Satu minggu setelah Arinta terus beristirahat di rumah, hari ini dirinya akan mulai kembali beraktifitas seperti biasa. Pekerjaan yang lama di tinggal, pastinya akan membuat pria itu sangat sibuk untuk menyelesaikannya. Sesampainya di kantor, seperti biasa Arinta selalu memberi kabar pada sang kekasih hati. Namun, pesannya tak mendapatkan balasan, setelah lima belas menit ia menunggu. Akhirnya Arinta memilih untuk mulai bekerja, dan membiarkan ponselnya diatas meja.
Tanpa Arinta sadari karena ponselnya dalam mode senyap, ada panggilan telepon dari Sintya yang tak kunjung terjawab. Betapa terkejutnya Arinta, saat waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang, pria itu melihat ponselnya, ada begitu banyak panggilan tak terjawab dan pesan dari pacar tercintanya. Tak membaca isi pesan dari Sintya, Arinta langsung menelpon gadis itu, untuk meminta maaf sekaligus menanyakan ada hal apa, karena biasanya ada sesuatu yang penting, saat Sintya terus menghubunginya berulang kali.
“Halo... Sayang... Aku minta maaf ya, hp aku tadi di silent, maksudnya biar bisa fokus kerja. Eh, taunya kamu telpon sama kirim pesan, banyak banget. Ada apa?” cerocos Arinta, saat menyadari jika panggilannya sudah terjawab.
“Iya gak apa-apa, Mas. Mas Ari pasti sibuk banget, ya, soalnya udah satu minggu gak ke kantor,” ucap Sintya lembut. Ya, seperti itulah sifat Sintya yang sebenarnya, selalu lemah lembut dan menjadi wanita yang paling mengerti keadaan Arinta. Jadi, tak ada alasan untuk Arinta melepaskan wanita sebaik dan selalu terlihat sempurna di matanya itu.
“Hmm... Iya, Tya. Pekerjaanku banyak sekali hari ini. Sampai jam segini aja belum selesai, tapi aku mau makan siang dulu. Kamu sudah makan siang?”
“Ini Tya lagi makan siang sama Mama,” jawab Sintya memberitahu, jika saat ini dirinya sedang bersama sang ibu. Tentu saja membuat Arinta merasa sedikit terkejut, pasalnya ia tak mengetahui jika calon ibu mertuanya akan datang ke Jakaarta.
“Mama?” beo Arinta, mencoba meyakinkan kebenaran atas apa yang baru saja kekasihnya katakan.
“Iya, Mas. Mama baru dateng tadi pagi, makanya Tya gak cepat balas pesan dari Mas Ari. Soalnya, Tya lagi jemput Mama di stasiun. Waktu aku telpon gak ada jawaban, ya udah aku kabarin lewat pesan,” ucap Sintya menjelaskan.
“Kakek gak ikut?” tanya Arinta lagi, mengingat calon ibu mertuanya yang selalu menjaga dan merawat Kakek Mario.
“Ikut dong, tapi gak mau aku ajak pergi makan siang. Soalnya ada Papa ke rumah, jadi nanti aku bawain makanan aja, buat Kakek sama Papa.”
“Ya ampun, maafin aku ya, Sayang. Bisa-bisanya, aku jadi orang yang paling gak tau apa-apa. Nanti aku pulang cepat, biar bisa mampir ke rumah, ya. Mau ketemu Kakek sama Mama, udah lama banget gak ketemu mereka,” sesal Arinta yang tak melihat ponsel sejak memulai pekerjaannya.
“Iya, Mas. Ya udah, Mas makan siang dulu sana. Aku juga mau lanjut makan, terus mau cepet pulang, kasian Kakek sama Papa, kalau nunggu kelamaan,” ujar Sintya yang memang belum selesai dengan kegiatan makan siangnya.
“Iya, Sayang... Salam ya, buat Mama sama Kakek.”
“Iya, Mas.”
Arinta yang sudah cukup lama kehilangan sosok sang ibu, memang merasa bahagia saat bisa kembali merasakan, kasih sayang yang sudah hilang itu. Tentu saja hal itu ia dapatkan dari Farhana, wanita yang begitu lembut dan penuh kasih sayang, tidak berbeda jauh dengan sang putri. Farhana menjadi wanita yang selalu memberinya perhatian, tak membedakan sekecil apapun antara yang diberikannya untuk Sintya dan Arinta. Begitupun sebaliknya, Sintya juga bisa merasakan kembali kasih sayang dari seorang ayah, sejak dirinya menjalin hubungan dengan Arinta.
Sosok Danu yang tegas namun penyayang, membuat Sintya begitu nyaman untuk berkeluh kesah pada sang calon ayah mertua. Lebih tepatnya, saat gadis itu merasa lelah dengan pekerjaan yang sedang di jalaninya. Danu selalu memberi semangat dan masukan yang positif untuk calon menantunya, terutama untuk mulai belajar bisnis, agar setelah menikah, Sintya bisa membantu Arinta di perusahaan miliknya, tanpa harus melanjutkan pekerjaannya yang sekarang.
Keluarga mereka terasa begitu lengkap, dengan keberadaan Mario Pahlevi. Pria paruh baya yang selalu memberi banyak masukan, untuk menantu, putra dari sahabatnya dan juga cucu-cucunya yang sedang menjalin sebuah hubungan. Terutama mengenai sebuah kejujuran dan kepercayaan dalam hubungan, menurut Mario, itu adalah dua hal yang jauh lebih penting dari sekedar cinta. Karena, dengan dua hal tersebut, cinta yang tertanam dalam hati akan menjadi semakin kuat dan kokoh.
Arinta meminta sekretaris pribadinya untuk memesankan makanan dan minuman di kantin, untuk dirinya makan siang hari ini. Mengetahui kedatangan Mario dan Farhana ke Jakarta, membuat pria itu enggan meninggalkan pekerjaan yang harus cepat ia selesaikan. Tentu saja, agar ia bisa pulang lebih cepat dari biasanya. Walau dirinya sang pemilik perusahaan, tetapi Arinta selalu bekerja secara profesional dan bertanggung jawab, tidak ingin meninggalkan kantor seenaknya, untuk memenuhi kepentingan pribadinya.
Ponsel Arinta berdering disela kegiatannya menyuap makanan yang baru saja datang, pria itu segera melihatnya, karena tak ingin kesalahannya beberapa jam lalu terulang. Tulisan Papa terpampang di layar, membuat Arinta langsung menjawab panggilan itu dengan segera. Khawatir ada sesuatu yang penting, jadi ia tak ingin menunda untuk berbincang dengan sang ayah.
“Halo, Pa. Ada apa?” tanya Arinta.
“Halo, Ri. Kamu lagi dimana?” ucap Danu dari seberang panggilan, bukan menjawab pertanyaan sang putra, pria itu justru mengajukan sebuah pertanyaan.
“Di kantor, Pa. Kenapa?” tanya Arinta lagi, karena tak biasanya sang ayah menanyakan dimana keberadaan dirinya. Pasalnya Danu mengetahui jika hari ini ia sudah mulai bekerja seperti biasa, lalu mengapa pria itu menanyakan dirinya berada dimana. Apalagi jam makan siang sudah berlalu, pastinya saja ia ada di kantor untuk menyelesaikan pekerjaan.
“Kamu bisa pulang sekarang gak?”
“Loh... Kenapa, Pa? Papa bukannya lagi di rumah Tya, kok nyuruh Ari pulang. Ada apa? Semuanya baik-baik aja kan?” panik Arinta, teringat satu minggu lalu sang ayah menghubungi Sintya untuk tidak bekerja, karena dirinya yang mengalami kecelakaan. Jadi, ia berpikir ada hal buruk yang terjadi, sehingga ia harus pulang lebih cepat.
“Tenang Ri, tenang. Gak ada apa-apa kok, semuanya baik-baik aja. Tya juga lagi di dapur sama Farhana, buat kue. Om Mario gak sabar pengen ketemu cucu laki-lakinya, jadi kamu di suruh pulang. Tapi, itu juga kalau bisa, Ri, kalau gak bisa jangan di paksain. Kamu selesaikan saja dulu, semua pekerjaan kamu,” ucap Danu menjelaskan dengan tenang, agar putranya tidak terus dalam kepanikan.
“Ya udah, selesai makan Ari pulang ya, Pa. Salam buat Kakek, Ari pulang cepat hari ini,” ujar Arinta sudah kembali tenang, karena tak ada sesuatu yang terjadi. Tetapi, jika sudah menyangkut permintaan Mario, ia tak akan bisa menolak ataupun menunda. Mengingat usia Mario yang sudah tidak muda lagi, sudah menjadi kewajibannya untuk bisa mengabulkan apapun, permintaan pria yang merupakan sahabat darri mendiang kakeknya.
“Iya, Ri. Kamu hati-hati nanti dijalan, ya.”
“Iya, Pa.”
Arinta langsung melanjutkan kegiatan makannya setelah panggilan berakhir, pria itu juga menghubungi sekretarisnya, untuk memberitahu jika ia akan pulang lebih cepat hari ini. Jadi, Arinta meminta pada wanita bernama Thea itu, untuk membantu dirinya menyelesaikan beberapa pekerjaan. Semenjak Arinta membuka perusahaan miliknya ini, Thea sudah bekerja dengan sangat baik dan terpercaya.
Selesai makan, Arinta bersiap untuk pulang, dan meninggalkan segala rutinitas pekerjaan di kantornya. Pria itu juga memang sudah tidak sabar, untuk bisa berkumpul bersama keluarga yang begitu di cintainya. Dalam perjalanan pulang, Arinta sempat membeli kopi untuk dirinya dan Sintya. Ya, memang minuman bercita rasa pahit itu, sudah masuk ke dalam list, minuman yang akan selalu mereka nikmati bersama. Sedangkan untuk anggota keluarganya, Arinta membelikan beberapa minuman, tetapi bukan kopi, mengingat semuanya tidak terlalu suka minum kopi.
Mobil Arinta sudah terparkir tepat didepan teras rumah, pintu utama rumah tersebut yang nampak terbuka, membuat pria itu bisa langsung masuk tanpa harus mengetuk terlebih dahulu. Sesampainya di ruang tamu, Arinta bisa melihat jika seluruh anggota keluarganya sedang berkumpul. Pria itu segera menyalami Mario dan Farhana, dua orang yang sudah lama sekali tidak ia temui.
“Bawa apa, Mas?” tanya Sintya, yang melihat ada sebuah kantung di tangan kiri Arinta. Sebetulnya, tak perlu ia tanyakan, karena kantung tersebut sudah begitu familiar untuk dirinya dan Arinta, yang sudah sering menikmati minuman di tempat tersebut.
“Calon suami pulang tuh, yang ditanya gimana perjalanannya dulu dong, Nak. Ini malah langsung ditanya bawa apa,” goda Mario pada sang cucu yang sejak tadi terus menempel padanya. Sintya memang begitu manja pada sang kakek, karena pria itu yang selalu mengisi hari-harinya semenjak kepergian sang ayah.
“Pasti lancar kan ya, Mas, perjalanannya. Soalnya cepat sampai sini, berarti kan gak macet,” ucap Sintya mengundang gelak tawa anggota keluarga yang lain. Bukan gadis itu yang sedang melucu, tetapi raut wajah yang di tunjukannya memang begitu menggemaskan, seperti anak kecil yang selalu menanyakan buah tangan pada sang ayah, saat baru pulang bekerja.
“Iya, perjalanan lancar kok. Kalau jam segini gak pernah macet, ini aku bawain kopi buat kita, sama minuman dingin buat yang lain. Cuaca panas banget, makanya aku beli minuman. Mau beli kue, kata Papa, Mama sama Tya tadi buat kue,” ujar Arinta yang memang tak membeli makanan, karena teringat ucapan ayahnya.
Sintya segera menerima kantung tersebut dari Arinta, mengambil kopi kesukaannya, dan mengeluarkan beberapa minuman lain untuk di letakkan diatas meja. Kelima orang itu saling berbincang ringan, membahas kegiatan masing-masing. Mario juga mengutarakan rasa rindu untuk kedua cucunya, yang sudah lama sekali tidak mengunjunginya ke Bandung, karena kesibukan mereka yang begitu padat. Sampai akhirnya ia dan menantunya yang harus ke Jakarta, karena sudah tidak bisa menahan rasa rindu itu lagi.
Mario sudah tidak pernah menganggap Arinta sebagai calon suami dari cucunya, pria itu selalu menganggap Arinta dan Sintya adalah dua cucu tersayangnya. Mario merasa sangat bahagia, karena impiannya bisa berjalan dengan begitu indah. Saat dirinya dan sang sahabat sama-sama memiliki seorang putra, impian terakhirnya bisa menjodohkan cucu mereka. Tetapi, takdir Tuhan berjalan dengan penuh kejutan. Tanpa di jodohkan, cucu-cucunya sudah lebih dulu menjalin hubungan, dan saling mencintai satu sama lain.
“Kapan acara pertunangan kalian akan di gelar?” tanya Mario, pada dua cucu yang terus menempel di kanan dan kiri tubuhnya. Arinta yang selalu terlihat tegas saja, bisa menunjukan sisi manjanya di hadapan Mario.
Seharusnya akhir pekan ini acara pertunangan itu di laksanakan, tetapi manusia hanya bisa berencana, semuanya Tuhan yang menentukan. Segalanya harus di tunda, saat Arinta mengalami kecelakaan, sedangkan segala keperluan belum selesai diurus. Jadi, Arinta dan Sintya harus mengatur ulang segalanya, dengan tempat pelaksanaan yang masih sama, yaitu di rumah keluarga Sintya di Bandung.
“Dua minggu lagi, Kek,” jawab Sintya, yang memang sudah menentukan waktu tersebut bersama dengan Arinta.
“Iya, Kek. Soalnya, masih ada beberapa hal yang harus diurus. Selain itu, kita juga baru bisa cuti dari pekerjaan, dua minggu lagi. Gak apa-apa kan, Kek?” timpal Arinta menjelaskan, sekaligus menanyakan persetujuan Mario.
“Kapanpun waktunya, Kakek cuma bisa mendoakan yang terbaik, buat kedua cucu Kakek. Kalian jangan terlalu forsir segalanya, karna Kakek gak mau, kalau kalian sampai sakit,” ucap Mario memperingati, tak ingin kedua cucunya sakit karena terlalu kelelahan.
“Iya siap, Kek,” ucap Sintya dan Arinta bersamaan.
Farhana mengajak putrinya untuk memasak di dapur, karena tanpa terasa hari sudah semakin sore. Sebelum Danu dan Arinta pulang, alangkah lebih baiknya jika mereka makan malam bersama lebih dulu. Dengan penuh semangat, Sintya melangkahkan kaki mengekori sang ibu. Keduanya memang sudah berbelanja bahan masakan, sehingga tak perlu memikirkan lagi menu apa yang akan di masaknya.
Selama Sintya bersama ibunya memasak di dapur, Mario, Danu dan Arinta terus berbincang mengenai banyak hal. Terutama Mario yang banyak bertanya pada Arinta, mengenai rencananya setelah acara pertunangan nanti. Akan menunda rencana pernikahan untuk beberapa waktu, atau langsung menentukan tanggal pernikahan. Tetapi, Arinta tak bisa memberi jawaban yang pasti, karena ia harus membicarakannya lebih dulu bersama Sintya.
Setiap pengambilan keputusan, Arinta ingin Sintya juga mengambil peran yang penting. Sehingga, gadis yang di cintainya itu akan selalu merasa pendapatnya di hargai. Hal sekecil apapun, Arinta memang selalu membicarakannya bersama Sintya, jadi mendapat pertanyaan seperti itu dari Mario, Arinta tak berani menjawab selain mengatakan akan memberitahu keluarga setelah membahasnya bersama sang pujaan hati.
“Wahh... Seru banget yang lagi masak,” ucap Arinta yang sudah masuk ke dapur, pria itu memang sudah berpamitan pada ayah dan kakeknya, karena merasa ingin ke toilet. Namun, setelah selesai dengan kegiatannya di dalam kamar mandi, Arinta memutuskan untuk menghampiri Sintya dan Farhana.
“Eh... Kamu ngapain kesini, Ri?” tanya Farhana lembut, sosok keibuan yang selalu membuat Arinta bahagia berada di dekat wanita itu.
“Mau liat yang lagi masak aja, Ma,” jawab Arinta, lalu mencoba untuk menjahili sang kekasih yang sedang fokus. Gadis itu seperti tak mengindahkan kehadiran Arinta, sehingga Arinta yang merasa di abaikan memunculkan sifat usilnya.
“Mas Ari ngapain sih ah? Ke depan lagi sana, jangan ganggu aku masak,” kesal Sintya, saat Arinta terus mencolek-colek pipi kanan dan kirinya bergantian.
Farhana hanya terkekeh geli, melihat interaksi putri dan calon menantunya yang begitu menggemaskan. Sudah lama sekali, ia membayangkan bisa menyaksikan hal ini, akhirnya sekarang di wujudkan saat sang putri mendapatkan pria yang tepat. Farhana selalu bersyukur, karena kehadiran Arinta membuatnya percaya, jika pria itu akan menjaga Sintya dengan sangat baik.
“Lagian, aku dateng kamu tetap aja asik sama sayuran,” ujar Arinta ringan, mengatakan rasa tidak terimanya, karena Sintya tidak menanggapi ucapannya.
“Ya kan udah dijawab sama Mama,” sahut Sintya, lalu menuju wastafel untuk mencuci sayuran yang baru saja selesai ia potong.
“Kan gak rugi, kalau kamu juga jawab,” rajuk Arinta manja.
Farhana menghampiri putranya itu, membelai puncak kepala Arinta dengan penuh kasih sayang, berharap pria itu tak melanjutkan aksi merajuknya. Sintya yang memang sedikit lebih keras kepala, membuat Arinta yang harus jauh lebih mengerti karakter kekasihnya.
“Udah ah, jangan ngambek. Kan udah ada Mama yang jawab, kamu mau di masakin apa?” tanya Farhana, berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Apa aja, Ma. Asal masakan Mama sama Tya, Ari pasti suka,” jawab Arinta, lalu berpamitan untuk kembali ke ruang tamu. Melanjutkan obrolan dirinya bersama Danu dan Mario yang sempat terpotong, saat ia harus pergi ke toilet.
Tak hanya pria yang berbincang untuk membahas segala hal, Sintya dan Farhana juga membahas mengenai rencana pertunangan dan kegiatan mereka. Keduanya saling mencurahkan rasa rindu, karena sudah lama tak tinggal bersama. Farhana juga tidak lupa untuk memberikan semangat pada putrinya, karena saat sebuah hubungan akan melangkah ke jenjang yang lebih serius, maka akan ada saja cobaan yang akan hadir tanpa terduga. Farhana berharap, Arinya dan Sintya mampu menghadapinya.
Selesai memasak berbagai menu makan malam, Sintya segera memanggil para pria untuk bergabung di ruang makan. Mereka akan makan malam bersama, kegiatan yang sudah lama sekali tidak dilakukan, karena tempat tinggal yang terpisahkan oleh jarak. Semuanya menikmati makan malam dengan perasaan bahagia, bisa berkumpul dengan keluarga, merupakan sesuatu yang sangat berharga, jadi semuanya tidak akan menyiakan kesempatan emas ini.
Setelah makan malam, Danu dan Arinta segera berpamitan untuk pulang, karena hari sudah semakin larut. Farhana dan Mario yang baru saja datang dari Bandung, pasti membutuhkan waktu untuk segera beristirahat. Begitu juga dengan Sintya dan Arinta, yang besok harus kembali dengan rutinitas kerjanya.
“Halo...” ucap Sintya, saat menerima panggilan dari Arinta.
Sudah satu jam berlalu sejak pria itu pulang, Sintya langsung mendapatkan panggilan telepon. Sintya berpikir, jika Arinta akan memberi kabar padanya, karena sudah sampai di rumah. Tetapi, semua diluar dugaan, karena Arinta mengatakan jika dirinya masih dalam perjalanan pulang. Jadi, Sintya tidak perlu menunggu kabar darinya, karena kemungkinan Arinta dan Danu tiba di rumah larut malam.
“Ya sudah, aku tidur duluan ya, Mas. Mas Ari hati-hati dijalan,” ujar Sintya setelah mendengar penjelasan dari Arinta, jika ban mobilnya mengalami kebocoran.
“Iya, Sayang. Selamat istirahat, semoga mimpi indah. I love you...”
“Love you too...”