Takjub aku melihatnya di dapur berkutat dengan pisau dan bahan-bahan makanan sembari mengenakan apron. Aku bahkan tidak tahu pria itu bisa begitu tenang melakukannya, seolah hal itu sudah menjadi hal biasa baginya. Sehari-hari tentunya Simon selalu dilayani, mulai dari makan hingga berbagai kebutuhan lainnya. Namun, di rumah ini ia tampak lain. “Biar aku saja, Pak,” kataku, merasa tak enak. Bukan sebab ingin merasa menjadi pembantu yang baik di matanya, akan tetapi aku merasa aneh saja, di sini aku bahkan tidak melakukan apa-apa, Simon yang bekerja sendirian. Dengan cekatan pria itu memotong-motong beberapa bahan makanan, menuang margarin ke atas pan penggorengan dan menumis bumbu-bumbu, semua dilakukannya sendiri sementara aku hanya berdiri mengamati. “Tidak perlu,” katanya datar, ta

