Mengambil napas terasa tiba-tiba berat Vino lakukan. Berdiri tegang di depan pintu kerja Giordanz, cowok itu mencoba menetralisir degupan gugup yang berdetak didada. Rasanya seperti hendak masuk persidangan sebagai tersangka. Namun percayalah, semuanya tidak bisa membantu membuatnya tenang. Yang mau tak mau dirinya harus tetap masuk kedalam sana, yang sebenarnya kata tersangka pas juga untuknya kali ini. Dan saat ini Vino sudah berdiri tegap didepan Giordanz. Iris tajam ayah sambungnya itu begitu terasa menusuk membuatnya enggan menatap balik. Acap kali bersinggungan, maka akan ia alihkan manik birunya kemanapun, asal tidak terpelosok maut. Karena sorot mata Giordanz amat mematikan baginya. “Bisa jelaskan apa yang saya lihat di cctv?” Giordanz akhirnya bersuara setelah cukup lama hanya

