Kenangan Sahabat Kecil

1492 Kata
"Ara mana alif.." "Ini Bunda..." "Kalau Ba mana?" "Yang ini....!" Jawab Mutiara. Disusul gelak tawa Rayyan yang sepulang kerja tadi memperhatikan interaksi kedua perempuan beda usia itu. "Ayaaaah..." Mutiara yang menyadari kehadiran Rayyan lantas menghambur kearah Rayan. Tentu saja, dengan senang hati Rayyan menyambut sang putri kecilnya itu. "Wah pinter ternyata anak ayah.." "Baru pulang Mas.." Sapa Aisyah mencium takjim tangan suaminya. Di balas Rayyan dengan kecupan ringan di kening sang istri. "Ara belum salim sama ayah loh..." Ujar Aisyah. Pada putrinya yang sudah asyik dalam pelukan sang ayah. Lantas mencium tangan ayahnya. * * * Ara. Itu nama panggilan dari Mutiara Zahra Ar Rayyan. Sejak kecil ia sangat antusias saat belajar. Bahkan cita- citanya sejak kecil ingin jadi seorang Guru. Sehingga untuk memenuhi dahaga gadis kecil itu akan ilmu, Rayyan dan Aisyah sepakat mengantarkan Ara ke Pondok Al- Kahfi. Meski hanya diwaktu- waktu tertentu saja, karena usia Ara saat itu terbilang baru saja lepas masa balita. Jadi belum memungkinkan lepas dari pengawasan kedua orang tuanya. Pondok Al- Kahfi, di asuh oleh Abah Hamdan, seorang ulama yang cukup dikenal di daerahnya. Meski tak setenar dai penyejuk qalbu. Beliau memiliki seorang Cucu, Muhammad Hafiz Akmal Hikman namanya, lebih akrab si sapa Ahik. Sebenarnya Ahik terpaut beberapa tahun usianya di atas Ara. Namun mereka kerap dipertemukan dibawah bimbingan para ustadz dan ustadzah di pondok Al- Kahfi ini. Karena potensi yang dimiliki Ara di usianya yang relatif dini, akhirnya mampu menarik perhatian Abah Hamdan. Tak jarang Ara dan Ahik pun dapat bimbingan khusus dari beliau. Waktu pun berlalu. Ara dan Ahik kecil pun semakin akrab satu sama lain. Terjalinlah persahabatan sepasang bocah kecil ini. Layaknya sepasang kakak beradik. Ahik dan Ara sama- sama tidak memiliki saudara kandung. Sehingga mereka dengan cepat mengisi kekosongan satu sama lain. --- Menjelang usia remaja ayah Ahik, Abdurahman Hafiz yang baru saja menyelesaikan studi S3, di daulat untuk menjadi salah seorang Mudaris di sebuah universitas terkemuka di Mesir. Sehingga mengharuskannya memboyong keluarga kecilnya. Tentu saja Ahik tak tertinggal. Ara dan Ahik pun terpisah jarak. * * * Waktu terasa cepat berlalu dan kini gadis kecil itu telah tumbuh menjadi remaja cerdas, cantik dan periang. Dengan tutur kata lembut, mencerminkan kecantikan jiwanya. Di sinilah Ara sekarang, di pondok Al- Kahfi, bersama anak- anak di desanya. Selepas aktivitas sekolahnya, Ara sempatkan berbagi ilmu di pengajian rutin anak- anak di desanya. Selepas Magrib hingga Isya dan pukul tiga dini hari hingga subuh, itulah waktu yang Ara pilih. Sebelum kembali larut dengan aktivitas sekolahnya. Saat ini Ara duduk dikelas XII Aliyah. Anak- anak di desanya sangat menyayangi Ara. Mereka senang belajar bersama Ara. Bahkan tak jarang ketika Ara terlambat datang di pondok, anak- anak itu berbondong- bondong menjemput ke rumahnya. "Assalamualaikum... Adik- adik.. Siap mulai belajar lagi hari ini...?" Sambut Ara penuh semangat. "Wa'alaikum Salam warahmatullahi wabarakatuh.. Siap Kaaaak...!" Jawaban dari anak- anak tak kalah antusias. "Kalau begitu, ayo di pimpin do'a sebelum belajarnya". Keriuhan khas bocah- bocah terdengar bersahutan, ketika melantunkan do'a. Penuh antusias. "Ok. Untuk hari ini. Kita akan membahas tentang ilmu tauhid. Ada yang tau apa itu tauhid?" Tanya Ara. "Meng-ESA-kan Allah Kak...!". Jawab seorang anak di barisan paling belakang. "Pintar...! Tepat sekali jawaban kamu Rizki..!". Sahut Ara.. "Rizki gitu loh...". Anak tadi menyombong, menepuk dadanya sendiri, lantas acungkan kedua jempol tangannya.. "Huh... Sombooooong..." Timpal Zakaria. Didukung anak lainnya. Ara hanya tersenyum manis, menyaksikan interaksi anak- anak itu. "Sudah.., sudah..., mau di lanjutin gak belajarnya?...". Lerai Ara. "Mau Kak..." Jawab anak- anak itu, terdengar begitu riuh. Itulah suasana yang begitu di nikmati Ara. Suasana yang tak didapatkannya dirumah. Tentu saja, toh dirumahnya hanya ada Ayah, Bunda dan dirinya. "Ok.. Fokus lagi perhatiannya ya.." Sambung Ara. "Iyaa Kaaaaaaak...". Timpal mereka serentak.. "... Jadi benar apa tadi jawaban Rizki. Tauhid itu adalah meng-Esa-kan Allah. Tauhid itu dasar dari agama Islam yang secara tegas diungkapkan dalam kalimat 'Lā ilāha illallāh',..., sekarang kakak mau tanya,... Em.., siapa yang tahu arti dari... 'Lā ilāha illallāh'? Angkat tangan..." "Aku Kak..., aku tau, aku tahu...!" kembali suasana itu riuh, berebut ingin menjawab pertanyaan Ara. Ara terkekeh geli menyaksikan pemandangan yang sangat indah ini. Pemandangan yang tak ia dapati di rumahnya. Tentu saja. Karena ia anak satu- satunya dari ayah dan bundanya. Dan di tempat inilah ia merasa sangat bahagia. Memiliki banyak sekali adik lucu yang begitu manis dan tentunya sangat menyayanginya. Sekilas kenangan masa kecil melintas di benaknya. Saat dirinya berada di posisi anak- anak itu. 'Ahik.., apa kabar mu sekarang?' Ara menarik nafasnya sejenak lantas kembali fokus pada perannya saat ini. "Ok Zahra.., kamu yang jawab.. Emm nama kamu sama kaya kakak ya..." Tunjuk Ara. Yang di tunjuk pun tersenyum senang. "Tiada tuhan selain Allah, itu kan artinya Kak?..." Jawab Zahra. Ara tersenyum, lantas mengangguk. "Wah hebat sekali ya Zahra. Pintar- pintar semuanya...". Puji Ara. Mereka semua bersorak senang dengan pujian Ara. "Ok Boleh di catat di buku kalian ya. Seperti apa yang Rizki dan Zahra katakan tadi. Maka, tauhid itu..., artinya menjadikan sesuatu jadi satu saja.. Atau lebih tepatnya meng-Esa-kan." Terang Ara. Suasana hening. Karena anak- anak itu sibuk dengan alat tulis mereka. "Sekarang kita akan membahas tentang apa itu ilmu tauhid... Dengarkan baik- baik ya..." Jeda Ara.. "... Jadi ilmu tauhid itu... Adalah... ilmu yang mempelajari tentang sifat keesaan Allah... Di mana Allah itu satu. Dan satu- satunya Dzat yang memiliki segala kesempurnaan dan tidak ada satu pun yang bisa menggantikannya... Sehingga diharapkan setelah kita mengetahui segala ke Maha-an Allah, akan bertambah pula kecintaan kita terhadap Allah.. Gitu adik- adikku sayang..." Papar Ara. "Kak Dzat itu apa?" Tanya Melati. Gadis kecil dengan gamis pink motif bunga. "Ok. Pertanyaan yang bagus sekali... Sebelum kaka yang jawab, apa ada dari adik- adik yang mau menjawab?..." Tawar Ara. Hening... Pertanda tak ada satu pun yang mau menjawab pertanyaannya. Ara pun tersenyum. Sungguh senyuman yang sangat manis, teduh dan memancarkan ketenangan. "Ok.., Kakak yang jawab saja..." Putus Ara. Menghirup nafas panjang. "Jadi Dzat itu adalah sebutan kepada sesuatu yang sangat agung atau mulia yang tidak terikat ruang dan waktu. Tidak seperti halnya makhluk... Seperti kita, yang butuh rumah dan ada matinya..." Sambung Ara memberi jeda. Dengan senyuman yang tak kunjung pudar. "...Maka satu- satunya yang menggambarkan arti dari kata Dzat itu hanya...?" Jeda Ara memancing interaksi adik- adiknya. "Allah kaaaaak....". Jawaban serempak dari mereka. "Tepat sekali...! Wah pintar adik- adikku ini..." Sahut Ara. "Iya dong...., siapa dulu kakaknya..." Sahut Bunga. Ara lagi- lagi tersenyum. "Sekarang siapa yang hapal surat Al- ikhlas?... Angkat tangan tinggi- tinggi..." Lanjut Ara. "Akuuuuu...! Akuuuu....! Akuuuu Kak....!" lagi- lagi mereka saling berebut untuk menjawab. "Emmm... Siapa ya..." Ara memutar- mutarkan telunjuknya mencari anak yang dipilihnya untuk menjawab. "Ok.. Zainal. Silakan baca surat Al- Ikhlas..." Tunjuk Ara kemudian. "قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ (1) اَللّٰهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ ۙ وَلَمْ يُوْلَدْ(3) وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ (4)" "Bagus Zainal. Luar biasa..." Puji Ara. "Ada yang tahu artinya?" tanya Ara menelisik satu persatu muridnya. Hening. Tanda tak ada yang siap menjawab. "Ok, kita pelajari sama- sama ya.. Yang bawa Qur'an terjemahan, silakan buka surat apa tadi...?" Ara berlagak lupa, untuk memancing reaksi anak- anak. "Al- Ikhlas Kak Ara..." Jawaban serempak kembali terdengar. "Ok. Ayat pertama Bayu, tolong di bacakan..". Tunjuk Ara. "قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ (1)" Sahut Bayu "Pintar sekali Bayu.. Artinya 'Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa'. Nah.., Bahkan di ayat yang pertama sudah dapat kita temukan perintah men-tauhid-kan Allah..." Jelas Ara. "Selanjutnya ayat kedua, tolong dibaca oleeeh... Zakaria..." "اَللّٰهُ الصَّمَدُ (2)". Sahut Zakaria "Hebat Zakaria... Artinya 'Allah tempat meminta segala sesuatu'. Ada yang tahu dengan cara kita meminta kepada Allah...?" "Berdo'a kaaaak..." jawab mereka serempak. "Benar sekali... Pintar semuanya... Lanjut ayat berikutnya tolong dibacakan oleh Nisa..." "لَمْ يَلِدْ ۙ وَلَمْ يُوْلَدْ(3)" Sahut Nisa "Hebat Nisa.. Artinya '(Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan'. Jadi Allah maha Esa, satu- satunya, tidaklah punya anak dan juga orang...." Jeda Ara. "Tuaaaa...." mereka menjawab serempak. "Pinter. Ayat terakhir tolong dibacakan oleh Gina..." "وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ (4)" Sahut Gina "Hebat sekali Gina.. Ayat terakhir ini artinya 'Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia'. Ada yang tahu siapa yang di maksud 'Dia' di sini?." "Allah kak Ara..." Sambar Bunga "Benar bunga... Jadi dari surat Al- Ikhlas ini kita belajar men-tauhid-kan Allah. Bahkan mulai dari ayat pertama. Kemudian mengajarkan kita untuk selalu hanya meminta segala sesuatu hanyalah kepada Allah, melalui do'a. Karena Allah adalah satu- satunya Dzat yang Maha Kuat dan menjadi tempat bergantung bagi seluruh makhluk di seluruh jagat raya ini. Serta tidak sama atau setara dengan kita sebagai makhluk-Nya.. Mengerti sampai di sini adik- adikku?" "Mengerti Kaaaak..." jawaban serempak riuh terdengar. Ara tersenyum. "Sebenarnya banyak sekali ayat dalam Al- Qur'an tentang tauhid ini. Tapi sekarang kita bahas satu saja dulu. Yakni surat Al- Ikhlas. Yang mudah kita hapal. Pertemuan berikutnya, In Syaa Allah kita akan sama- sama belajar tentang sifat wajib Allah. Dan.. Karena Adzan sudah berkumandang, kita akhiri materi hari ini. Selanjutnya kita Shalat berjama'ah.. " Pungkas Ara. Mengakhiri pertemuan hari itu dengan do'a yang mereka baca bersama. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN