Melati Tanpa Wangi 24 Terpaku, tetapi bukan kepadaku. Pekat kacamata hitam dan topi menyembunyikan sebagian wajahnya, menenggelamkan bekas luka menganga, tetapi aku tahu fokus netra kopi pekat di balik kacamata hitam itu mengarah kepada ledakan kemarahan Kang Handi. Kedatangan seorang pria kala ia sedang dilanda cemburu terhadapku, membuat Kang Handi kian kalap. Kulihat dadanya naik-turun, telunjuknya menuding pada Simon. “Jadi, dia pria itu? Berani-beraninya kamu membawa serta ke depan suamimu!” serunya murka. Aku menggelengkan kepala, belum pulih dari keterkejutan. Aku sendiri tak tahu Simon nekat datang kemari menyusulku. Entah ada keperluan mendesak atau sekedar untuk menemui Kang Handi sebagaimana yang pernah diutarakannya. “Kang, hentikan,” pintaku memelas. Aku sungguh malu,

