Ahik kecil kini telah menjelma menjadi pemuda tampan. Hidung mancung, mata coklat, rahang yang tegasnya dihiasi dengan bakal jambang yang terawat, d**a bidang, punggung tegap, tinggi ideal di balut sempurna kulit langsat khas Indonesia, juga jangan lupakan kecerdasan yang di karuniakan Allah padanya.
Beberapa bulan lagi ia menyelesaikan pendidikannya. Sebagai dokter dari fakultas kedokteran Al- Azhar Kairo Mesir.
"Ahik.., benar kata Umi-mu? kamu mau pulang ke Indonesia setelah selesai pendidikan mu nanti?" Tanya Abdurahman pada putra sulungnya itu.
"Ya Abuy, Ahik kangen Abah.. Dah lama juga kan kita gak ketemu langsung.. Terakhir.., emm..., pas Abah Umroh.. Itu pun sudah 3 tahun lalu, waktu Abah mampir ke sini.." Papar Ahik.
"Iya juga. Kalau kamu Nisya.. Mau.. ikut Abang...?" Tanya Rahman menggoda anak gadisnya.
"Gak mau..! Nisya mau sama Umi dan Abuy di sini..! Biar Abang sajalah yang mudik..!" jawab Nisya, mencibir.
"Ckk.. Gadis manja..!" Ejek Ahik.
"Biarin... Wllee..." Balas Nisya.
"Sudah.. Sudah Ayo makan.. Gak baik ribut seperti itu.. Ahik jangan goda adik mu terus.." Lerai Syarah. Umi mereka. Yang tengah menghidangkan sarapan di meja.
"Iya ni Abang duluan Mi..." Adu Nisya. Manja.. Memeletkan lidah setelahnya.
"Manja..." balas Ahik tanpa suara. Hanya gerakan mulut saja.
---
'Ara..., seperti apa kamu sekarang.., Abah bilang kamu jadi bagian Al Kahfi sekarang...' Lirih batin Ahik. Tanpa sadar mengulas senyum.
"Cie.. Cie.. Ada yang lagi ngelamun nie.." Goda Nisya. Gadis yang mulai beranjak remaja nampaknya memiliki hobi yang begitu menyenangkan. Apa lagi jika bukan merecoki kehidupan Abang-nya itu. Ahik tersentak dari lamunannya.
"Astagfirullah..! Nisya..! Anak kecil kamu! Ngagetin aja..!" Geram Ahik. Berlagak kesal. Mempiting leher adik kecilnya itu.
"Aaaa.... Penganiayaan... KDRT.. Umiiii... Abuy.... Abang niiii... KDRT... ketauan ngelammmpppptt!" Teriak Nisya.
"Huuss berisik bocil..! Aaa...! Sakit tau bocil! Dasar Bocil.!" Ahik membekap mulut gadis manis itu. Tak mau kalah Nisya berupaya mengigit tangan Abang tersayangnya itu.
"Rasain.. Sapa suruh KDRT sama Nisya..." gadis kecil itu terkekeh.
Perbedaan usia yang terpaut jauh antara kakak beradik ini tak mencegah keduanya untuk bergulat layaknya Tom and Jerry setiap kali mereka bertemu.
"Masya Allah... Ahik..., Nisya... Ada apa ini.." Syarah yang baru saja masuk ke kamar putranya itu dikejutkan melihat Ahik yang tengah meringis kesakitan.
"Abang ni Mi.. Abang yang mulai..." adu Nisya, memeluk Syarah.
"Ck Ck.. Kalian ini.." Syarah hanya tersenyum menyaksikan kegaduhan yang kedua anaknya ciptakan.
Ingatan Syarah menerawang ke masa 12 tahun silam.
Awal mereka tiba di tempat ini. Ahik menjadi lebih pemurung dari biasanya. Sampai saat Rahman memberi kabar pada Ahik bahwa Syarah, umi-nya tengah mengandung, barulah Ahik kembali ceria.
"Ahik nanti punya temen baru ya Abuy..?Ahik mau adiknya perempuan. Kaya Ara.." Ujar Ahik kala itu. Penuh antusias.
"Iya Ahik nanti bakal punya temen. Do'ain ya biar adek di perut Umi-nya sehat. Laki-laki atau perempuan Allah yang kasih. Kita tetap harus bersyukur ok.." Papar Rahman.
Syarah yang menyaksikan peristiwa itu tersenyum penuh haru. Rasa syukur membuncah dalam kalbunya. Setelah sekian lama, akhirnya Allah kembali memberikan kepercayaan padanya untuk mengandung.
---
"Ahik tadi Abah telpon, nanyain kamu, kapan pulang ke Indonesia katanya?" Tanya Rahman. Duduk di samping sang istri. Sementara kedua anaknya rebahan di atas karpet tebal ruang TV. Sembari asyik bercengkrama ala Tom and Jerry.
"In Syaa Allah usai hajian nanti Abuy.. Habis bulan Dzulhijah ini" Jawab Ahik mantap.
"Apa kamu sudah yakin gak mau teruskan karier di Mesir..., atau negara lain mungkin...?" Tanya Rahman.
"Gak Abuy, Ahik mau memulai dulu di Indonesia..."
"Gak mau nerusin ambil spesialis kamu Nak?" kali ini Syarah yang bertanya.
"Mau kerja dulu Mi, sambil nemenin Abah di Al Kahfi..." Ahik bangkit dari posisinya dan menyandarkan kepala di pangkuan Umi-nya. Syarah mengelus sayang rambut sehitam malam putranya itu.
"Dih manja..." Gerutu Nisya. Di balas cibiran Ahik.
"Ya sudah kalau kamu sudah mantap. Abuy dan Umi cuman bisa berdo'a yang terbaik buat kamu Nak..." Rahman menjeda kalimatnya. Menyesap teh herbalnya.
".. Kamu sudah besar, kami yakin kamu sudah pandai jaga diri. Umi dan Abuy titip Abah sama kamu... Dan..." kembali Rahman menjeda kalimatnya. Kali ini menatap sang istri penuh arti. Di jawab senyuman penuh arti pula oleh Syarah.
Seolah sinar mata itu saling bercerita tentang maksud satu sama lainnya.
"Dan..?" Ahik melirik Rahman. Penuh tanya.
"Dan... sudah waktunya kamu memikirkan pernikahan. Usia mu sudah cukup membangun rumah tangga.. Iya kan Umi..?" Rahman meminta dukungan sang istri.
"Benar kata Abuy.. Ahik.." Sahut Syarah. Yang sejak tadi mengelus rambut putranya itu.
"Dulu Abuy seumur kamu dah gendong bayi malahan.. Ya kan Umi.?"
"Iya Nak.." jawab Syarah.
"Hahahaha... Muka Abang merah..." Nisya tergelak. Merasa punya celah menggoda Abangnya itu.
Ahik melempar gemas bantal sofa yang bisa di raihnya ke arah sang adik.
Syarah dan Rahman terkekeh dengan tingkah absurd kedua permata hatinya itu.
"Awas kalo kangen sampe nangis- nangis pas Abang gak ada nanti..!" Ahik menangkis serangan balik Nisya.
"Gak mungkin..! Gak bakalan...! Gak usah GR...!" Nisya masih belum puas dengan serangan baliknya.
"Aaw..! Aaaww...! Ampun...! Ampun..!." Teriak Ahik saat serangan bantal berubah jadi serangan jari mungil yang menghujam pinggangnya..
---
'Indonesia I'm Coming...' Lirih Ahik. Tak mampu sembunyikan rona bahagianya.
Begitu pesawat yang membawanya tiba di bandara internasional Soekarno- Hatta. Jakarta.
Derap kakinya pasti, deru nafas bercampur kerinduan pada segala sesuatu tentang masa kecilnya kian memburu.
Dua belas tahun kurang lebih Ahik meninggalkan negara tercintanya. Namun tak satupun nilai yang luntur dari dadanya, begitulah Rahman mendidik putra putrinya. Bahkan Nisya yang notabene lahir di negeri piramid pun.
"Assalamualaikum..., Abaaah.....!" Teriak Ahik begitu tiba di terminal kedatangan. Persis seperti Ahik 12 tahun lalu yang rindu dan memeluk Abah-nya. Hanya saja kini terbalik. Ahik yang lebih tinggi dari Abah-nya.
"Subhanallah... Ahik.. Cucu Abah yang kasep... Akhirnya kamu pulang juga Nak..." Abah tak kalah haru memeluk tubuh jangkung itu.
"Mang Iwan.. Apa kabar Mamang?" Sapa Ahik setelah puas memeluk Abah-nya.
"Ahik ini teh...? Mamang gak salah kan? Aduuuhhh... Makin ganteng aja..." Seru Mang Iwan menepuk- nepuk punggung tubuh jangkung dalam pelukannya itu. Kini tubuh mang Iwan-lah yang tenggelam dalam kungkungan Ahik.
"Ya Allah... Rasanya baru kemarin masih setinggi ini. Sekarang malah Mamang yang kalah..." Mang Iwan mengingat tinggi Ahik yang hanya sebatas dadanya sewaktu berangkat ke Mesir dulu. Kemudian mengangkat tangannya tinggi- tinggi melewati kepalanya.
Riuh tawa ketiga mengiringi langkah menuju mobil yang akan membawa mereka ke pondok Al Kahfi.
Keriuhan terus mewarnai sepanjang perjalanan ketiga pria beda usia itu. Ada saja tema yang menjadi bahan perbincangan mereka. Mang Iwan bertanya tentang kabar Rahman, Syarah dan Nisya.
"Pokoknya rumah jadi rame sejak Nisya lahir Mang.., apalagi sekarang.." Jawab Ahik saat Mang Iwan bertanya soal Nisya.
Diam- diam Ahik mengulum senyum, menyembunyikan kebahagiaan sekaligus kerinduannya terhadap sahabat kecilnya. Mutiara Zahra Ar Rayyan.
Ah...
Apakah benar hanya rindu sebagai sahabat, atau mungkin ada rasa lain yang mulai tersemai di hatinya untuk sahabat kecilnya itu?
Entahlah...
Hanya Allah dan Ahik saja yang tahu.
* * *