Bercengkrama Dengan Waktu

1581 Kata
Seperti biasa Ara menghabiskan waktu magrib hingga isya di pondok Al- Kahfi. Menikmati setiap detik yang berlaku di sana. Bercengkrama bersama dengan adik- adik tercintanya. "Ok... Seperti yang kakak janjikan kemarin..., hari ini kita akan belajar tentaaaang... Apa yaaaa... Ada yang ingat? Apa ya...?" Ara pura- pura lupa. "20 Sifat Wajib Allah Kak.." Celetuk Maryam. "Nah itu dia.., 20 Sifat Wajib Allah. Terima kasih banyak Maryam sudah ingatkan Kak Ara ya..". "Sifat Wajib Allah.." Ara menjeda kalimatnya. Menarik nafas panjang memenuhi rongga dadanya. "Mempelajari dan mendalami ilmu tauhid adalah kewajiban seorang muslim.., untuk apa? Ada yang tahu?" jeda Ara lagi. Mereka menggeleng kepala pelan. "Fungsinya yaitu untuk membuat dan menambah kecintaan kita kepada Allah SWT semakin besar. Sehingga di setiap detik, bahkan di setiap helaan nafas kita akan selalu mengingat Allah... Mau makan, mau minum, mau belajar, mau tidur, dan bahkan mau ke kamar mandi pun kita harus selalu ingat..., siapa Syakira?" Tanya Ara.. "Allah. Kak Ara..." Jawab anak yang di panggil Syakira itu. "Bagus.. Kita harus selalu ingat Allah. Memohon bimbingan dan perlindungan Allah setiap saat, setiap waktu dengan cara apa Dimas?" tunjuk Ara lagi. "Berdo'a Kak..." Sambung Dimas. "Ok... Ada yang sudah tahu 20 Sifat Wajib Allah? Ayo angkat tangan?" "Wujud, Qidam, Baqa' bukan Kak Ara?" tanya Fikri. "Tepat sekali, Fikri.. Ayo kita sama- sama lantunkan 20 Sifat Wajib Allah..." Ajak Ara. "Wujud, Qidam, Baqa', Mukholafatul Lilhawaditsi, Qiyamuhu Binafsihi, Wahdaniyah, Qudrat, Iradat, ‘ilmun, Hayat, Sama', Bashar, Qalam, Qadiran, Muridan, Aliman, Hayyan, Sami'an, Bashiran, Mutakalliman.." Mereka melantunkan bersama nadom yang sudah sangat mereka hapal itu. " Pintar sekali semuanya... Ada yang sudah hapal artinya? Cung, siapa yang mau jawab? Ayo angkat tangan..." "Belum tahu Kak.." Celetuk beberapa anak. "Ok. Mari kita pelajari bersama.. Yang pertama.., Wujud artinya Ada. Maksudnya, Allah adalah Dzat yang pasti ada, tidak diciptakan oleh siapapun karena tidak ada Tuhan selain Allah Ta’ala. Bukti bahwa Allah SWT itu ada adalah terciptanya alam semesta dan segala isinya... Sampai sini mengerti?" Ara memastikan penyampaiannya dimengerti. "Mengerti Kaaak..." Jawaban serempak. "Yang ke-dua, Qidam artinya Awal atau terdahulu. Maksudnya, Allah SWT adalah sang pencipta yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Tidak ada pendahulu atau yang mengawali selain Allah SWT. Allah SWT tidak diciptakan karena menjadi Dzat pertama yang mengawali semuaaa... nya..." Sambung Ara. Disambut riuh sahutan anak- anak di akhir kalimatnya. Menerbitkan senyuman bak mentari terbit di wajah manis Ara. "Yang ketiga, Baqa’ artinya Kekal. Jadi Allah itu Maha kekal, tidak akan punah dan binasa atau mati. Tidak ada akhir bagi Allah SWT". Papar Ara. "Lanjut? Atau masih ada yang tidak mengerti dari penjelasan kak Ara?" Tanya Ara pada anak- anak yang tiba- tiba saja hening mendengar penjelasannya. "Lanjut Kak Ara..." Sahut mereka serempak. "Ok, tapi kalau ada yang tidak di mengerti, jangan ragu bertanya ya..." Ujar Ara. Kembali di sambut riuh jawaban mereka. "Yang keempat Mukholafatul Lilhawaditsi artinya Berbeda dengan Makhluk Ciptaannya. Karena Allah SWT adalah yang menciptakan, maka Allah SWT sudah pasti jauh berbeda dengan makhluk-makhluk ciptaanya. Tidak ada satupun yang mampu sebanding denganNya dan mampu menyerupai keagunganNya.. " Jeda Ara. Nampa berfikir sejenak. "Contoh sederhananya gini. Rayhan menggambar sesuatu atau membuat kerajinan dari tanah liat. Apa yang dibuat Rayhan sama dengan Rayhan...?" Tanya Ara. "Tidaaaak....!" Jawab mereka. "Seperti itulah Allah, tidak serupa dengan makhluk yang diciptakan-Nya. Tentu saja Sang Pencipta lebih sempurna jutaan kali lipat dari makhluk. Dengan segala kesempurnaan yang tidak akan pernah bisa dibayangkan oleh penalaran kita sebagai manusia... Mengerti?" Papar Ara. "Faham semuanya...?" "Ok..., kalo gitu..., Kak Ara punya cerita.., siapa yang mau dengerin cerita...?" "Aku... Aku... Aku... Kak... Aku mau...!" Sahut anak- anak sangat antusias "Baiklah semuanya tenang dan dengarkan baik- baik cerita Kak Ara ya..." Lerai Ara memecah keriuhan. Perlahan keriuhan itu mermudar. "Ada yang pernah mendengar nama Luqmanul Hakim?..., coba siapa...? Angkat tangannya tinggi- tinggi..." Ujar Ara membuka kisahnya. "Ok, kalau tidak ada, tak apa... Kak Ara kali ini akan bercerita tentang salah seorang hamba Allah yang saleh, yang namanya Allah abadikan dalam Al- Qur'an..." Lanjut Ara. Wajah- wajah polos itu mulai fokus dengan cerita yang Ara sampaikan. Sungguh sangat menggemaskan di mata Ara. "Dikisahkan pada suatu hari... Luqmanul Hakim diperintahkan tuannya untuk menyembelih seekor kambing. 'Wahai Luqmanul Hakim sembelihlah seekor kambing, dan ambil bagian yang terbaik untuk jamuan tamu ku'. Kata Tuannya". Ara menirukan seolah- olah suara laki- laki dewasa. Lantas berubah kembali ke suara aslinya. Anak anak makin antusias mendengarkan. "Kemudian... Luqmanul Hakim pun menyembelihnya dan mengambil lidah dan hatinya untuk dimasak dan ia buang selebihnya kemudian disajikan kepada tuan dan para tamunya..." beberapa anak yang mulai faham kalimat Ara, nampak mengerutkan kening lucu. Mungkin mereka berfikir, membuang seluruh daging kambing itu tidak baik. Melihatnya, Ara pun terkekeh. "Kenapa Adam? Ko kayanya bingung dengar cerita Kak Ara...?" tanya Ara dengan Alis berkedut. "Kak Ara, itu semuanya beneran di buang ya..? Kata Abi kan ga boleh buang- buang makanan.. Nanti Allah marah loh.." Jawab Adam dengan gaya khas anak- anaknya. Nah Lo... "Itu kan dari ceritanya Adam sayang.., mungkin dagingnya di sisihkan untuk teman- teman yang lain...yang pasti tuan dan para tamunya hanya di beri lidah dan hatinya saja.." Sahut Ara, Adam manggut- manggut faham. "Siap lanjut lagi ceritanya...?" Tanya Ara. "...Melihat hal itu tuannya marah dan menegurnya. 'Wahai Luqman, bukankah tadi aku perintahkan kepadamu untuk mengambil daging yang terbaik untuk jamuan para tamuku?' Kata siapa tadi...?" Jeda Ara. Menirukan suara si Tuan. "Tuannyaaaaaa..." jawaban serempak yang penuh antusias. "Kemudian Luqman pun menjawab, 'Wahai tuanku, tidak ada daging yang terbaik dari makhluk, kecuali lidah dan hatinya.' Jawab Luqman". Tutur Ara, Menirukan seolah suara Luqman. "Lalu keesokan hari, tuannya memerintahkan lagi Luqman untuk menyembelih kambing. Tapi... kali ini menyuruhnya membuang daging yang paling buruk. Dan Luqman pun menyembelihnya, kemudian ia buang lidah dan hatinya dan ia masak selebihnya..." Papar Ara. Kali ini tak ada bantahan dari hadirin. Ara pun melanjutkan ceritanya. "Melihat ulah Luqman tersebut sang tuan pun kesal lalu berkata, 'Apa maksudmu wahai Luqman?! Kemarin aku perintahkan untuk menyembelih kambing dan menghidangkan daging yang terbaik dan engkau hanya menyuguhkan hati dan lidah saja. Sekarang, ketika aku menyuruh engkau untuk menyembelih kambing lagi dan memerintahkan kepadamu agar membuang daging yang terburuk lalu yang engkau buang adalah lidah dan hatinya. Apakah kamu bermaksud mempermainkan aku?!' Marah tuanya itu... " hadirin mulai nampak tegang, terbawa suasana cerita Ara. "Lalu Luqman menjawab' Maafkan hamba tuanku, akan tetapi apa yang hamba lakukan itu memang sudah sepatutnya, karena Islam mengajarkan bahwa tidak ada daging yang terbaik kecuali lidah dan hati apabila digunakan untuk kebaikan dan sebaliknya tidak ada daging terburuk kecuali lidah dan hati kalau dibuat untuk keburukan,' jawab Luqman... " Pungkas Ara. Hadirin yang tadi tegang serempak ber-'O' ria. Riuh kembali terdengar. "Ngerti maksud ceritanya gak? Ada yang bisa mengambil pelajaran dari cerita Luqmanul Hakim tadi?" Ara memastikan. "Kambingnya harus baik. Biar daging dan hatinya gak di buang..!" Sahut Zakaria penuh percaya diri. Mengundang gelak tawa hadirin. Ara pun nampaknya tidak dapat menahan tawa atas jawaban spontan Zakaria. "Ok, bagus Zakaria, berarti menyimak ceritanya.. Ada lagi yang lain mau menambahkan..?" Tanya Ara setelah menguasai tawanya. "Ok..., jadi kisah Luqmanul Hakim tadi bisa kita jadikan pedoman akan pentingnya menjaga hati dan lidah, karena keduanya merupakan bagian penting yang akan menentukan baik-buruknya seseorang. Hal tersebut cukup untuk membuat kita berpikir tentang apa yang kita katakan dan apa yang ada dalam hati kita...". Jeda Ara. "... Allah mengetahui semua yang dipikirkan dan semua rahasia hati, termasuk pikiran alam bawah sadar yang mereka sendiri tidak mengetahuinya. Allah mencatat fakta ini pada beberapa ayat dalam Alquran, seperti,'Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati.' (at-Taghaabun: 4)". Lanjut Ara. "kesimpulannya ialah, bahwa kualitas diri seseorang bisa diukur dari kemampuannya menjaga lidah. Orang- orang beriman tentu akan berhati- hati dalam menggunakan lidahnya. Lidah dalam konteks hari ini tidak selalu bermakna ucapan, melainkan tulisan kita di media sosial juga bagian dari menjaga lidah. Hari ini kita lihat bagaimana orang menulis di media sosial tanpa pikir dan pertimbangan. Cacian dan hujatan seperti tidak terperiksa. Dan lainnya.. " papar Ara. "Sebagaimana firman Allah SWT, 'Wahai orang- orang beriman takutlah kalian pada Allah dan berkatalah dengan kata- kata yang benar.” (QS Al-Ahzab:70)'. Begitu adik- adikku sayang...". Pungkas Ara. "Siapa yang tahu pekan depan kita akan menyambut bulan apa..?" tanya Ara. "Ramadhan Kak ara...". Sahut Zahra "Benar sekali Zahra. Pekan depan kita In Syaa Allah akan menyambut bulan suci Ramadhan. Kita akan melaksanakan ibadah puasa. Nah puasa inilah yang akan membantu untuk melatih menjaga hati dan lidah kita. Puasa bermakna menahan lidah serta hati adalah satu hal yang juga diutamakan. Dengan puasa, hati kita dilatih untuk tidak berprasangka buruk, iri hati, dan seluruh penyakit hati lainnya..." Papar Ara. "... Lidah kita juga dilatih untuk tidak bicara yang buruk atau yang tidak menyenangkan bagi orang lain. Oleh karena itu, marilah kita melaksanakan puasa dengan sebaik-baiknya. Nabi Muhammad SAW bersabda,'Ramadhan datang dan Ramadhan pergi, namun masih ada dosa seseorang yang belum diampuni oleh Allah.' Semoga kita tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang tersebut... " "Amiin Ya Allah Ya Rabb...." riuh terdengar mereka mengamini. "Dosa apa kak?" tanya salah satu dari mereka. "Tentu saja dosa yang disebabkan oleh lidah dan hati tadi.. Oleh karena itu mulai sekarang mari kita sama- sama belajar ucapkan yang baik- baik saja, dan hatipun tidak berprasangka buruk, iri hati, dan seluruh penyakit hati lainnya... Siapa yang mau sama- sama belajar menjaga hati dan lidah bareng kak Ara...?" "Aku... Aku... Aku..." kembali terdengar keriuahan khas bocah- bocah. Mengakhiri aktivitas mereka hari itu dengan do'a. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN