakit, membuat pria itu tidak bisa banyak melakukan gerakan, termasuk mengendarai mobilnya. Mungkin, bisa saja dirinya pergi bekerja diantar Pak Karto, tetapi Sintya yang begitu mencintainya, menjelma menjadi wanita yang begitu galak dan super cerewet. Sintya tak memberikan ijin pada Arinta, untuk pergi bekerja sebelum semua lukanya mengering. Hari ini, tanpa sepengetahuan Arinta, Sintya hanya bekerja sampai jam dua belas. Gadis itu ingin menemani kekasihnya di rumah, dan berniat untuk memasak sesuatu disana. Setelah pekerjaannya selesai, Sintya segera berpamitan pada semua teman kerjanya, lalu segera keluar kantor. Dalam perjalanan pulang, ia memutuskan untuk mampir sejenak di sebuah supermarket, untuk membeli beberapa bahan masakan. Sintya terus berkeliling, dari rak yang satu ke rak yang lainnya. Mencari banyak bahan makanan yang memang menurutnya sangat di perlukan. Tak lupa, gadis itu juga membeli beberapa camilan kesukannya, untuk menemani dirinya menghabiskan waktu di rumah Arinta. Mungkin, hanya akan ada Arinta dan Endang disana, karena Danu sedang pergi ke Bandung, untuk bertemu Farhana dan Mario, membahas kondisi putranya yang baru saja mengalami sebuah kecelakaan, sehingga rencana pertunangan Arinta dan Sintya harus di tunda beberapa saat. “Ups... Maaf,” ucap seorang wanita yang tidak sengaja menabrak troli belanjaan milik Sintya. “Oh iya, tidak apa-apa,” sahut Sintya ramah. Lalu berpikir sejenak, saat menatap wanita yang ada di hadapannya. Ia merasa pernah bertemu sebelumnya dengan wanita itu, namun tidak ingat kapan dan dimana tepatnya. Tak ingin membuang waktu, hanya untuk memikirkan sesuatu yang baginya tidak terlalu penting. Sintya segera mendorong troli belanjanya menuju kasir, setelah berpamitan pada wanita yang masih memilih beberapa camilan bersama seorang putri kecil. “Halo, Mba Endang... Mba lagi dimana?” tanya Sintya, setelah panggilan teleponnya terjawab. Ya, gadis itu memutuskan untuk menelpon Endang, karena tidak ingin mengetuk pintu, dan kedatangannya di ketahui oleh Arinta. “Saya ada di rumah, Non. Lagi jemur pakaian di belakang,” jawab Endang memberitahu kegiatan apa yang sedang di lakukannya. “Mas Ari lagi apa, ya?” tanya Sintya lagi, memastikan Arinta memang benar sedang berada dalam kamarnya. Sebelum menghubungi Endang, Sintya memang sudah saling berkirim pesan dengan sang kekasih, menanyakan apa yang sedang pria itu lakukan. Arinta mengatakan, jika dirinya sedang merasa bosan, hanya berbaring dan menonton televisi di kamar. “Den Ari ada di kamarnya, Non. Tadi, waktu saya antar jus jambu, Den Ari lagi nonton TV,” ucap Endang menjelaskan. Sintya merasa sangat lega sekaligus senang, karena yakin bahwa Arinta tidak pernah berbohong padanya, sekalipun untuk sebuah hal kecil seperti ini. Sepele mungkin untuk sebagian orang, tetapi untuk Sintya, kejujuran pasangan dalam hal apapun merupakan sesuatu yang penting untuk terus di pertahankan. “Oh gitu, ya udah, Mba Endang ke depan, ya. Tolong bukain pintu buat saya. Tapi, jangan sampai ketauan Mas Ari,” ujar Sintya, meminta tolong pada Endang. Ia memang sudah tiba di depan rumah pujaan hatinya, namun ia ingin membalas kejutan dari Arinta beberapa hari lalu, dirinya juga ingin memberikan sesuatu untuk pria yang begitu di cintainya. “Non Tya masuk lewat pintu samping aja, saya ada disini. Kalau lewat depan, pasti Den Ari tau. Soalnya, pintu kamar Den Ari terbuka. Nanti, dari kamarnya bisa lihat ke arah ruang tamu.” “Hmm... Gitu ya, Mba? Oke deh.” “Saya tunggu di pintu samping ya, Non.” “Iya, Mba. Terima kasih.” Sintya bergegas turun dari mobilnya, lalu mengambil dua kantung belanjaan untuk dibawa masuk ke dalam rumah. Gadis itu berniat untuk menyiapkan makanan lebih dulu, sebelum menemui Arinta. Oleh sebab itu, ia tak ingin Arinta mengetahui kedatangannya. Apalagi, sang kekasih sempat mengatakan jika dirinya belum makan siang, karena merasa bosan dengan menu makanan yang ada di rumah. Jadi, Sintya semangat untuk memasak sesuatu yang spesial. Sesampainya di pintu samping, Sintya tersenyum karena sudah melihat Endang disana, jadi dirinya tidak perlu mengetuk pintu lagi. Endang yang melihat bawaan Sintya cukup banyak, langsung membantunya untuk membawa masuk ke dalam rumah. Sintya segera menjelaskan pada Endang, jika dirinya ingin memasak sesuatu untuk Arinta. Berharap kegiatannya di dapur tidak akan di ketahui oleh sang kekasih, yang memang jarang sekali masuk ke area masak tersebut. Posisi dapur yang memang cukup jauh dari kamar Arinta, membuat Sintya sedikit lega, berharap segala rencananya bisa berjalan lancar. Endang dengan senang hati mengatakan jika dirinya akan membantu Sintya, mungkin membantu mengupas atau sekedar memotong sayuran yang akan Sintya masak. Saat Endang bertanya menu makanan apa yang akan Sintya masak, ternyata gadis itu akan membuat sop iga bakar kesukaan Arinta. Ya, Sintya sudah begitu hafal dengan menu makanan yang selalu menjadi makanan favorit kekasihnya. Kemanapun mereka pergi untuk menghabiskan waktu akhir pekan bersama, Arinta selalu mencari restoran atau rumah makan, yang menjual menu sop iga bakar. Jadi, hari ini Sintya akan membuat makan tersebut, dengan penuh cinta dan kasih sayang. “Mba Endang, bisa tolong bantu saya?” tanya Sintya saat dirinya sedang sibuk membolak balik iga yang sedang di bakar. “Bantu apa, Non?” ucap Endang ramah. “Ini, tolong daging iganya di bolak balik, jangan sampai gosong, ya. Saya mau ke toilet dulu,” ujar Sintya. Gadis itu memang memilih untuk membakar daging iga menggunakan alat bakar diatas kompor, tidak menggunakan oven agar lebih terasa bakarannya, seperti yang selalu Arinta katakan, saat menyantap makanan kesukaannya itu. “Siap, Non.” Sintya berlalu pergi menuju toilet, berharap tidak akan bertemu dengan Arinta, karena keberadaan toilet yang tidak jauh dari kamar pria itu. Selama memasak di dapur, Sintya memang terus saling berkirim pesan dengan sang kekasih, untuk mengetahui kegiatan apa yang sedang pria itu lakukan. Dirinya tidak ingin, segala rencananya gagal, jika Arinta tiba-tiba keluar dari kamarnya. Saat Sintya kembali ke dapur, Endang sudah mengangkat iga bakar tersebut, dan menyimpannya diatas piring yang memang sudah di sediakan. Sintya merasa senang, karena Endang mampu membantunya dengan sangat baik, kematangan daging iga itu sesuai dengan apa yang Sintya harapkan. Gadis itu segera menyiapkan nampan untuk membawa makanan itu ke kamar. Nasi, kuah sop, iga bakar dan satu gelas air minum sudah tertata dengan begitu rapi. Sintya bersiap untuk membawakan itu semua, dengan harapan Arinta akan bahagia dengan apa yang sudah susah payah ia siapkan. “Mba Endang, sop iga bakarnya, enak kan?” tanya Sintya memastikan lagi, pasalnya ia masih sedikit ragu dengan rasa hasil masakannya. “Iya, Non. Udah enak banget kok, masakan restoran kalah deh rasanya,” puji Endang yang memang merasa masakan Sintya terasa begitu lezat di lidahnya. “Ah, Mba Endang bisa aja. Ya udah, Tya ke kamar Mas Ari dulu, ya. Mba Endang juga makan aja, kan masih banyak tuh sop iganya,” ucap Sintya yang memang memasak cukup banyak siang ini. “Wah... Saya pasti makan, Non. Mana bisa, nolak makanan seenak ini,” ujar Endang penuh semangat, membangkitkan rasa percaya diri Sintya, untuk segera membawakan makanan itu ke kamar Arinta. Sintya berjalan meninggalkan dapur menuju kamar Arinta, pintu kamar pria itu memang terbuka sangat lebar, sesuai dengan apa yang Endang katakan padanya. Gadis itu mengintip sejenak, melihat apa yang sedang sang kekasih lakukan. Sepertinya, Arinta sudah tidak menonton televisi, karena terlihat dari posisi berbaringnya yang memunggungi pintu kamar. Arinta sedang asik dengan ponselnya, sesekali meringis saat merasakan luka di tangannya yang tersenggol oleh dirinya sendiri. Tanpa kata Sintya langsung masuk ke dalam kamar, namun langkah kakinya ia usahakan tak terdengar oleh Arinta. Gadis itu tersenyum, saat melihat televisi yang masih menyala, namun sang pemilik kamar seolah tidak peduli dengan acara yang sedang di tayangkan. Sintya memilih untuk meletakan tas miliknya lebih dulu diatas sofa, sebelum melanjutkan langkahnya semakin dekat ke tempat tidur sang kekasih. “Jadi, sekarang fungsinya TV tuh udah berubah, ya? TV nonton yang lagi tiduran,” goda Sintya dengan suara lembutnya, membuat Arinta sangat terkejut dan langsung menolehkan kepalanya ke asal suara. Raut wajah Arinta yang terkejut tak mampu di sembunyikan lagi, saat melihat Sintya sudah berdiri sangat dekat dengan tempatnya berbaring. “Sayang... Kapan kamu datang kesini?” tanya Arinta dengan mata yang membola sempurna, pasalnya ia memang tak pernah sekalipun bertanya apa yang sedang Sintya lakukan. Karena, pria itu berpikir jika kekasihnya masih di kantor, dan sibuk bekerja, namun tetap berusaha untuk terus berbalas pesan dengannya, saat ia mengatakan merasa bosan terus berada di dalam kamar sendirian. “Satu jam yang lalu,” jawab Sintya ringan. Gadis itu melanjutkan langkahnya ke sisi lain tempat tidur itu, agar semakin dekat dengan Arinta. Ia letakkan nampan makanan tersebut diatas nakas, sebelum dirinya duduk di tepi ranjang, dimana sang kekasih masih terdiam mematung dengan ekspresi yang mampu membuat Sintya merasa senang. Kali ini Sintya tidak melakukan kebohongan, sekalipun ia ingin memberikan sebuah kejutan untuk Arinta. Hal seperti inilah yang Sintya harapkan dari kekasihnya, memberikan sesuatu untuknya tanpa membuat sebuah kebohongan sekecil apapun. Tetapi, untuk semua yang sudah terjadi, Sintya tak akan pernah mengungkitnya lagi, karena baginya itu akan di jadikan pembelajaran untuk ke depannya. Dengan dibantu Sintya, Arinta perlahan duduk dan bersandar. Dengan perasaan yang masih tidak percaya, Arinta terus menatap wajah cantik kekasihnya. Ia tak menyangka, akan mendapatkan perlakuan seperti ini, karena biasanya Sintya akan datang ke rumahnya setelah pulang bekerja. “Mas Ari belum makan kan?” tanya Sintya, yang sebenarnya mengetahui jika kekasihnya itu belum makan siang. Padahal, saat ini hari sudah menjelang sore, pria itu malah melewatkan jam makan siangnya. Ingin sekali rasanya Sintya mengomel untuk hal tersebut, tetapi jika tidak seperti itu, makanan yang di buatnya tidak akan terasa spesial. “Iya belum, Sayang. Kamu beli sop iga bakar dimana?” tanya Arinta yang memang tidak tahu, kalau makanan yang kekasihnya bawa adalah hasil masakannya sendiri. “Beli di dapur,” jawab Sintya singkat, lalu memindahkan nampan yang sebelumnya berada diatas nakas ke atas pangkuannya. “Hah? Beli di dapur, maksudnya gimana?” tanya Arinta bingung, mendengar jawaban yang gadis di hadapannya katakan. “Mas Ari tersayang, Tya datang kesini dari satu jam lalu. Jadi, sop iga bakar ini, Tya yang masak dibantu Mba Endang,” ujar Sintya menjelaskan, menjawab segala kebingungan dalam hati Arinta. Pria itu memang sempat berpikir sejenak, jika Sintya datang sejak satu jam yang lalu, mengapa baru menemuinya sekarang. Ternyata, tanpa mengutarakan pertanyaan yang ada didalam kepalanya, sang kekasih sudah menjelaskan segalanya. “Beneran kamu yang masak, Sayang?” tanya Arinta lagi, kini berusaha meyakinkan jika Sintya memang memasak menu makanan kesukaannya. “Hmm... Mas Ari cobain dulu aja nih, kalau enak berarti masakan aku, kalau gak enak, anggap aja aku beli di restoran tanpa nama,” ucap Sintya jenaka, mengundang gelak tawa Arinya yang sedang merasa sangat bahagia dengan kedatangan gadis tercintanya. “Terima kasih ya, Sayang. Sudah datang kesini, masak makanan kesukaan aku, dan kamu berhasil, mengusir segala kebosanan yang aku rasain dari tadi,” ujar Arinta tulus, lalu mengucapkan rasa syukur dalam hati, atas segala kenikmatan dan kebahagiaan yan Tuhan berikan padanya. Seperti inilah Tuhan selalu menyelipkan sebuah hikmah dibalik setiap kejadian atau musibah. Arinta semakin mengerti, jika Sintya memang gadis yang sempurna untuknya, perhatian dan cinta dari Sintya untuknya begitu besar, sehingga ia tidak akan pernah melepaskan gadis yang begitu ia cintai itu. Dengan penuh kesabaran dan perhatian, Sintya menyuapi Arinta makanan yang sudah di siapkannya. Sesekali dirinya juga menyuap untuk dirinya sendiri, karena ia juga belum makan siang. Arinta bahagia untuk itu, makan siang bersama dengan sang kekasih, menu makanan kesukaan yang di masak oleh tangan orang yang di cintai, sore hari ini rasanya begitu sempurna untuk dirinya, yang masih merasakan sakit di bagian tangannya yang terluka. “Mau tambah makannya?” tanya Sintya, saat nasi diatas piring hanya tersisa satu suap terakhir. “Aku udah kenyang, tapi kamu tambah aja buat kamu. Katanya belum makan siang juga, kamu makan baru sedikit,” ucap Arinta yang memang memperhatikan sang kekasih hanya makan sedikit bagian dari nasi yang dibawanya. “Enggak ah, aku juga udah kenyang,” ujar Sintya, lalu menyuapi suapan terakhir itu ke mulut sang kekasih. Sehingga pria itu hanya menanggapinya dengan anggukan kepala, karena mulutnya yang begitu penuh dan sibuk mengunyah. Setelah selesai makan, Sintya segera memberikan air minum pada Arinta. Lalu, bergantian Arinta yang membantu sang kekasih untuk minum air yang tersisa. Arinta kembali mengucapkan terima kasih, untuk semua hal yang Sintya lakukan hari ini. Sintya keluar kamar meninggalkan Arinta, untuk membawa alat makan yang kotor ke dapur. Sesampainya di dapur, ia mengambil puding yang sempat dibelinya saat di supermarket tadi. Puding mangga kesukaan Arinta, dengan saus fla yang sudah Sintya siapka diatas piring, segera dibawanya kembali menuju kamar. Sungguh hari ini Sintya terus memanjakan kekasihnya, dengan berbagai menu makanan yang selalu menjadi kesukaan pria itu. “Kamu bawa apa lagi, Sayang?” tanya Arinta saat melihat Sintya kembali masuk ke kamar, dengan sebuah piring kecil di tangannya. “Yang pastinya Mas Ari suka,” jawab Sintya ringan, lalu memberikan piring itu pada kekasihnya. Untuk memakan puding mangga itu, Sintya tidak akan menyuapi Arinta, karena dirinya yang sudah merasakan kelelahan di tubuhnya, ingin ikut bergabung dengan sang kekasih naik ke atas tempat tidur. Arinta hanya tersenyum, melihat setiap pergerakan yang Sintya lakukan. “Kalau puding mangganya pasti beli, soalnya aku kenal banget sama rasanya,” ucap Arinta yang sudah mulai memakan puding tersebut. “Iya, emang aku beli di supermarket. Waktu tadi belanja bahan masakan,” ujar Sintya yang kini sedang menyandarkan kepalanya di bahu Arinta. “Mau beli atau kamu yang buat, aku selalu suka. Sekali lagi, terima kasih ya, Sayang.” Untuk kesekian kalinya Arinta mengucapkan terima kasih hari ini, membuat Sintya enggan menanggapinya, karena sejak tadi gadis itu sudah mengatakan, agar pria itu tidak terus mengucapkan rasa terima kasihnya. Tetapi, Arinta seolah lupa dan terus mengatakan hal tersebut. Sintya memilih diam, selama Arinta menghabiskan puding tersebut. Pastinya Arinta tidak akan menawari Sintya, karena gadis itu tidak suka buah mangga, sedangkan dirinya begitu menggilai buah tersebut. Namun, perbedaan diantara mereka, tidak pernah membuat keduanya harus selisih paham, karena cukup dengan saling menghargai, maka hubungan yang dijalani akan terus terjalin dengan sangat baik. “Ngantuk ya?” tanya Arinta saat mendapati Sintya menguap, gadis itu hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Lelah di wajah gadis itu juga sangat tergambar dengan jelas, sehingga menimbulkan rasa bersalah dalam hati Arinta. Karena terus mengurus dirinya, sang kekasih jadi kelelahan seperti ini. Tetapi, jika ia ungkapkan rasa bersalah itu, Sintya pasti akan marah dan terus mengomeli dirinya. Jadi, Arinta memilih untuk diam dan memendamnya dalam hati saja. Yang harus ia lakukan sekarang hanya satu, segera menghabiskan puding itu, agar Sintya bisa segera beristirahat. “Sini piringnya, biar aku bawa ke dapur,” ucap Sintya yang melihat Arinta sudah meletakan piring kecil itu diatas nakas. “Gak usah, Sayang. Kamu udah kelelahan, mendingan kamu istirahat aja. Nanti aku panggil Mba Endang, biar bawa piringnya ke dapur,” ujar Arinta cukup tegas dan tak ingin dibantah. Jika sudah seperti ini nada bicara Arinta, Sintya hanya mampu menuruti setiap perkataan pria itu. Arinta segera mengirim pesan pada Endang, agar wanita yang sudah lama bekerja di rumahnya itu ke kamar untuk mengambil piring kotor. Endang yang senang menghabiskan waktu di rumah bagian belakang, membuat Arinta tak mungkin berteriak untuk memanggil wanita itu. Jalan satu-satunya, dengan mengirim pesan, agar Endang segera datang. Benar saja, tak berselang lama Endang sudah masuk ke dalam kamarnya. Ia segera meminta wanita itu untuk membawa piring kotor tersebut ke dapur, tak lupa Arinta juga meminta Endang untuk menutup pintu kamarnya, agar Sintya bisa beristirahat dengan nyaman. “Kamu tidur dulu disini aja, ya. Nanti pulang tunggu Papa pulang, biar diantar Pak Karto,” ucap Arinta, tetapi Sintya sudah tak mampu menanggapinya lagi. Rasa kantuk sudah begitu menguasai dirinya, sehingga wanita itu segera berbaring diatas tempat tidur, dengan salah satu tangannya yang melingkar di perut Arinta. Arinta merapikan helaian rambut Sintya yang menutupi wajah gadis itu, tidak membutuhkan waktu lama, suara dengkuran halus sudah masuk dalam pendengaran Arinta, menandakan jika kekasih pujaan hatinya sudah tertidur pulas. Perlahan namun pasti, pria itu juga ikut berbaring dan saling berhadapan dengan Sintya. Arinta mencium kening, hidung lalu bibir gadis itu singkat, sebelum akhirnya ikut terlelap bersama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN