"Ari... Ari... Kamu kok malah bengong sih?" tanya Danu, pada putranya yang terus saja terdiam mematung, sambil terus menatap pada dirinya dengan tatapan kosong. "Eh... Iya, Pa. Ayo kita masuk," ujar Arinta berusaha menutupi kegugupannya. Arinta dan Danu masuk ke dalam ruang tamu, namun mereka hanya mendapati Sintya yang sedang duduk seorang diri. Entah kemana Ranti, Arinta juga tak mengetahuinya. "Papa...." ucap Sintya dengan sangat antusias, menyambut kedatangan calon ayah mertuanya. Tetapi, saat ia berusaha untuk berdiri, kakinya masih terasa lemas, di tambah kepalanya juga pusing. "Tunggu situ, Sayang. Nanti Papa yang kesitu," ujar Arinta mencegah Sintya melanjutkan pergerakannya. Danu yang mendengar hal itu langsung mengerti, ia duduk disisi kanan Sintya, membawa tubuh mungil putr

