Pondok Al-Kahfi...
Sebuah pondok pesantren yang di kelola keluarga Ahik. Memiliki sebuah mesjid yang menjadi pusat kegiatan mereka. Asrama putra dan putri, beberapa ruang kelas tempat mereka belajar secara indor, dan beberapa spot belajar secara outdoor. Sepetak ladang, sawah dan lokasi kandang ternak yang dikelola bersama oleh seluruh warga pondok. Gambaran sebuah pondok pesantren yang sederhana.
Mereka yang datang untuk menimba ilmu berasal dari berbagai tempat dan latar belakang. Usia mereka berkisar antara 13 tahun hingga 19 tahun. Kira- kira usia SMP hingga SMA. Sayang pondok Al-Kahfi belum memiliki jenjang sekolah formal. Sehingga para Santri mengenyam pendidikan formal di sekolah sekitar yang untungnya tak terlalu jauh dari lokasi pondok.
Namun ada pula kelompok usia di bawah 12 tahun, biasanya mereka adalah anak- anak warga sekitar. Mereka tak mondok, hanya belajar dan pulang ke rumah masing- masing begitu usai. Begitupun dengan pembimbing mereka Mutiara Zahra Ar Rayyan. Ara.
Setiap akhir pekan selalu di gelar pengajian umum. Yang dihadiri oleh warga pondok dan penduduk sekitar. Suasana khas pesedaan begitu kental terasa, ramah tamah yang tak berlebihan, juga sopan santun yang begitu menyejukan hati. Di mana di beberapa tempat semua nilai ini sudah mulai tergerus zaman.
Seorang pemuda tampan tengah mengumbar senyum manisnya. Saat ini ia tengah duduk bersandar di sebuah bangku di bawah rindangnya pepohonan, sambil netranya asyik memindai indahnya panorama pesawahan yang saat ini tengah menghijau.
Sepertinya ia kelelahan setelah berkeling menapaki tempatnya menghabiskan masa kecilnya dulu. Tak banyak yang berubah dari tempat ini. Selain pepohonan yang semakin rindang dan lokasi kandang ternak yang sedikit lebih luas.
"Di sini rupanya cucu Abah..." Sapa Buya Hamdan begitu tiba di samping cucu tampannya itu.
"Eh.. Abah.. Assalamualaikum Bah..." Ahik menoleh ke sumber suara. Lantas mencium punggung tangan Abahnya. Di hadiahi Abahnya dengan elusan sayang di rambut sehitam malamnya.
"Lusa pengajian rutin.., rencananya abah mau sekalian gelar syukuran..." Ujar Abah Hamdan. Setelah menghela nafas panjang. Menetralkan deru nafasnya setelah tadi berkeliling pondok mencari Ahik. Sepertinya di usianya sekarang hal itu cukup menguras energinya.
"Un.. tuk..?" dahi Ahik terlipat.
"Pulangnya kamu.." binar bahagia mewarnai wajah teduh yang dihiasi beberapa kerutan itu.
"Abah senang.. Ah.. Tidak.., Abah sangat bahagia sekali dengan keputusan kamu yang mau menemani Abah di sini.." lanjut Abah Hamdan.
Beberapa saat kedua pria tampan beda generasi itu larut dalam perbincangan hangat ala cucu dan kakek.
Sekilas pandangan Ahik menangkan sesosok gadis bergamis putih yang menuju dapur Asrama dengan beberapa kantong plastik di tangannya. Di ikuti beberapa Santri dan mang Iwan, dengan berbagai barang bawaan.
"Apa itu Abah..?" Tanya Ahik.
"Oh itu.., Mang Iwan baru pulang dari pasar, buat acara lusa.."
Ahik dan Abah Hamdan pun turut larut dalam kegiatan tersebut.
Beberapa saat Ahik terpaku pada sosok bergamis putih tadi. Namun tangannya tetap aktif mengestapet barang belanjaan. Hingga...
"Nak Ara.., tolong sampaikan sama Bunda, Abah pesan bolu pisang dan singkongnya masing- masing 10 loyang ya Nak.." Ujar Abah Hamdan di sela aktivitas mereka.
Deg...
Ada detak tak seperti biasanya di dalam d**a Ahik. Begitu mendapati bahwa gadis yang menarik matanya adalah gadis yang selama ini di rindukannya.
"Baik Buya.." jawab Ara.
"Abah... Nak.. Kamu cucu Abah sama seperti Ahik.. Biar lebih akrab juga kan.. Iya kan Ahik.. " Pungkas Abah Hamdan.
Deg...
Kali ini giliran Ara yang seolah tersengat aliran listrik tegangan tinggi, saat netranya mengikuti isyarat Abah Hamdan. Dan mendapati pria yang di panggil Ahik oleh Abah Hamdan itu tengah menatapnya. Lekas ia putuskan kontak mata dan pamit pulang setelah seluruh barang selesai di pindahkan.
***
"Assalamualaikum... Ayah.. Bunda..." Ara baru saja tiba di rumahnya.
"Wa'alaikum Salam warahmatullahi wabarakatuh.." Sahut pria paruh baya yang tengah berada di ruang tamu.
"Loh, mana bunda yah?" Ujar Ara seraya mencium punggung tangan ayahnya. Namun tak mendapati tanda- tanda keberadaan bunda-nya.
"Bunda lagi nganterin bolu pisang dan bolu singkong ke warung Bu RT.." jawab Rayyan seraya menyesap teh jahe hangatnya.
"O..." Ara menggigit potongan kecil bolu pisang di hadapannya.
"Assalamualaikum..." Aisyah mengintruksi percakapan ayah dan putri tersebut. Menjawab salam sang bunda bersamaan.
"Bun.. Abah pesan bolu pisang dan singkong masing- masing 10 loyang.."
"Untuk...?"
"Pengajian rutin mingguan lusa nanti.., sekalian mau ada syukuran Kecil- kecilan. Nyambut Ahik gitu katanya.."
***
"Sayang ada bahan yang harus di beli untuk pesanan besok?" Tanya Rayyan menghampiri Aisyah yang tengah asyik menyiapkan sarapan. Melingkarkan tangannya di perut sang istri.
"Mas bukannya Ucap salam. Malah ngagetin...!" protes Aisyah.
"Duh istriku ini, saking seriusnya sampe gak denger dari tadi Mas ucap salam..."
"Ara ngajar di pondok?"
"Hmm.." Gumam Rayyan menyesap aroma sang istri ditengkuknya..
"Mas Geli ih.."
Bukannya berhenti, Rayyan malah semakin menggoda istrinya.
***
Selepas sarapan Rayyan dan Aisyah bergegas menuju pasar. Ada beberapa bahan yang harus dibeli. Sementara Ara selepas mengajar, tak lantas pulang. Gadis itu bergegas menuju dapur utama Pondok membantu Bi Mae, istri Mang Iwan terkait persiapan untuk acara besok.
Tampk beberapa santriwati tengah asyik dengan aktivitas mereka.
"Assalamualaikum Bi..." sapa Ara.
"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh..." Sahut seluruh penghuni dapur serempak.
"Ada yang bisa Ara bantu?"
"Aduh jadi ngerepotin neng Ara ni..."
"Gak masalah Bi.., Ara seneng ko bisa bantu.."
"Beruntungnya yang bisa jadiin neng Ara mantu.., andai Bi Mae punya anak bujang, pasti Bibi suruh langsung lamar Neng Ara.." seloroh Bi Mae.
Ara hanya tersenyum tipis, wajahnya memerah karena godaan Bi Mae.
"Ah Bi Mae ini bisa aja.." tukasnya.
***
Hari yang dinantikan akhirnya tiba.
Masjid Al- Kahfi telah penuh berjubel, begitu pun tenda di halamannya seperti biasa antusiasme masyarakat begitu tinggi terhadap acara rutinan ini. Terlebih saat ini mereka penasaran ingin melihat langsung bocah cilik yang dulu mereka kenal, telah menjelma menjadi pemuda tampan.
Bi Mae di bantu Ara dan para santriwati di sayap kanan, begitupun Mang Iwan dan beberapa Santri di sayap kiri tengah sibuk menata meja hidangan.
Meja hidangan di bagi menjadi dua lokal di sayap kiri dan kanan mesjid. Memisahkan antara kaum adam dan hawa agar tak berbaur. Sebentar lagi acara usai dan sudah dapat di pastikan spot inilah yang akan ramai pengunjung berikutnya.
Semua sudah tertata rapi. Mulai dari menu utama, hingga camilan, telah berbaris dengan tertib di masing- masing area adam dan hawa.